
Gadis cantik itu kembali menangis, dia sangat kebingungan untuk mencari uang untuk biaya operasi adiknya yang berumur tujuh tahun itu, semenjak kedua orang tua nya meninggal, Namira terpaksa membatalkan Niatnya untuk kuliah, dan bekerja sebagai pelayan restoran. dengan gaji yang tidak seberapa hanya cukup untuk biaya kebutuhan sehari-hari.
Namira mengayunkan langkah, bibi Murti adalah anggota keluarga satu-satunya yang dimiliki nya di kota ini. Namira berharap sekali untuk kali ini bibinya itu mau berbaik hati untuk membantu nya memberikan sedikit belas kasihan untuk membantu biaya pengobatan Anabel, yang sekarang terbaring lemah dirumah sakit.
Sampai dirumah bibi Murti, nam merasa kedua kalinya pegal karena menempuh perjalanan jauh dengan jalan kaki untuk menghemat uang yang tinggal tidak seberapa.
"Assalamualaikum bibi...,,
Nampak bibi Murti membuka kan sedikit pintu, tanpa mempersilakan Namira untuk masuk.
"Ada apa Namira, kamu mau pinjam uang lagi.., percuma karena bibi tidak akan memberikan nya lagi. yang kemaren saja belum kamu bayar" ucap bi Murti meninggikan nada suara nya
"Bibi Namira butuh sekali untuk biaya operasi Anabel, jika tidak kondisi nya semakin memburuk. aku takut terjadi sesuatu padanya bi"
" Tidak Namira, bibi juga sekarang juga sedang butuh uang, ini seratus ribu uang yang bisa bibi bantu, sekarang pergilah temani adikmu" menutup pintu kembali
Dengan yang gemetar Namira mengambil uang itu
"Terimakasih bibi" sambil menyeret langkahnya
__ADS_1
"Sebaiknya aku berjalan kaki saja, paling tidak uang ini cukup untuk menebus obat Anabel "
Namira kecapean sekali dan kehausan, dia duduk terhenyak di kursi taman rumah sakit sambil menangis.
"Ya Allah....tolong kuatkan kan hamba, rasanya aku tidak sanggup lagi memikul beban ini"
Tiba-tiba ponsel jadul, itu berdering nampak panggilan dari dokter yang menangani Anabel. dengan tergesa-gesa Namira berjalan memasuki ruangan dokter itu
Nampak tatapan dokter Rian yang begitu lekat
"Namira sudah berapa kali aku katakan, jika adikmu harus segera melakukan operasi, jika tidak nyawanya tidak bisa tertolong lagi" ucap dokter
"Bagaimana apa kamu mendapatkan nya ?"
"Belum dokter, tapi saya akan usaha kan secepatnya"
"Ingat Namira, Anabel tidak bisa bertahan lama jika operasi tidak segera dilakukan"
"Iya dokter"
__ADS_1
Namira kembali menangis dan kebingungan, kemana dia harus mencari uang yang jumlahnya tidak sedikit itu, sementara yang dia punya hanya seratus tujuh puluh enam ribu, itupun sudah termasuk pemberian bibi Murti.
"Apa aku harus menempuh jalan yang tidak engkau ridho ya Alloh, karena saat ini aku tidak mempunyai pilihan lain"
Namira menatap wajah Anabel, sambil memaksakan senyumnya....
"Kakak Anabel tahu jika kakak tidak mempunyai uang, sebaiknya kita kembali pulang ya kak. Anabel sudah sehat kok" ucap Anabel terdengar pelan dalam kondisi nya yang terbaring lemah. dengan bantuan selang oksigen dan infus.
"Tidak sayang, kamu harus sembuh" bujuk Namira mengelus kepala adiknya itu
"Kakak sudah makan ?" karena bunyi perut Namira terdengar oleh Anabel
"Su.... sudah sayang" mengelus perutnya yang terasa begitu lapar
Seorang ibu penghuni kamar lain menatap iba kedua adik kakak itu, dan mengambil makanan dan minuman yang dimilikinya, dan berjalan menuju Namira
"Nak ini ibu punya sedikit makanan, kamu makan ya !"
Namira menerima dengan senang hati
__ADS_1
"Terimakasih ya Bu" dan memakannya karena Namira belum makan apa pun dari semalam sampai sore begini, karena terlalu sibuk mencari uang untuk biaya pengobatan operasi Anabel.