
Setelah mendengar pekikan dari Elia, para pelayan yang berada di ruangan sebelah akhirnya berlari menuju ke ruang tamu. Tentulah mereka kaget melihat majikannya berada di lantai sembari memegangi perutnya.
" Nyonya! " Teriak salah satu pelayan itu langsung berlari ke arah Elia. Dengan sigap pelayan yang lainya menghubungi Jhon dan sopir yang berada di luar untuk menyiapkan mobil.
" Nyonya ayo kita kerumah sakit. " Ajak salah satu pelayan sembari membantu Elia untuk bangkit. Setelah satu lagi pelayan datang, dia juga ikut memapah Elia dan membawanya ke depan karena mobil sudah berada di sana sekarang.
Lusiana benar-benar kebingungan melihat para pelayan yang memperlakukan Elia seperti seseorang yang sangat agung. Padahal hanya jatuh begitu saja, apa perlu berlebihan seperti itu cara mereka menolong? kenapa juga sampai harus ke rumah sakit? batin Lusiana yang memang tidak tahu jika Elia sedang mengandung.
***
Jhon yang baru saja melintasi resepsionis, terpaksa kembali keluar dan menuju rumah sakit setelah menerima panggilan telepon dari rumahnya. Padahal baru saja Zila begitu bahagia melihat kehadiran Jhon setelah beberapa jam menunggumu. Kini Zila hanya bisa menghela nafas sebal karena Jhon sudah pergi lagi sebelum ia sempat menyapanya.
" Mau kemana lagi sih? padahal aku sudah menunggunya dari pagi? apa dia tidak tahu ya kalau aku ada di sini? Huh...! dia memang orang sibuk, aku harus bersabar dan kembali lagi nanti. " Ujar Zila menenangkan dirinya sendiri.
Sementara Jhon tanpa sopir langsung tancap gas menuju ke rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Sudah masa bodoh dengan keselamatan. Karena yang ada di otaknya adalah rasa takut kehilangan Elia dan juga calon anak mereka.
Beberapa saat kemudian, sampailah Jhon di rumah sakit dimana Elia sudah mendapatkan perawatan. Jhon berlari mencari bangsal Elia dengan wajah paniknya.
" Dimana istriku? " Tanya Jhon kepada dua pelayan yang membawa Elia ke rumah sakit.
Kedua pelayan itu kompak bangkit dengan wajah yang menunduk sopan.
" Nyonya sedang mendapatkan perawatan, Tuan. "
Jhon mengusap wajahnya kasar.
" Kenapa ini bisa terjadi? "
" Tadi ada Nona Lusiana datang, Tuan. Nona Lusiana mengajak Nyonya untuk berbicara di ruang tamu. Kami tidak mengikuti Nyonya karena Nyonya melarang. "
__ADS_1
Jhon mengeraskan rahangnya menahan kesal.
" Dimana wanita itu sekarang? "
" Jhon? "
Jhon memutar tubuhnya menatap ke arah sumber suara. Lusiana tampak terengah-engah seperti habis berlari.
" Kau, aku sudah memperingatkan mu kan? kenapa kau masih saja mengusik? Tidak masalah jika kau melakukan ini padaku. Tapi apa salah istriku padamu? Lusiana, jika kau bukan seorang wanita, aku pasti sudah memukulmu habis-habisan. "
Lusiana terdiam menahan tangis. Sekarang ini Jhon benar-brnar sudah sangat berubah. Bukan hanya cara dia menatap dan berbicara, tapi cara dia menyampaikan maksudnya juga begitu spontan seolah benar-benar tidak menginginkannya lagi.
" Jhon, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya kesal lalu mendorongnya sedikit. Aku yakin tidak akan terjadi apa-apa dengan dia. "
Jhon kembali menatap Lusiana dengan tatapan marah.
Lusiana menatap Jhon dengan tatapan kaget. Sungguh dia tidak percaya jika Jhon bersedia menjadi seorang Ayah. Padahal dulu dia begitu ogah. Memang dulu mereka belum menikah, tapi bukan hanya sekali dua kali Lusiana mengatakan jika dia menginginkan anak. Tapi yang ia dapatkan hanyalah kekecewaan karena Jhon terus mengatakan jika memiliki anak adalah hal yang merepotkan. Jelas sekali dia bisa melihat kesungguhan di wajah Jhon saat itu.
" Jhon, apa? apa yang kau katakan? anak? " Lusiana menatap Jhon dengan tatapan nanar dan penuh tanya.
" Iya. Anak. Anak ku dan Elia. "
Lusiana mengepalkan kedua tangannya. Matanya juga tidak sanggup lagi menahan air mata yang sudah lama ia tahan.
" Kenapa Jhon? kenapa kau melakukan ini padaku? dulu, saat bersama ku kau sama sekali tidak mengizinkan ada anak diantara kita. Lalu sekarang? kau menerima anak dari musuh mu, dan kau juga akan memiliki anak sendiri. Jhon, betapa jahatnya ka padaku. "
" Bukan aku yang jahat. Semua terjadi karena kau yang memulainya. Jika saja kau tidak pergi, mungkin saja kita memiliki anak. Tapi aku juga bersyukur karena kau pergi. Karena setelah kau pergi, Tuhan mempertemukan aku dengan wanita cantik dan baik seperti Elia. Dia mempercayai ku sepenuh hati. Dia, sama sekali tidak pernah meragukan kemampuan ku. "
Lusiana terdiam tak bisa lagi berkata-kata. Iya, memang pilihannya untuk meninggalkan Jhon saat itu. Tapi, dia dalam kebimbangan saat itu dan membutuhkan waktu untuk menenangkan sekaligus memantapkan pilihan hidupnya.
__ADS_1
" Lusi, jangan kau pikir aku tidak tahu tujuan kepergian mu waktu itu. Sudah cukup mengganggu ku dan pergilah. Pergilah sejauh mungkin. Aku tidak ingin menduakan Elia atau bahkan meninggalkan Elia. "
Lusiana mencerna setiap kata yang Jhon ucapkan barusan. Memang benar itu salahnya karena memilih untuk pergi karena kurangnya rasa percaya kepada Jhon. Tapi Jhon yang dulu tidaklah sehebat Jhon yang sekarang. Jika tahu Jhon akan mnejadi sehebat sekarang, tentulah dia tidak perlu takut dan ragu saat itu. Lusiana kembali menatap Jhon dengan tatapan yang seperti membutuhkan kepastian.
" Jhon, apakah sudah benar-benar tidak ada aku lagi di hatimu? "
Jhon menatap Lusiana tegas.
" Lusiana, alangkah tidak tahu malunya kau yang sekarang ini. Kau sudah membuat istriku celaka dalam keadaan hamil, dan kau masih menanyakan hal ini? Lusiana, lebih baik gunakan sisa tenaga mu untuk mendoakan istri dan calon anakku. Karena kalau sampai terjadi sesuatu kepada mereka, sampai ke neraka pun, aku akan mengejar mu dan membunuh mu sampai ratusan kali. "
Lusiana langsung terdiam. Tidak perlu bertanya apa-apa lagi. Dia tentu sudah bisa menyimpulkan jawaban dari pertanyaannya tadi. Jelas sekali tidak ada nama Lusiana lagi di dalam kehidupan Jhon sekarang ini. Bahkan tatapan Jhon begitu bengis dan penuh kemarahan.
Beberapa saat kemudian, Dokter yamg menangani Elia sudah keluar. Jho. tentu dengan cepat menghampiri Dokter itu untuk menanyakan tentang keadaan Elia dan calon anaknya.
" Bagaimana keadaan istri saya Dok? "
" Pasien hanya mengalami benturan saja, Tua. Tidak perlu khawatir. Janin nya baik-baik saja. Memang sempat mengalami kram karena benturan, tapi kandungan pasien cukup kuat. Tapi untuk kedepannya, tolong jangan sampai terjadi lagi ya? "
Jhon kini bisa menghela nafas lega. Dia langsung masuk ke dalam ruangan Elia untuk melihat langsung keadaan Istrinya.
" Sayang? " Ucap Elia saat melihat Jhon datang. Jhon langsung mencium kening Elia.
" Maafkan aku karena tidak ada disana untuk melindungi mu dan anak kita. "
Elia tersenyum.
" Tidak apa-apa. Anak kita baik-baik saja. Dia hanya kaget. "
TBC
__ADS_1