Saya Pamit...

Saya Pamit...
Part 16


__ADS_3

2 minggu berlalu, Azriel belum juga pulang ke apartemen tempat tinggalnya dan Aleena. Setelah pergi dari apartemen tempo lalu Azriel mendapat pekerjaan yang mengharuskan ia keluar kota.


Hari ini Azriel berencana pulang ke apartemen dan akan mengajak Aleena ke mansion, tentunya dengan terpaksa dan sandiwara.


Sampai dilobi apartemen Azriel langsung menaiki kotak besi yang mengantarnya ke kamarnya, saat berada didepan pintu ia sedikit terheran kenapa pintu terkunci.


Apakah Aleena pergi pikirnya, namun tak ingin menerka lebih jauh ia segera membuka knop pintu yang sebelumnya sudah ia buka kuncinya.


Ruangan yang terkesan sepi itu nampak ada beberapa debu disetiap sudutnya, Jujur disini Azriel sudah merasa ada sesuatu aneh yang kurang lengkap.


Ia masuk kedalam kamarnya, dan seprai pun masih sama seperti terakhir ia meninggalkan apartemen ini.


Karena sudah merasa penasaran ia membuka lemarinya dan betapa terkejutnya melihat baju-baju milik Aleena tidak ada dan koper milik Aleena pun sudah tak ada lagi ditempatnya.


"dia kemana, apakah ini semua salahku terlalu berlebihan menyalurkan rasa kekesalan ku kepada papa dan buna?"


Masih belum peka memang Azriel terhadap perasaannya sendiri.

__ADS_1


Ditempat Aleena dia bekerja dengan riang, dia berposisi sebagai kasir, jadi tak terlalu berat untuknya yang saat ini tengah hamil muda.


Aleena memang merasakan mual dan muntah setiap paginya, bahkan ia bisa tak makan nasi setiap harinya karena selalu ditolak oleh perutnya.


Teman kerja Aleena menyambutnya dengan senang karena Aleena pun orangnya humble jadi gampang berbaur dengan lingkungan baru.


Bagi Aleena bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhannya itu sudah hal biasa karena sebelum menikah pun ia juga bekerja.


Tak ada bertukar kabar dari Azriel, karena memang keduanya tak memiliki nomor telepon pasangannya.


Wajar bila Aleena tak mempunyai nomor telepon Azriel karena dilihat dari sikap dan perilaku Azriel kepada Aleena saja sudah kurang mengenakkan.


"iya mbak, nggak terlalu cape kok ini"


"kuat ya na dedenya, mba dulu hamil rena parah banget loh na. Sampe 3 atau 4 bulan itu mba nggak bisa ngapa-ngapain bawaannya lemes gitu aja"


"alhamdulillah mbak, ini kuat banget dedenya"

__ADS_1


"oh ya na suami kamu itu sebenarnya dimana sih, kok mbak nggak pernah tau ya"


"ada mbak, kerja di jakarta dan aku pengen tinggal di malang sedangkan beliau nggak bisa ninggalin pekerjaannya" ucap Aleena dengan tersenyum, ada sedikit rasa sakit ketika dia mengingat tentang Azriel kembali


"Ketika kita LDR itu komunikasi penting banget na, pernah mbak itu ada perselisihan waktu LDR sama papanya Rena"


"emm iya mbak"


Memang saat ini mereka tengah beristirahat, meski banyak konsumen yang datang namun karena istirahatnya dibagi menjadi dua sesi lebih memudahkan untuk tetap bisa melayani dengan baik.


Waktu sore datang, Karena butik tempat kerja Aleena hanya buka sampai sore jadi aleena dapat beristirahat diwaktu malamnya atau ia membuat desain yang akan ia buat menjadi baju ataupun gaun.


Nanti bila sudah terkumpul modal yang Aleena kumpulkan saat ini, ia akan kembali ke jakarta dan membuat butik disana.


Meski nanti hanya sepetak ruko namun akan ia kembangkan dengan memberikan kualitas baik kepada konsumen hingga akhirnya butiknya berkembang.


Aleena bukan sarjana, ia hanya anak desa yang mempunyai mimpi dan juga pengalaman.

__ADS_1


Dengan pengalaman yang ia punya membuat Aleena bisa mengambil pelajaran dari setiap hal yang ada didunia bisnis.


__ADS_2