
Beberapa hari dirawat di rumah sakit, Naysila sudah diperbolehkan untuk pulang kerumah. Aldebaran merupakan seorang suami dan ayah yang siap siaga. dia sangat memperhatikan Naysila dan bayi mungil mereka. yang diberi nama Alberto Mortheganza. oleh sang Opa yang mempunyai darah Mexico.
Bayi kecil itu, tertidur sangat pulas dalam dekapan sang mami. Naysila mengelus-elus pelan pipi putra nya itu dengan jemari. membuat bayinya menggeliat geli, sambil mengerucutkan bibir imutnya, dengan mata yang masih terpejam.
"Duuuh...,, lucu nya anak mami." membuat Naysila tidak tahan untuk menciumi kedua pipinya.
Aldebaran yang duduk disisi ranjang Naysila, mencoba mengambil alih bayi mereka.
"Sayang, gantian ya. kayaknya Albert pengen sama papinya. lihat tuh wajahnya sudah pengen nangis gitu." ucap Al sambil mengulurkan tangannya.
Mami yang baru masuk keruangan itu langsung bersuara.
"E eee...,, cucu mami jangan direbutin gitu." ucap mami berdiri di sebelah Al, yang tengah asyik menimang-nimang Albert kecil.
"Liat deh mi, tingkahnya. Alber itu tidak tidur. buktinya jika gerakan tangan Al terhenti. dia akan membuka matanya perlahan. dan jika digerakkan kembali dia akan memejamkan matanya." ucap Aldebaran tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Al, putra kecil mu ini. mirip banget dengan wajahmu ketika masih bayi." mami menerawang, membayangkan masa-masa dia menjadi seorang ibu. merawat dan mengurus Aldebaran sendiri. tinggal jauh di negeri orang Negara Mexico.
"Benar begitu mi.?" Naysila ikut bersuara
"Ya, tentu dong. karena Albert putraku." jawab Aldebaran
Dokter memasuki ruangan Naysila, diikuti dua orang perawat wanita yang berjalan dibelakang nya. dokter langsung memeriksa kondisi Naysila dan putra nya.
"Syukurlah, kondisi Nyonya Naysila sudah membaik. dan sudah diperbolehkan untuk pulang hari ini." ucap dokter
Pancaran kebahagiaan terlihat dari wajah Naysila. karena dia sudah mulai merasa bosan dirumah sakit, Naysila paling tidak tahan dengan aroma bau obat-obatan. entah trauma apa yang membuatnya seperti itu. yang jelas dia lebih menyukai suasana rumh yang tenang dan nyaman.
"Silahkan pak, jika begitu saya permisi dulu. karena masih banyak pasien yang harus saya periksa" ucap dokter.
Setelah semua beres, mami mengambil alih untuk menggendong Albert, sementara Aldebaran membantu mendorong kursi roda yang digunakan Naysila menuju mobil mereka. untuk barang-barang Naysila. dibawakan oleh sopir dan seorang pengasuh wanita.
__ADS_1
"Hati-hati sayang." Al membantu memapah tubuh Nay memasuki mobil.
"Iy kak, Nay bisa sendiri kok".
Namun Aldebaran tidak mau melepaskan tangannya ditubuh Naysila, dia masih merasa khawatir dengan istri kecilnya itu. dan duduk disebelah Nay. sedangkan Alber masih tidur pulas selama perjalanan menuju pulang.
"Cucu Opa kok tidur terus ya.!" goda Opa
"Tentu dong Pi, dimana-mana kalau bayi itu. memang kerjaannya tidur Mulu. paling bangunan dan menangisnya pas waktu mau Mimi saja. atau saat dia buang air kecil maupun besar." ucap mami sambil menggerak-gerakkan pelan tangannya.
Mobil telah memasuki halaman luas, para pelayan terlihat mulai sibuk menyambut Tuan muda kedua mereka setelah Aldebaran. mereka langsung mengucapkan selamat. saat melihat Naysila hendak berjalan masuk kerumah.
Naysila tersenyum ramah, menerima ucapan selamat dari mereka. kejutan pun juga sudah siap. saat Nay memasuki kamar bayi mereka. ternyata sudah didesain secantik dan seindah mungkin.
"Sayang ini semua pasti idemu ya.?" ucap Naysila melirik Aldebaran
__ADS_1
"Gimana sayang, apa kamu menyukainya.?"
"Suka sekali, ya kan anak mami" kembali mencium lembut pipi Albert.