
"Azriel ngelakuin itu semua sama kamu" tangis buna Erlin
"buna jangan salahin bang Azriel ya, salahin Aleena aja karena Aleena yang bukan siapa-siapa lancang masuk kedalam keluarga dan kehidupan bang Azriel"
"nggak, kamu anak buna sekarang, jangan pernah bilang gitu lagi ya"
"maafin Aleena buna"
"ini bukan salah kamu sayang, sekarang kita pulang ya buna anterin"
"iya buna"
Jika ditanya apakah Azriel sudah membaca surat yang Aleena tinggalkan waktu itu? jawabannya sudah beberapa bulan yang lalu dan membuat Azriel sangat frustasi karena sebenarnya ia sudah memiliki rasa untuk Aleena dan baru ia sadari setelah beberapa bulan perginya Aleena.
Ia sudah mencoba mencari namun karena terus gagal azriel memilih untuk break sesaat karena diperusahaan pun banyak sekali tugas yang membutuhkan dia.
Diperjalanan aleena memberikan alamatnya kepada buna Erlin, dan saat ini sampailah mereka disebuah kost yang berbentuk rumah walau Hanya berukuran sedang mungkin bagi sebagian orang kecil.
"kamu tinggal disini sayang"
"iya buna"
"kita pulang ke mansion aja yuk, jangan disini. disini nggak sehat buat kamu, dan kamu sendiri disini"
"nggak papa buan, lain kali Aleena main ke mansion"
__ADS_1
"oh ya buna mau mampir nggak?"
"boleh yuk"
Melihat tempat tinggal menantunya membuat buna Erlin meneteskan air matanya, baginya ini jauh dari layak meskipun masih bersih.
Tak bisa membayangkan bagaimana menjadi Aleena, sedangkan dia dulu waktu hamil sangatlah bergantung pada Restu, suaminya.
Karena adzan magrib sudah berkumandang buna Erlin berpamitan untuk pulang, ia ingin segera bercerita kepada suaminya bagaimana keadaan menantu dan calon cucunya selama ini.
Dirinya merasa gagal menjadi ibu yang baik untuk Azriel hingga putranya sebegitu tega terhadap perempuan.
Jika keadaan ini dibalik dan akan terjadi kepada Azkara pasti Azriel menjadi orang pertama yang melindunginya namun kenapa sekarang istrinya doperlakukan seperti itu.
...****************...
Banyak pelanggan yang datang silih berganti hingga dirinya, Dita, Serly dan juga Inka dibuat kuwalahan, namun ia tetap bersyukur hasil kerja kerasnya terbayar tunai.
Meski ditengah banyaknya pengunjung Aleena tetap tak berbuat lebih karena saat ini kandungannya memasuki usia minggu pertama dibulan kesembilan.
Rencana dia akan berkunjung ke mansion nanti setelah pulang dari butik.
Panggilan untuk sholat sudah berbunyi, Aleena segera bersiap untuk pulang tapi tidak dengan asisten dan juga dua karyawannya.
Sebelum pergi Aleena membeli beberapa buah-buahan dan juga snack, aleena pergi menggunakan taksi online yang ia pesan tadi sebelum keluar dari butik.
__ADS_1
Tak terasa perjalanan yang sedikit memakan waktu telah usai, kini Aleena sudah berada didepan pagar mansion Pradania.
Tak mungkin berteriak Aleena memencet bel yang sudah disediakan disana, tak lama ada salah satu art yang membukakan pagar.
"assalamualaikum mbok"
"wa'alaikumussalam MasyaaAllah mbak Leena cantik sekali sekarang"
"mbok bisa aja, oh ya buna ada mbok?"
"ada mbak, mari masuk kasian dedeknya kalau terlalu lama berdiri"
Aleena berjalan beriringan dengan art tersebut, hingga ia dapat melihat bahwa buna Erlin tengah memasak didapur.
"assalamualaikum buna, apa kabar?" sapa Aleena
"ya allah mantu buna dateng, sini-sini duduk"
"mbok lanjutin dulu ya" bisa dilihat bukan betapa senangnya buna Erlin dengan hadirnya Aleena.
"ara nggak ada bun?"
"lagi mandi, baru pulang dia"
"oh ya kapan cucu nenek periksa, biar nenek temenin"
__ADS_1
"lusa buna mungkin"
"kabarin buna ya"