
Sore yang begitu menyenangkan bagi Jhon dan yang lainya. Ditambah lagi kesuksesan perihal Dargo, rasanya kini dia benar-benar tidak bisa mengungkapkan hanya lewat kata-kata saja. Sebenarnya, saat Hendrick dan Ayahnya datang ke kantor Rendra, pria itu sudah siap dengan melakukan panggilan telepon agar Jhon bisa mendengar segalanya tentang pembicaraan Rendra, Hendrick beserta Ayahnya.
Jhon yang sengaja tidak melakukan banyak pekerjaan juga sudah sampai dirumah. Sesampainya dirumah dia langsung mencari istri dan anaknya. Tak perduli harus berkeliling untuk mencari keberadaan Elia dan Ive, karena kebahagian yang ia rasakan hari ini benar-benar membuatnya tak mengenal lelah.
" Elia? Ive? " Panggil Jhon saat sudah berada di teras belakang rumahnya. Sebuah tempat yang biasa Elia, Ive, Jehan dan Ibunya menghabiskan waktu.
" Ada apa? " Tanya Elia lalu berjalan mendekati Jhon yang terlihat terengah-engah karena berlari mencarinya.
" Tidak ada. Aku hanya merindukan mu dan Ive. "
" Rindu? " Elia mengeryit bingung. Pasalnya hari ini Jhon pergi ke kantor saat sudah mendekati jam makan siang. Ditambah lagi sekarang sudah berada di rumah. Padahal jam baru menunjukkan pukul lima sore. Biasanya kan Jhon akan sampai dirumah saat pukul delapan malam atau bahkan sering jam sepuluh malam.
" Kenapa? apa aku tidak boleh merindukan mu dan putri kita? " Lagi-lagi Jhon memasang wajah datar yang membuat Elia tidak tahu apa maksud sebenarnya.
Elia tersenyum dan tak berniat menjawab pertanyaan Jhon yang aneh baginya. Jhon meraih pinggang elia dan membuat tubuh mereka menyatu. Jhon memeluk tubuh Elia laku mengurainya dan mencium wajah Elia. Mulai dari kening, mata, hidung, pipi dan bibir tentunya.
" Elia, aku sangat bahagia meski harus di atas penderitaan orang lain. "
Elia menatap manik mata Jhon lekat. Dia menelusuri tatapan itu hingga dia paham apa yang sedang dipikirkan oleh Jhon. Meski hatinya tidak ingin menjadi jahat, tapi sulit bagi Elia untuk tidak tersenyum. Setelah mendengar penuturan Jhon beberapa hari yang lalu, dia dengan yakin memantapkan dirinya untuk mempercayai Jhon sepenuhnya. Bahkan kehancuran Dargo yang beberapa hari terasa menyeramkan baginya, kini justru terasa membahagiakan seolah rasa sakit yang dulu ia rasakan sedikit terbayarkan. Elia kembali memeluk tubuh Jhon erat.
Inilah suamiku. Pria yang Tuhan hadiahkan setelah hujan badai menyakitkan yang aku alami saat menjadi istri dari Hendrick Dargo. Pria yang mampu membuat ku jatuh cinta dan mempercayainya lebih dari mempercayai diriku sendiri. Jhon, terimakasih karena sudah memungut batu dan kau perlakukan kayaknya sebuah berlian.
" Elia, meski belum total, tapi ini sudah membuat ku senang. Aku sudah menunda ini selama sepuluh tahun. Ada ya kau di sisiku mampu membuatku yakin untuk melakukan segala cara. Terimakasih. " Jhon mencium pundak Elia yang tidak tertutupi oleh kain bajunya.
" Hei hei! bisa kalian lanjutkan di kamar saja? disini ada anak gadis Ibu loh. "
Elia dan Jordan kompak menjauh setelah mendengar ucapan Ibu. Mereka benar-benar lupa kalau ternyata di dunia ini bukan hanya ada dia dan Jhon saja.
" Ibu? maaf aku tidak lihat ada Ibu tadi. " Ucap Jhon lalu berjalan mendekati Ibunya. Dia mengambil Ive dari gendongan Ibu Sofia lalu mencium pipi Ibu Sofia.
" Ibu, ayo kita masuk. " Aja Jhon.
" Hei kakak! apa tida lihat ada aku disini? protes Jehan.
__ADS_1
Ibu Sofia dan Elia kompak terkekeh melihat tingkah Jehan yang selaku saja protes saat tidak mendapatkan perhatian. Jhon sebenarnya sengaja melakukan itu untuk menggoda Jehan yang beberapa hari ini terlihat merengut saja kepadanya.
" Tuan, Nyonya. Maaf mengganggu. Tuan muda Hendrick dan Tuan Dargo ada di ruang tamu menunggu untuk bertemu Tuan Jhon. "
Semua orang kompak menatap Jhon setelah mendengar itu.
" Kenapa mereka datang, Jhon? " Tanya Ibu Sofia yang merasa khawatir. Sebenarnya Ibu Sofia adalah satu-satunya alasan selama ini Jhon menahan diri untuk tidak menghancurkan Dargo. Tapi semenjak adanya Elia, dan ditambah lagi perlakuan buruk keluarga Dargo kepada Elia dan Ibunya, Jhon memutuskan untuk memulai rencananya. Meskipun pada awaknya dia ingin menggunakan Elia sebagai bonekanya. Tapi mau bagaimana lagi? perasaan suka saat melihat Elia pertama kali terus berkembang menjadi sebuah rasa cinta yang sebesar apa Jhon juga tidak tahu cara mengukurnya.
" Baiklah, katakan kepada mereka untuk menunggu sebentar. "
" Baik, Tuan. "
Jhon tersenyum menatap ketiga bidadari yang kini tengah menatapnya khawatir.
" Semua baik-baik saja. Jangan khawatir lagi ya wanita cantik nomor dua. "
Elia dan Ibu Sofia menghela nafas lega. Tapi tidak dengan Jehan. Gadis itu malah merasa keberatan dengan ucapan Jhon.
Jhon tersenyum sembari menarik hidung Jehan.
" Ive. Dia mengalahkan kecantikan kalian bertiga. "
Jehan berdecih menatap punggung kakaknya yang mulai menjauh darinya.
" Ive, betapa beruntungnya memiliki wajah sepertimu ya? lihat saja nanti, saat aku menikah dan punya anak, wajah anakku harus sama dengan Ive. kalau tidak, aku akan merebut paksa wajah mu dan menukarnya dengan wajah bayiku nanti. "
Ucapan Jehan itu sukses membuat Ive menangis ketakutan. Sebenarnya bukan hanya ucapannya saja, tapi mimik wajah mengancam Jehan benar-benar sangat menakutkan.
***
Hendrik dan Ayahnya kompak berdiri saat Jhon mulai tiba di ruang tamu.
" Duduk saja. " Ucap Jhon sembari tersenyum tipis.
__ADS_1
Tak menjawab, Hendrik dan Ayahnya kompak kembali ke posisi duduk seperti sebelumnya.
" Ada apa? " Tanya Jhon dengan wajah datar seperti biasanya.
" Katakan yang sejujurnya. Apa kau ada dibalik semua ini? " Tanya Hendrick yang terlihat kesal. Matanya merah dan sudah pasti Jhon bisa mengetahui dengan jelas kalau dia menangis sebelum sampai dirumahnya.
" Jujur? kejujuran apa maksud mu? "
" Kau kan yang membantu Rendra? kau adalah orang yang bisa dengan mudah menyusup ke dalam Dargo Company. Selain kau, tidak ada yang lain. "
Jhon menghela nafas kasarnya lalu menatap manik mata Hendrik dan Ayahnya bergantian. Bahagia sekali rasanya bisa melihat kekacauan yang luar biasa dari mata kedua orang itu. Tapi meski begitu, Jhon tetaplah Jhon yang hanya akan menunjukkan wajah datar yang tak terbaca.
" Sebenarnya apa yang kau maksud? membantu apa yang kau maksud? "
Hendrick yang sudah tidak tahan lagi akhirnya bangkit lalu meraih kerah kemeja Jhon. Mendapatkan perlakuan seperti itu, Jhon hanya tersenyum tipis tanpa berniat menepis tangan Hendrick dari sana.
" Kau adalah aib bagi keluarga Dargo! kau pasti iri kan melihat keluarga Dargo memperlakukan ku dengan lemah lembut? kau pasti ingin menghancurkan semua itu kan? katakan saja selama aku masih memiliki niatan untuk memaafkan mu. "
" Jangan! Ayah! " Ive yang tadi menangis karena ulah Jehan rupanya berlari mencari keberdaan Ayahnya untuk meminta bantuan.
Ive berlari mendekati Jhon dan Hendrick lalu memukul kaki Hendrick menggunakan kedua telapak tangannya yang mengepal sekuat tenaganya.
" Paman jahat! lepaskan Ayah ku! "
Melihat Ive seperti itu, Jhon langsung menepis tangan Hendrick dan menjauhkan tubuh Hendrick darinya. Jhon dengan cepat mengangkat tubuh Ive lalu memeluknya erat.
" Paman jahat! " ( Sebenarnya Ive ini belum terlalu lancar bicara ya, tapi aku buat seperti ini saja agar mudah dipahami. )
" Tidak sayang. Ayah dan paman itu hanya sedang berakting seperti yang ada di televisi itu. "
" Paman? " Hendrick menatap nanar Ive dan Jhon yang sudah seperti Ayah dan anak sungguhan.
TBC
__ADS_1