
Namira, bingung harus menjawab apa. sementara dia juga belum merasa yakin akan perasaannya sendiri terhadap Ricky maupun Jonathan.
"Maaf, maafkan aku. untuk saat ini aku belum bisa menjawab dan menetapkan pilihanku, semua ini terasa begitu cepat dan tiba-tiba. tolong beri aku waktu." Nada suara Namira bergetar.
"Okey, aku mengerti dengan kebimbangan yang kamu rasakan, mengingat pertemuan kita juga masih dalam hitung bulan. kita masih mempunyai banyak waktu untuk saling mengenali pribadi masing-masing. tapi sebelum itu, aku ingin tahu sedikit banyak perasaan yang kamu rasakan terhadapku. dengan menentukan pilihan dengan mengambil salah satu benda yang ada ditanganku ini." ucap Ricky dengan pandangan mata tidak lepas dari wajah cantik Namira.
Namira, memejamkan mata. mencoba menerawang perasaannya sendiri. termasuk terhadap Jo.
"Bagaimana ini, kedua orang itu sama-sama baik. Jo telah banyak membantu ku dulu, serta telah mengembalikan rumahku. dan dia juga cinta pertamaku.
Namun sekarang, aku juga merasakan kenyamanan bathin. jika bersama dengan Ricky. ya Allah saat ini aku benar-benar bimbang dengan pilihan ku." bathin Namira
Tanpa sadar, tangan Namira mengambil cincin dan Bunga yang dipegang Ricky. membuat laki-laki itu tersenyum lepas. karena secara tidak langsung, dia mengetahui perasaan Namira terhadap nya.
"Terimakasih, Namira." ucap Ricky.
Namira tersadar, perlahan dia membuka matanya. menatap tangannya yang telah memegang Bunga dan cicin berlian itu.
__ADS_1
"Namira, sikap mu ini telah menunjukkan perasaan mu yang sesungguhnya terhadapku. tapi untuk sementara ini aku akan tetap menunggu keputusan mu yang sesungguhnya." tangan Ricky menarik tangan Namira, mereka menuju sofa yang terdapat di sudut ruangan itu.
Ricky menyelipkan langsung. cicin berlian pemberian nya itu dijemari gadis itu, karena melihat reaksi Namira yang ingin mengembalikan cicin itu lagi ke tangan Ricky. sambil menatap cicin berlian yang benar-benar pas dan melekat sempurna.
"Namira, bibirmu boleh mengatakan tidak. tapi sikap dan perasaan mu berkata jujur dengan apa yang tengah kamu rasakan." ucap Ricky
"Kakak aku datang.!" terdengar suara lantang Anabel yang baru pulang sekolah, karena lokasi tempat belajar nya berdekatan dengan lokasi kafe. jadi gadis kecil itu tidak perlu untuk dijemput antar lagi.
"Hallo Anabel cantik, bagaimana kondisinya udah sehat teruskan sekarang.?" tanya Ricky
"Tentu dong kak.!"
Gadis kecil itu mengangguk, sambil menikmati coklat kesukaan nya. yang merupakan buah tangan yang sengaja dibelikan Ricky. khusus untuk Anabel.
"Kak Namira mau coklat juga,?" Anabel menyodorkan sebagian pada kakaknya.
"Buat kamu saja dek, kebetulan kakak sudah kenyang." membelai rambut panjang adiknya itu.
__ADS_1
Anabel menatap Ricky dan kakaknya secara bergantian, karena merasa aneh melihat keduanya yang terlihat canggung. ditambah lagi mata Anabel tiba-tiba membulat saat melihat cicin berlian yang melekat begitu indah dan sempurna dijemari manis sang kakak.
"Kakak cincin ini bagus banget.!" Anabel spontan mengangkat jemari Namira.
"Ini...ini..cicin mas Ricky dek, dia menjamin dulu ke kakak." bisik Namira ketelinga Anabel.
"Benarkah itu kak Ricky, tapi Anabel kok ngak dipinjamkan juga." memasang wajah imutnya menatap Ricky, sementara muka Namira langsung memerah menahan malu, saat mendengar permintaan polos adiknya itu.
"Anabel mau juga ya, cincin seperti yang kak Namira pakai.?" tanya Ricky.
"Tentu kak," jawab Anabel antusias.
"Mas Ricky, jangan diambil hati perkataan Anabel. dia memang suka asal bicara'." menatap Anabel, dengan bahasa isyarat jangan.
Anabel seketika paham.
"Kak Ricky, Anabel cuma bercanda kok. sebenarnya Anabel tidak suka cincin."
__ADS_1
"Duh, sayang sekali ya. kalau Anabel tidak suka. padahal kak Ricky udah pesan satu lagi buat Anabel." ucap Ricky sambil mengedipkan sebelah matanya pada Namira, saat secara tidak sengaja pandangan mata mereka bertemu.