Second Husband

Second Husband
Episode 36


__ADS_3

Sebuah pelataran rumah yang ditumbuhi pepohonan rindang. Bunga-bunga yang bermekaran juga menambah indah. Bersih, asri dan udara yang sejuk dan segar. Itulah rumah keluarga Damien. Rumah dengan tiga lantai dan memiliki banyak kenangan indah.


Jehan memandangi rumah yang sudah hampir dua tahun ia tinggalkan. Rumah dimana dia, Jhon dan Ibunya memulai hidup baru tanpa embel-embel keluarga Dargo. Rumah yang akhirnya mereka pilih untuk hidup tanpa sosok Ayah yang selama ini bersamanya.


" Ibu, aku sangat merindukan rumah ini. " Jehan tersenyum menatap Ibunya dengan mata yang berkaca-kaca. Ibu tersenyum lalu meraih pipi Jehan dam mengelusnya pelan. Tentu dia sangat tahu apa yang sebenarnya Jehan Maksud. Bukan rumah ini, melainkan Ayahnya. Dia begitu merindukan Ayahnya hingga berpura-pura pergi ke luar negeri dengan alasan untuk meneruskan Sarjana nya disana. Baik Jhon dan Ibu Sofia tentu tahu kalau Jehan pergi mencari Ayahnya disana. Kondisi yang tidak mendukung membuat Jehan betah menatap disana sembari terus mencari keberadaan Ayahnya sembari melanjutkan pendidikannya.


" Ibu tahu. " Ibu meraih tangan Jehan dan menuntunnya untuk masuk kedalam. Sudah ada Jhon dan Elia yang menyambut mereka di pintu utama.


Jhon tersenyum menatap kedatangan Jehan. Adik kecil yang dulu begitu manja dan pemilih.


" Selamat datang kembali. "


Jehan mendesah sebal lalu melewati begitu saja Jhon dan Elia.


" Tidak usah dipikirkan ya? Jehan hanya sebal karena kakaknya tidak ikut menjemput. " Ucap Ibu sembari mengusap lengan Elia.


" Iya, Ibu. "


Ibu Sofia kembali melangkahkan kaki mengikuti Jehan yang berjalan menuju kamarnya. Sementara Elia menatap kepergian Ibu mertua dan adik iparnya begitu saja. Padahal dia ingin sekali menyapa atau bertanya beberapa pertanyaan kepada Jehan. Seperti bertanya kabar, atau keadaan, atau mungkin setelah itu dia akan menyiapkan makan untuknya. Tapi sepertinya tidak semudah yang dibayangkan Elia.


Jhon yang melihat ekspresi wajah istrinya hanya bisa tersenyum sembari menggeleng heran. Jhon meraih pinggang istrinya lalu memberikan kecupan di pipinya.


" Jangan berpikir macam-macam. Ayo kembali ke kamar. "


Elia mengeryit lalu lalu menahan tangan Jhon yang sudah menariknya agar mengikuti langkah kakinya.


" Ada apa? " Tanya Jhon setelah membalikkan badan untuk menatap Elia.


" Kenapa harus ke kamar? "


Jhon menghela nafas lalu menarik tangan Elia ahar tubuh mereka menempel. Jhon tersenyum lalu mengusap pipi Elia lembut. Dia tahu benar saat ini Elia tengah merasa tida nyaman dengan keadaan ini. Jehan adalah adik yang sangat ia pahami wataknya. Tapi Elia yang belum mengenal Jehan tentu saja merasa tidak nyaman dengan sikap cuek Jehan.


" Ke kamar saja dulu. Aku tidak akan melakukan apa-apa kok. Terkecuali kau mengajakku melakukan yang seperti tadi. " Jhon tersenyum di akhir kalimat agar membuat suasana hati istrinya sedikit membaik.

__ADS_1


Elia tersenyum lalu mencubit lengan Jhon. Elia mengalungkan lengannya di leher Jhon lalu mengecup singkat bibir Jhon. Mungkin Jhon mengira kalau Elia tidak tahu jika Jhon tengah menghiburnya. Tapi ini memang benar-benar berhasil. Elia sudah lebih baik dan tidak lagi memikirkan hatinya yang beberapa waktu lalu tidak nyaman.


" Jhon, kenapa kau begitu mesum akhir-akhir ini? " Tanya Elia masih dengan posisi memeluk tengkuk Jhon.


" Karena kau yang menggoda ku duluan. "


Elia mengeryit lalu menjauhkan dirinya.


" Aku? aku tidak pernah melakukan hal seperti itu. "


" Kau selalu terlihat cantik, senyummu sangat manis, bagaimana mungkin aku tidak tergoda? "


Elia menghela nafasnya lalu membalikkan tubuh Jhon dan mendorongnya maju menuju kamar mereka. Entah bagaimana Jhon bisa berubah seperti ini. Dari hari ke hari dia semakin mesum dan pintar sekali menggoda.


Tidak ada lagi aktivitas yang dilakukan semua orang karena ini sudah pukul dua puluh dua malam. Semua tidur untuk menyabut hari esok. Begitu juga dengan Jehan yang langsung tertidur karena tubuhnya yang terasa begitu lelah.


Tida ada aktivitas panas yang terjadi malam ini, karena Ive sedikit rewel dan akhirnya Elia membawa Ive untuk tidur di tengah-tengah mereka. Tidak terlihat keberatan, Jhon dengan telaten mengajak Ive untuk bercanda meski Ive sendiri tida mengerti apa yang dilakukan Jhon. Bayi cantik itu hanya menggeliat, menjulurkan lidah, laku tersenyum saat Jhon mengajak nya berbicara. Semua itu benar-benar menjadi kebahagiaan yang luar biasa bagi Elia. Tidak mudah memang menemukan suami seperti Jhon. Maka dari itu, Elia berniat menjadikan Jhon pria terakhir di dalam hidupnya. Entah seberapa banyak dia harus berjuang suatu hari nanti. Tapi yang paling penting, dia akan tetap bertahan dan mengabdikan hidupnya untuk Jhon seorang.


" Jhon tidurlah. Ini sudah malam. Besok kau harus bekerja kan? "


" Jhon? " Panggil Elia lagi karena tak mendapat jawaban dari Jhon.


" Elia... "


" Em? "


Jhon bangkit lalu mengangkat Ive dan meletakkan Ive di gendongannya. Jhon meraih tangan Elia dan menggenggamnya erat.


" Elia, kau butuh lebih kuat lagi dari sekarang. Sebentar lagi kita akan menghadapi kemarahan Dargo. Jadi bersiaplah dan jangan mudah goyah. "


" Kemarahan Dargo? " Elia menatap Jhon dengan tatapan bingung.


" Mungkin puncaknya akan datang pada dua atau tiga tahun lagi. Tapi untuk menuju tahun itu, kau juga harus mempersiapkan diri, Elia. "

__ADS_1


Elia mengangguk. Saat ini dia memang tidak begitu memahami detailnya. Tapi dia akan melakukan apa gang Jhon katakan. Karena di tahu, hanya Jhon satu-satunya orang yang dia pasrahkan untuk menitipkan nasibnya.


" Aku siap, Jhon. Tapi berjanjilah kau tidak akan meninggalkan ku. "


Jhon terkekeh mendengar permintaan aneh Elia.


Pagi Hari.


Semua sudah bersiap di meja makan. Tak ada yang berbicara saat makan karena itu adalah larangan utama di saat makan. Elia yang selalu mengingat ucapan Jhon akhirnya perlahan mulai bisa mengontrol hatinya agar tak mudah merasa kacau. Sementara Jehan, gadis itu masih saja diam tak menjawab saat Elia dan Jhon menyapanya.


" Jhon kau tetap akan bekerja? " Tanya Ibu yang sebanarnya merasa keberatan. Maklum saja, I u Sofia berharap Jhon akan menghabiskan waktu bersama keluarga dan adiknya yang hampir dua tahun tidak bertemu.


" Iya mau bagaimana lagi? adikku mengabaikan ku, Bu. Jadi mau tidak mau ya menunggu kesalnya hilang. "


Jehan membanting sendok yang tadi ia gunakan untuk menyendok makanannya. Jelas sekali rasa kesal dan marahnya yang masih saja belum sirna.


" Nyonya, maaf mengganggu. Tapi Ive sangat rewel, Nyonya. Mungkin dia lapar. "


Elia langsung meletakkan sendok dan garpu nya, lalu dengan cepat dia meraih tubuh Ive.


" Biar aku saja. " Jhon ikut bangkit karena merasa kasihan melihat makanan Elia yang baru beberapa suap masuk kedalam perutnya.


" Jangan! kau harus bekerja kan? makan lah. Biar aku yang mengurus Ive. Lagi pula dia ingin meminum ASI. Memang kau mau memberinya ASI? "


Jhon menggaruk tengkuknya.


" Duduklah disini. Aku akan menyuapi mu. "


" Tapi, "


" Kenapa? aku kan sudah lihat semuanya. "


Jadilah Elia mengikuti titah Jhon yang sudah pasti tidak bisa dibantah. Elia menyusui Ive, dan Jhon menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dan mulut Elia bergantian.

__ADS_1


TBC


__ADS_2