
Setelah membersihkan tubuhnya Aldebaran mondar-mandir di kamar mandi, bingung untuk melangkah ke Luar. dia masih takut membayangkan jika seandainya Nay kilaf dan benar-benar memotong kesayangannya ini.
"Jangan-jangan... Nay" refleks memegangnya, membayangkan saja aku sudah bergidik ngeri apa lagi jika itu benar-benar terjadi.
Sudah lama juga Aldebaran bersembunyi di kamar mandi.
"Tapi sedari tadi kok terdengar sepi, tidak ada suara Mami maupun Naysilla lagi" Aldebaran mencoba membuka pintu kamar mandi secara perlahan-lahan
"Kosong" segera Aldebaran berpakaian dan mengintip ke luar ruangan kamar namun tidak terlihat siapapun
"Naysilla....Mami..." teriak Al berkali-kali dan mencari tiap ruangan apartemen itu
"Kok pada menghilang" mengusap layar ponsel mencoba menghubungi Mama, yang tidak lama panggilan nya langsung terhubung
"Hallo....Mami dan Naysilla pada kemana sich" terdengar nada suara Aldebaran yang tidak sabaran
"Kami sudah sampai di Rumah" jawab Mami singkat
__ADS_1
"Rumah ....Rumah yang mana mi ? Al berfikir mamanya telah mengantarkan Naysilla pulang ke Apartemen nya
"Ya Rumah besar kita lah, apa kamu sudah Amnesia. setelah kejadian yang kamu lakukan pada Naysilla semalam" terdengar nada suara Mami yang meninggi
"Bukan...bukan begitu maksudku mi"
"Cepat pulang, Kami tunggu kamu di Rumah sekarang"
"I...iya mi" Aldebaran mengambil kunci mobil nya dan berjalan dengan langkah panjang meninggalkan Apartemen nya
Diperjalanan ponsel Aldebaran terus berdering, tanda panggilan masuk dari Jesica. namun Aldebaran selalu mengalihkan kan dan mengabaikan panggilan tersebut
"Prracckkngg ......,,
Ponsel Jessica hancur dan di injak-injak nya, untuk meluapkan kekesalan hatinya.
"Brengxxxx kamu Al" Jesica yang prustasi meremas-remas rambut panjang nya dan menangis histeris, kemudian meninju keras perutnya berharap sesuatu yang mulai tumbuh dan berkembang itu akan keluar.
__ADS_1
"Bagaimana ini... alasan apa yang harus aku katakan, aku takut jika Aldebaran tidak mengakui benih yang ku kandung ini sebagai anaknya" ucap Jesica frustasi
"Ya....aku harus mencari jalan keluar nya, Al harus mengakui anak yang aku kandung ini sebagai darah dagingnya. ayo... berfikir Jessica.... berfikir yang jernih.." sambil mondar-mandir di kamarnya
Mobil Aldebaran memasuki perkarangan luas Rumah kediaman orang tuanya. Al turun sambil terlebih dahulu mematikan ponselnya nya, agar Jesica tidak terus menghubungi nya kembali.
Al melangkah masuk, diruangan keluarga nampak papi dan mami nya, juga Naysilla yang langsung membuang muka melihat kedatangan nya. Al berjalan menuju sofa dan sengaja memilih duduk di sebelah Naysilla.
"Okey karena semua sudah berkumpul disini, papi akan memberitahukan kesepakatan yang telah mami dan papi ambil dan putuskan jika kalian berdua harus menikah"
Tersungging senyuman disudut bibir Aldebaran, karena merasa usahanya berhasil, tapi tidak dengan Naysilla yang terperanjat kaget.
"Tapi ...Kak Al adalah suami kak Jessica" ucap Naysilla ragu
"Tapi Aldebaran telah menodai mu nak, mau tidak mau kalian sore nanti harus menikah di salah satu villa kita, mami dan papi telah menugaskan para pelayan dan orang kepercayaan papi mengurus semua nya" ucap mami antusias dan melirik Al sekilas nampak terpancar Wajah bahagia, dari raut wajah putranya itu. begitupun dengan Naysilla lubuk hati nya juga sangat bahagia, bisa menikah dengan lelaki yang dicintainya.
Disebuah villa mewah kepunyaan Kakek Aldebaran, yang terletak di lokasi perbukitan kota Mexico. Naysilla diperlukan bak seorang putri, dia didandani dan dihias bak pengantin wanita Meksiko. membuat mata para tamu yang datang menyaksikan takjub, tak terkecuali sang sahabat dekat nya Lala, yang meneteskan tangis kebahagiaan nya.
__ADS_1
Proses pernikahan keduanya Aldebaran ini berjalan lancar dan khidmat, semua memanjat doa dan ucapan selamat untuk kedua pasangan yang saling mencintai itu.