
Sesuai rencana awal, hari ini sesuatu yang lumayan menyenangkan akan segera dilaksanakan oleh Jhon dan beberapa rekannya. Sebenarnya, Jhon bukan ingin menambah duka bagi Hendrick ataupun anggota keluarga Dargo. Tapi keberadaan Zila hanya akan menghambat kesuksesan seorang Hendrick. Dan lagi, Jhon ingin membersihkan nama istrinya yang sudah sering di kambing hitamkan oleh Zila dan keluarganya. Mulai dari dijadikan tersangka tabrak lari, kemudian pembulian terhadap teman sekampus, prestasi yang seharusnya menjadi milik Elia, tapi dengan tidak tahu malunya di atas namakan Zila. Belum lagi hinaan yang diberikan oleh Dargo dan keluarga nya Zila. Semua itu sudah sangat cukup dijadikan alasan untuk menghancurkan Zila. Apalagi, sudah beberapa malam ini Zila terus mengirim pesan kepada Jhon. Mulai dari bertanya kabar, lali berpura-pura menangkan kabar Elia, menawarkan teh racikannya, bertanya apakah sudah mencoba teh yang tempo hari dia berikan, dan yang menjijikkan adalah pesan dari Zila yang mengingat kan Jhon untuk jangan melewatkan makan siang dan juga sarapannya.
" Sudah siap, Ken? " Tanya Jhon.
" Sudah Jhon. "
" Bagus, lakukan sekarang juga. " Titah Jhon. Ken mengangguk lalu meraih ponselnya.
" Jalankan sesuai rencana. Ingat! jangan meninggalkan jejak apapun. Mengerti? bagus! " Ken menutup sambungan teleponnya lalu memasukan ponselnya kedalam saku miliknya.
" Jhon, aku harus bersiap di ruangan ku. Mungkin aku tidak bisa diganggu sampai pekerjaan selesai. "
Jhon mengangguk lalu tersenyum.
" Pergilah, Ken. "
Jhon menghela nafas lalu menyenderkan tubuhnya di senderan kursi kerjanya. Tida tahu mengapa, beberapa hari belakangan dia sungguh sangat mual dan terus menerus bersendawa. Belum lagi seperti ada sesuatu di ulu hatinya yang mengganjal entah apa itu. Udah memeriksakan diri, tapi keterangan Dokter menyatakan jika tubuhnya dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan sudah beberapa hari ini dia sangat malas untuk makan, mencium aroma masakan juga membuat perutnya terasa mual. Ibu Sofia mengatakan jika ini adalah reaksi ngidam. Tentu saja Jhon tida mudah percaya begitu saja. Memang sih, sebagai Ibu hamil Elia terlalu santai. Dia tidak pernah memuntahkan makanannya, bahkan mulutnya hampir tidak pernah berhenti mengunyah.
" Apa aku benar-benar mengalami masa ngidam? huh! meskipun aku sebal, tapi aku juga bahagia karena Elia terlihat sangat sehat saat hamil. Berat badannya bahkan naik tiga kilo gram di kehamilan sembilan minggu. " Jhon tersenyum mengingat pipi Elia tang kini terlihat sedikit chuby. Dia juga semakin tidak bisa menahan bibirnya saat mengingat mahkluk kecil yang ia dengar detak jantungnya kemarin. Sungguh di luar dugaan nya sendiri. Padahal dulu dia ama sekali tidak menginginkan anak. Tapi kalau sekarang, setiap tahun punya anak juga dia tidak akan menolak. Sepuluh, dua puluh, atau bahkan kalau Elia setuju, tiga puluh juga tidak masalah.
( Kemarin ada yang tanya, usia kandungan Elia kan baru sembilan minggu. Kenapa sudah ada suara detak jantungnya? ) Ok! Author jawab ya kesayangan... Jadi, kalau melakukan pemeriksaan lewat USG, di usia delapan minggu detak jantung juga bisa di dengar kok. Ini juga salah satu pengalaman yang sudah Author alami sendiri. Kalau masih kurang paham, boleh buka halodock untuk memastikan ke akurattan nya.
Suara telepon membuyarkan apa yang tengah Jhon lamun kan. Segera dia meraih gagang telepon untuk mengetahui apa yang ingin di sampaikan padanya.
" Iya. " Ucap Jhon setelah panggilan terhubung.
__ADS_1
Selamat siang, Presdir Jhon. Nona Lusiana meminta waktu untuk bertemu.
Jhon terdiam sesaat lalu memijat keningnya.
" Baiklah, suruh dia masuk sepuluh menit lagi. "
Baik.
" Apa yang dia inginkan? " Jhon mengusap wajahnya kasar. Tentu dia tidak ingin lagi berhubungan dengan Lusiana. Selain sudah tidak memiliki rasa, dia juga tidak mau kalau sampai Elia berpikir macam-macam lalu mempengaruhi kesehatan nya. Tapi jika terus menghindar, Lusiana akan semakin keras kepala dan tidak mengenal lelah. Akhirnya Jhon memutuskan untuk menyampaikan langsung kepada Lusiana agar gadis itu menjauh darinya dengan damai.
Jhon menatap sebuah bingkai photo yang bergambarkan Elia, Ive dan dirinya. Sungguh dia sangat bahagia dengan ada nya istri dan anak mereka. Ditambah lagi, anggota keluarga mereka akan segera memiliki personil baru.
" Elia, aku ingin kita baik-baik saja. Maka dari itu, menemui Lusiana sangat penting saat ini. " Jhon mengusap wajah Elia do photo itu dengan bibir yang tersenyum.
Sepuluh menit sudah berlalu. Pintu ruang kerja Jhon juga sudah di ketuk oleh salah satu penjaga yang bertugas disana.
" Suruh dia masuk. " Jawab Jhon.
" Baik, Tuan. " Pengawak itu memundurkan langkahnya lalu mempersilahkan Lusiana untuk segera masuk ke dalam.
Jhon menatap Lusiana yang datang dengan bibir tersenyum tapi mata seolah ingin menangis.
" Jhon? " Tes! jatuh sudah air mata Lusiana.
" Duduklah. " Titah Jhon yang sama sekali tak menunjukkan emosi apapun.
__ADS_1
Lusiana mengangguk lalu mengambil posisi untuk duduk berseberangan dengan Jhon.
" Ada apa, Lusi? " Tanya Jhon, datar.
Lusiana terdiam setelah menyeka air matanya. Dia memutuskan untuk menatap manik mata Jhon dengan berani. Rindu, itulah yang terbaca dari tatapan Lusiana. Mata indah itu seolah menyampaikan kepada Jhon, bahwa dia sangat menderita selama ini. Senyum kelu yang samar terlihat juga seolah menandakan betapa sedihnya dia karena semua sudah berubah dan tak ada yang sama seperti beberapa tahun lalu.
" Jhon, kenapa kau terus menghindari ku? "
Jhon menyungging kan senyumnya. Sungguh luar biasa wanita yang kini duduk bersebrangan dengan nya. Tapi setelah apa yang di lakukan selama ini, apakah perlu Jhon menyambut nya dengan ramah dan hangat? memang siapa yang menghindar sebenarnya?
" Jhon, aku tahu kau sangat marah. Tapi aku tidak memiliki pilihan saat itu." Lusiana menatap Jhon yang terlihat begitu enggan membahas masa lalu.
" Dengar, Lusiana. Kau memiliki pilihan lain, tapi kau tidak mempercayainya. Kau sudah memilih, maka jangan menyesali nya. "
Lusiana menunduk sembari memegangi kedua telapak tangannya yang kini tengah saling mengaitkan jari untuk bisa memunculkan keberanian dan kepercayaan diri dari sana.
" Maafkan aku, Jhon. Aku tahu, kata maaf sampai berjuta-juta kali pun tida akan bisa mengubah apa yang terjadi sekarang. Tapi Jhon, aku dan hatiku tidak pernah berubah. Aku masih tetap mencintai mu, Jhon. "
" Lusi, sebenarnya aku sangat tidak menyukai topik pembicaraan yang terus mengeruk masa lalu ini. Tidak penting sebahagia apa kita di masa lalu, pada akhirnya kita tidak lah bisa bersama. "
" Jhon, kenapa kau begitu berubah? kau bahkan sampai mengasuh anak dari musuh mu sendiri. Awalnya aku berpikir, kau pasti ingin membalas dendam jadi aku menunggu kau berhasil. Tapi sepertinya aku terlalu mempercayai mu. Aku tidak menyangka jika kau akan jatuh cinta dengan wanita yang memiliki anak dengan musuh mu. "
Jhon mengepalkan tangannya kuat. Sungguh dia amat kesal saat ada yang mengungkit asal usul Ive putrinya.
" Dengar, Lusi. Ive adalah putriku. Dia adalah anakku. Tidak perduli siapa Ayah biologisnya, yang aku dan Ive rasakan adalah batin kami yang saling mencintai kayaknya ayah dan anak kandung. Sekali lagi keu mengungkit asal usul Ivi, aku benar-benar akan membuat mu tidak bisa mengeluarkan suara lagi.
__ADS_1
TBC