
Namira memperhatikan kembali chat masuk dari Jonathan, yang meminta Namira untuk menemuinya malam ini disalah satu Restoran Jepang yang sangat mewah, bagi ukuran orang seperti Namira. yang selalu mengutamakan kesederhanaan.
"Yah, sebaiknya aku harus menemui Jonathan, paling tidak untuk kali ini. sebagai ucapan terimakasihku, karena orang tuanya telah mengembalikan kembali rumah orang tuaku, yang begitu banyak menyimpan kenangan indah. bersama ayah dan ibu, serta Anabel ketika masih bayi."
Namira bersiap untuk pergi, dan berpesan pada salah seorang pelayan kafe untuk menjaga Anabel sampai dia kembali lagi ke kafe menjemput nanti. khusus malam Minggu Namira akan menutup kafe sampai jam sepuluh malam. pelayan yang bernama Rani itu, mengangguk pelan sambil menatap punggung Namira yang berlalu menuju taxi online yang telah dipesannya.
"Semoga saja mbak Namira bisa menemukan laki-laki yang tepat untuk menjadi imamnya nanti." bathin Rani.
Taxi Online, berhenti tepat di pintu masuk Restoran. nampak seorang pelayan yang berpakaian rapi menyongsong kedatangan Namira, sambil menundukkan sedikit tubuhnya.
"Selamat datang Nona, silahkan masuk." ucap pelayan itu, sambil merentangkan sebelah tangannya seakan mempersilakan untuk masuk kedalam.
"Terimakasih" balas Namira, matanya tidak lepas memperhatikan suasana Restoran yang terlihat sepi.
Pelayan itu, seakan paham dengan apa yang tengah dipikirkan oleh gadis berhijab itu.
__ADS_1
"Nona, kamu adalah tamu spesial kami untuk hari ini. didalam ruangan khusus itu sudah ada seseorang yang sedang menunggu kedatangan anda." mengarahkan pandangan Namira.
Namira berjalan pelan menuju ruangan yang dupimaksud, dan membuka pintu penutup nya. namun ruangan itu terlihat gelap tanpa cahaya. Namira ingin terbalik arah, dan membatalkan niatnya untuk melanjutkan langkah kakinya memasuki ruangan tersebut.
"Masuklah Namira, aku menunggumu." terdengar Suara Jonathan.
Lampu menyala, namun hanya menyoroti tubuh Namira. lampu itu seakan mengiring langkah kaki Namira, menginjak mawar merah yang seakan menjadi karpet untuknya melangkah mengikuti arah cahaya lampu yang menyoroti nya itu.
Mata Namira menatap takjub, bunga mawar merah dibentuk menyerupai hati. yang bertuliskan " I Love You " dikelilingi lilin kecil. ditengah keterangan Namira. Jonathan tiba-tiba telah berdiri dengan sebelah kakinya ditekuk dilantai.
Namira, benar-benar bingung harus bagaimana. dia diperlakukan istimewa oleh dua orang laki-laki berbeda. sama-sama baik dan keduanya mempunyai tempat tersendiri dihatinya.
Namira menerima Bunga pemberian Jo, dia mendapatkan perlakuan sama, dengan apa yang pernah Namira impikan dulu, sewaktu masih disekolah yang sama dengan Jonathan. dan Jo juga masih mengingat bunga dan warna kesayangan Namira.
Jo kembali mengulurkan tangannya, mengajak Namira untuk berjalan menatap keluar Restoran. mereka berdua menatap ke udara. saat sebuah kembang api meledak menyinari langit yang dipenuhi bintang. kembang api yang berkilauan dan berwarna-warni itu membetuk kata-kata yang indah.
__ADS_1
..."Will You Marry Me Namira"...
Namira menutup mulutnya, dia seperti merasa mimpi mendapatkan perlakuan yang benar-benar istimewa dari Jonathan.
"Ini pasti hanya mimpiku,"
Namira menutup lama matanya, berharap saat dia membuka matanya nanti. dia sudah terjaga dari mimpinya ini. namun semakin dia berusaha, semakin kuat dorongan dalam dirinya untuk membuka kembali matanya.
Namira kembali dibuat kaget, saat lampu ruangan itu menyala sempurna. karena melihat bukan dia berdua saja dalam ruangan itu, namun kedua orang tua Jonathan, beberapa pelayan kafenya. termasuk Anabel adiknya.
"Kakak" Anabel berlari memeluk Namira.
Melihat wajah Namira yang kebingungan, Jo tersenyum.
"Maaf sebelumnya Namira, semua ini adalah ideku. aku ingin melamarmu dihadapan semua orang yang disini. termasuk kedua orang tuaku dan adikmu Anabel. aku ingin kamu menjadi istriku. Namira maukah kamu menikah dengan ku." ucap Jo sambil mengeluarkan sebuah cincin yang permata yang sangat indah.
__ADS_1
Tubuh Namira bergetar, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, semua seperti berputar-putar. Namira memegang pelipisnya dengan sebelah tangan. hingga akhirnya semua terlihat kecil dan gelap. Namira pingsan dengan sempurna. mengabaikan pangila orang-orang yang mengelilingi tubuhnya.