Second Husband

Second Husband
Episode 74


__ADS_3

Setelah beristirahat selama satu hari di rumah sakit, akhirnya Elia bisa pulang hari ini. Sebenarnya tidak masalah untuknya kemarin langsung pulang, tapi kekhawatiran Jhon yang berlebihan membuat Elia mau tidak mau mengikuti saja apa yang diinginkan oleh Jhon. Dia bahkan harus memendam rindu selama seharian penuh karena tidak bisa melihat langsung Ive. Yah, meskipun sudah berkali-kali melakukan panggilan video, nyatanya rindu untuk Ive sama sekali tidak bisa di hilangkan.


Sejenak Elia menatap ke arah Jhon yang kini duduk disampingnya. Iya, wajah itu memang terlihat sedikit lesu karena seharian dia terus menjaga Elia tanpa henti. Hampir lima menit sekali Jhon bertanya, apa ada yang sakit? apa yang kau rasakan? apa kau lapar? apa kau haus? kau butuh ke toilet? apa ada yang harus aku lakukan? hah! seperti itulah Jhon. Tentu Elia tahu benar bagaimana perasaan Jhon meski hanya sekali mendengar ungkapan cinta dari Jhon. Yah, dia yakin benar sebenarnya Jhon keceplosan saat itu. Tapi sudahlah, kalaupun ingin membahas lagi, mana mungkin Jhon akan mengakuinya.


Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di kediaman Damien. Sebuah rumah besar yang berdiri kokoh dan dikelilingi oleh tumbuhan yang sengaja di tanam oleh Ibu Sofia. Mulai dari buah-buahan tropis, bunga, dan beberapa tanaman herbal juga ada disana.


" Ibu...! " Teriak Ive saat melihat Ibunya datang bersama Ayahnya. Gadis kecil nan cantik itu bersorak bahagia sembari bertepuk tangan. Sungguh sangat bahagia Elia melihat senyum anaknya yang satu hari bagai satu tahun tidak bertemu. Tadinya Elia ingin mempercepat langkahnya, tapi sudah pasti Jhon akan melarangnya. Mau tidak mau dia hanya bisa berjalan pelan sembari menahan diri untuk segera menggendong dan mencium kedua pipi montok anak nya.


" Ive....! " Elia sudah merentangkan tangan setelah jarak diantara mereka begitu dekat. Sayang sekali, tangan Jhon lebih dulu meraih tubuh Ive. Dia juga lebih dulu mendaratkan ciuman di kedua pipi putri cantiknya itu. Sabar, Elia hanya bisa mencoba tersenyum saat melihat tatapan Jhon yang sepertinya tidak akan membiarkan Elia menggendong Ive. Maklum saja, saat tidak mengalami kejadian ini saja dia sudah dilarang menggendong Ive, apalagi sekarang? batin Elia bergerundel.


" Kau boleh memeluk dan mencium Ive. Tapi tidak dengan menggendong. "


Sudah tahu!


Elia mencium kedua pipi montok anaknya lalu memeluk erat tubuh Ive. Luar biasa memang. Aroma tubuh Ive benar-benar membuat suasana hatinya membaik.


" Sekarang istirahat lah di kamar. " Titah Jhon. Tentu saja Elia terperangah mendengarnya. Bahkan seharian kemarin dia hanya berbaring kayaknya orang yang benar-benar sakit. Dan sekarang harus istirahat lagi?


" Sayang, aku tidak mau ah. Aku juga lelah kalau harus terus menerus berbaring di tempat tidur. " Protes Elia.


Jhon menghela nafas nya. Sebenarnya dia juga tahu rasanya terlalu banyak istirahat. Tapi dia juga terlalu khawatir dengan kondisi Elia meski Dokter sudah mengatakan kalau dia akan baik-baik saja. Walau bagaimanapun, Dokter juga bisa salahkan? Dokter kan juga manusia.


" Aku akan menemanimu agar kau tidak bosan. "


Elia langsung terdiam dan tidak bisa lagi berkata-kata. Sudahlah, mau sekeras apapun dia beralasan, tetap saja ucapan Jhon adalah yang paling benar.


Perlahan Jhon menuntut Elia untuk hati-hati dalam melangkah. Sungguh ini sangat berlebihan sekali. Bahkan Ibu Sofia, Jehan dan Yana terus menahan tawa melihat cara Jhon memperlakukan Elia yang sudah seperti jompo.


Sesampainya di dalam, Jhon juga langsung membantu Elia untuk duduk di tempat tidur. Sebenarnya Elia juga ingin protes, tapi sepertinya percuma. Dilihat dari situasinya, Jhon tidak akan menerima alasan apapun yang Elia katakan.


" Kau membutuhkan sesuatu? " Taya Jhon dan langsung mendapat gelengan dari Elia. Iya karena memang Elia tidak membutuhkan apapun lagi selain hilangnya perlakuan aneh dari Jhon ini.

__ADS_1


" Kalau tidak ada, aku pergi mandi sebentar ya? " Elia dengan cepat mengangguk.


Setelah beberapa saat, akhirnya Jhon selesai mandi. Dia juga sudah menggunakan celana pendek tanpa menggunakan kaos seperti biasa. Dia mulai merebahkan tubuhnya di samping Elia lalu mengajak Elia untuk ikut berbaring. Tentu saja Elia langsung melakukanya dan memeluk tubuh Jhon.


" Elia? " Panggil Jhon.


" Iya. "


" Apa yang Lusiana katakan kemarin? "


Elia terdiam sesaat. Iya, dia mengingat bagaimana wajah polos Lusiana berubah menjadi menyeramkan. Mulut pedasnya juga dengan tegas mengatakan jika Ive adalah anak haram. Tapi jika dia mengatakan ini kepada Jhon, sepertinya akan menjadi masalah yang berbuntut panjang.


" Jangan coba-coba menyembunyikan apapun. Aku bertanya padamu karena aku masih malas melihat CCTV. Tapi kalau kau bohong, tentu saja aku akan memeriksanya sendiri. "


Heh! hilang sudah niat menjadi orang baik. Sepertinya Lusiana akan mendapatkan sentilan menyakitkan dari Jhon.


" Dia hanya meminta ku untuk membuatkan mu kembali padanya. " Jhon menghela nafas mendengar ucapan Elia.


" Dia, ya sedikit memaksa dan memukul wajah ku, lalu mendorong ku. Dia juga, "


" Juga apa? " Tanya Jhon karena Elia tidak melanjutkan kalimatnya.


" Di bilang, Ive adalah anak haram. "


Jhn mengeryit bingung sembari menahan kesal. Sungguh tadinya dia pikir Lusiana hanya mendorongnya tanpa sengaja. Tapi sekarang dia baru tahu jika Lusiana juga memukul Elia bahkan mengatai Ive juga.


" Tunggulah disini. Aku akan kembali sebentar lagi. " Ucap Jhon kaku bangkit dan meraih bajunya. Setelah itu, dia langsung meninggalkan kamar dan sudah pasti akan pergi ke ruang kerja pribadinya.


Sesampainya di ruang kerjanya, dia langsung menghubungi Ken.


Jhon?

__ADS_1


" Ken, urus Lusiana untukku. Aku tidak mau melihat wanita itu lagi. Dan kalau bisa, peringatkan dia dengan ancaman pidana. Suruh dia menghilang seperti sebelumnya dan jangan kembali lagi untuk menampakkan wajahnya di hadapan ku. "


Ok. Akan aku urus hari ini juga.


" Bagaimana dengan Zila? wanita gila itu masih menargetkan ku? "


Iya, kemarin dia juga datang dari pukul enam tiga puluh. Resepsionis sudah memintanya untuk pergi, tapi dia cukup keras kepala untuk menunggumu.


" Kau sudah memberi tahu Rendra? "


Iya, laki-laki gila itu sangat tidak sabaran.


" Baiklah, kita selesaikan masalah Zila besok. Katakan pada Rendra untuk bersiap. "


Baiklah, aku jadi tidak sabar.


" Apa yang membuat mu tidak sabar? "


Melihat dia mempermalukan dirinya sendiri sebelum menginap di hotel besi.


Jhon ikut tersenyum.


" Baiklah, aku harus segera kembali ke kamar. Tolong masalah Lusiana selesaikan hari ini juga. "


Baik.


Jhon mengakhiri panggilan teleponnya. Dia tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Rasanya dia benar-benar tidak sabar untuk itu. Dan semoga ini akan menjadi awal yang baik agar hubungan nya dengan Elia semakin baik tanpa gangguan siapapun lagi.


" Elia, anggap saja ini hadiah kecil dari kesabaran mu. "


TBC

__ADS_1


__ADS_2