
Malam ini Ricky uring-uringan, dia sama sekali tidak bisa untuk memejamkan matanya sedikit pun. bayangan wajah cantik Namira begitu lekat dan tersa begitu nyata. Namira seperti mengikuti kemanapun arah pandangan Ricky.
" Aaaagghhh, ada apa dengan ku sekarang. dimana-mana ada Namira, di kaca, kamar mandi. atas lemari, bahkan langit-langit kamar ini pun seperti melihat Namira yang bergantungan." Ricky mengusap wajahnya dan melemparkan asal guling yang tengah dipeluknya itu, karena dia seper melihat Namira kembali.
Ricky berjalan menuju balkon, sambil membawa sebungkus rokok, karena hal inilah yang bisa membantu nya. dikala merasakan pikiran nya yang tengah kalut dan galau.
Ricky menghisap dalam rokok, dan mengembuskan sehingga membentuk gumpalan asap, yang mengelilingi tempat duduknya. dengan begini rasa jalurnya sedikit berkurang.
"Apa sebaiknya aku menghungi gadis itu, pura-pura nanya kabar atau apalah. yang penting aku bisa mendengar suara nya."
Ricky mengusap layar monitor ponselnya, dan mendial panggilan " "Bidadari surgaku" nama yang ditulis dalam kontaknya, entah apa yang membuatnya Ricky. memberikan julukan itu pada Namira. yang jelas dia sangat menyukai julukan itu.
"Tuuuuttttt....,, Tuuuuttttt....,, panggilan ketiga langsung terhubung.
"Hallo assalamualaikum...,. Terdengar suara Namira yang lembut, membuat Ricky terdiam, mulut nya seakan terkunci rapat. keberanian yang sering dia tunjukkan pada para karyawan, selaku asisten pribadi seorang CEO, seolah-olah hilang.
Namira kembali mengulang ucapan nya, karena tidak mendengar suara Arka yang menghubungi nya itu. namun masih tidak ada jawaban. akirnya Namira merijeck panggilan itu, karena merasa Ricky mungkin tidak sengaja atau salah sambung.
__ADS_1
"Di rijeck lagi.!" gumam Ricky dan kembali melakukan panggilan, kali ini panggilan Vidio, Ricky ingin sekali melihat wajah cantik Namira.
"Hallo assalamualaikum" ucap Ricky, ketika Namira mengangkat panggilan video nya, kali ini.
"Waalaikumsalam, AAaaaaaa, pa-apa an sih mas Ricky." Namira mengalihkan kamera ponselnya ke langit-langit kamar.
"Maksud mu, aku kenapa ?" Ricky bingung, merasa dia tidak melakukan kesalahan.
"Ngapain menghubungi ku malam-malam begini, telanjang lagi, mau pamer body ya.!" terdengar suara Namira.
"Maaf aku lupa, beginilah penampilanku jika akan tidur, sebentar aku ambil pakaian ku dulu." Ricky kembali mengunakan kaos oblong yang sempat dikenakannya tadi.
"Okey kamu tidak perlu, menutup kameramu lagi, aku sudah berpakaian sekarang.!" ucap Ricky.
Namira kembali mengambil ponselnya, dan berniat melanjutkan obrolannya. namun dia kembali berteriak.
"Dasar mesum, kamu cuma pakai baju tapi yang dibawah masih nonggol." teriak Namira sambil menutup panggilan
__ADS_1
Ricky kembali melirik kebawah.
"Dasar si otong, ikutan nonggol juga." Ricky memukul pelan benda pusaka nya itu, entah kenapa setiap memikirkan Namira, atau menghubungi gadis itu, siotongnya ikutan bangun.
Ricky benar-benar memperhatikan penampilannya, dia mengatakan!bila sebuah baju Koko dan peci, serta sarung. dan kembali menghungi Namira.
"Lihatlah penampilan ku sekarang, sudah seperti usatad idamanmu kan.!" ucap Ricky.
Namun Namira tertawa lepas, dia tidak mampu mengendalikan dirinya. melihat penampilan Ricky yang terlihat sangat lucu.
"Ini mah bukan seperti ustad, melainkan bayi besar ingin disunat massal." ucap Namira disela tawanya.
Dengan perasaan jengkel Ricky, melepas pecinya.
"Ya udah, kita mulai ngobrol aja ya, aku capek penampilan ku yang terbaik pun masih salah." ucap Ricky.
"Ya...maaf deh," balas Namira. yang sesungguhnya memiliki perasaan yang sama dengan Ricky.
__ADS_1