
Elia kini tengah merasai punggungnya yang terasa pegal. Sungguh, pegal sekali hingga mau terlentang saja rasanya sangat malas. Padahal awalnya dia pikir, Jhon akan mengira dia hamil yang menghentikan kegiatannya itu. Tapi sepertinya laki-laki itu menganggap telatnya datang bulan Elia sebagai anugerah indah yang tidak boleh disia-siakan.
" Apa masih sakit? " Tanya Jhon karena tentulah dia melihat Elia yang tengah menahan rasa tidak nyaman di punggungnya. Jhon menekan punggung Elia pelan menggunakan tangannya. Sungguh dia tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Tapi saat memperlakukan Elia begini, rasanya benar-benar menyenangkan juga.
Cukup lama Jhon memijat punggung Elia hingga si pemilik punggung memintanya untuk berhenti karena lelah juga berada di posisi tengkurap.
" Apa sudah lebih baik? " Tanya lagi Jhon.
" Iya, ini sudah sedikit membaik. " Jawab Elia sembari mengubah posisinya agar setengah duduk.
" Elia, apa aku perlu membeli alat uji kehamilan? " Tanya Jhon yang entah apa maksud ekspresinya.
Elia menatap manik mata Jhon yang juga tengah menatapnya. Jika benar dia hamil, jujur dia juga bahagia. Tapi ada juga hal yang membuatnya takut kalau sampai dia hamil.
" Kenapa diam? " Tanya Jhon karena gak mendapati jawaban dari Elia.
" Jhon, apakah kau bahagia jika aku hamil? "
Jhon mengeryit bingung mendengar pertanyaan Elia. Dia sempat berpikir apa maksud dari pertanyaan Elia itu, tapi sekeras apapun dia berpikir, nyatanya dia tidak menemukan jawaban apapun.
" Apa yang kau tanyakan, Elia? tentu saja aku bahagia. "
Elia meremas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dengan tatapan yang terlihat takut.
" Apakah, kau akan tetap menyayangi Ive jika nanti, kau akan memiliki anak kandung mu sendiri? "
Jhon tegas menatap Elia. Benar, dia paham jika Elia takut kalau rasa cintanya kepada Ive mungkin saja alam berkurang. Tapi selama ini dia tidak pernah menganggap Ive bukan anak kandungnya. Jadi tentu saja dia yakin kalau tidak akan pernah membedakan antara Ive dan anak kandungnya sendiri nanti.
__ADS_1
" Elia, apa kau tidak mempercayaiku? "
Elia menatap mata Jhon yang tentu saja memancarkan tatapan kesungguhan seperti biasanya. Jhon adalah pria yang totalitas dalam melakukan semua hal. Tapi entahlah, hatinya bukan merasa tidak yakin, tapi walau bagaimana pun, tentu saja ada pergejolakkan di hati yang tidak bisa hanya di jabarkan melalui kata-kata.
" Jhon, aku mempercayai mu lebih dari diriku sendiri. Tapi tidak tahu kenapa, aku merasa sangat takut. Takut jika nanti Ive- " Elia menghentikan ucapannya karena Jhon membungkam bibir Elia menggunakan jempolnya.
" Elia, apa kau tahu hal yang paling membuat ku kesal? " Elia menatap manik mata Jhon untuk mendapatkan jawabannya. Tapi rasanya percuma karena nyatanya, dia tidak mendapatkan apa yang dia butuhkan. Elia menggeleng karena memang tidak tahu.
" Aku kesal, aku marah saat kau terus menyebut jika Ive bukan putriku kandung ku. Aku akui, Elia. Awalnya aku tidak perduli dengan bayi yang kau kandung. Aku juga akan mengakui jika aku juga ingin menggunakan mu sebagai alat balas dendam. " Elia terdiam karena merasa begitu sakit, memang seharusnya dia paham sejak awal, tapi entahlah. Rasa cinta yang terus menerus tumbuh itu membuatnya tak mau memikirkan tentang kemungkinan yang masuk akal saat Jhon menikahinya dalam keadaan mengandung.
" Tapi, semua berubah sejak Ive lahir. Aku memang tertarik saat pertama kali melihat mu, tapi setelah adanya Ive, semua menjadi tidak terkontrol oleh ku. Aku jatuh hati saat pertama kali melihat Ive. Sama seperti aku jatuh hati saat melihat Ibunya Ive. Semakin hari, aku semakin mencintai Ive. Dan saat ada yang mengatakan jika Ive bukan putri kandungku, rasanya sakit, Elia. "
Elia yang tadinya merasa kecewa dan sakit, kini berubah menjadi terharu. Entahlah, mungkin memang tuhan memberikan hati Elia yang begitu sensitive. Sebentar dia akan merasa sedih, lalu sebentar juga akan merasa bahagia. Huh... apa itu juga disebut plin-plan?
" Jadi, kau jatuh cinta padaku meski kau tahu aku sedang hamil? " Tanya Elia dengan wajah yang berbinar bahagia.
Jhon yang tadinya begitu berani dan penuh keyakinan saat bicara, kini tiba-tiba tak berani menatap Elia. Dari pada menjawab, dia lebih memilih untuk mengalihkan pandangan karena takut wajah malunya akar terlihat oleh Elia.
Elia tersenyum mencoba membuat wajah mereka saling menatap. Sayang, Jhon terus menghindari tatapan itu dan memilih untuk bangkit dari tempat tidur.
" Aku pergi sebentar. Tunggu ya? aku tidak akan lama. "
Elia cekikikan sendiri setelah suaminya pergi. Entah apa yang membuat Jhon masih tidak ingin mengakuinya. Tapi mau ditutupi seperti apapun, Elia dengan jelas bisa melihat cinta untuknya dari mata Jhon.
Malam ini Jhon memutuskan untuk pergi sendiri ke apotik. Dia benar-benar tidak ingin meminta siapapun untuk membeli. Jujur, membayangkan akan memiliki anak lagi, Jhon benar-benar tidak bisa berhenti tersenyum.
" Sejak kau hadir di hidupku, semua benar-benar berbanding terbalik dengan diriku yang dulu. " Gumam Jhon sembari melajukan mobilnya.
__ADS_1
Jhon kembali tersenyum membayangkan jika seandainya Elia benar-benar hamil, pasti akan bertambah kebahagiaan mereka. Jhon menghela nafasnya saat tiba-tiba teringat dengan masa lalu. Dulu, saat menjalin hubungan dengan Lusiana, mereka bersepakat jika mereka menikah, mereka tidak ingin memiliki anak. Bukan tanpa sebab, keputusan itu di ambil oleh Jhon yang tidak mau memikirkan betapa mengganggunya suara anak kecil. Belum lagi saat mereka sudah mulai berjalan, anak kecil itu pasti akan sangat menyebalkan dengan mengacak-acak rumah bahkan, mencoret-coret tembok seperti cerita beberapa rekanan bisnisnya.
Tak terasa, Jhon kini sudah berada di sebuah apotik dipinggiran jalan raya. Dia bergegas keluar untuk membeli beberapa barang yang memang sudah ia pikirkan sebelum berangkat tadi. Jhon langsung masuk dan disambut oleh seorang apoteker.
" Berikan aku vitamin, " Belum juga selesai Jhon menyebutkan apa yang ingin dia beli, suara seseorang dibalik punggungnya membuat Jhon menoleh kebelakang.
" Jhon? "
Jhon mengeryit dan menatap orang itu tanpa ekspresi.
" Kau? "
" Jhon, aku merindukan mu. "
" Apa yang kau lakukan, Lusi? " Jhon mencoba untuk menjauhkan tubuh gadis yang tak lain adalah Lusiana.
" Jhon, aku benar-benar merindukan mu. Aku ingin kembali, Jhon. " Rengek Lusiana. Seperti itulah dia, manja adalah sifat Lusiana yang tidak pernah menghilang.
Jhon menjauhkan tubuh Lusiana tapi tidak secara kasar. Jujur, dia memang merindukan Lusiana. Tapi apa rasa rindu yang ia rasakan tidaklah sama seperti saat dulu mereka masih menjalin hubungan.
" Lusi, jika sekarang kau ingin kembali kepadaku, maka maaf. Sudah tidak ada tempat untukmu lagi. Aku sudah memiliki istri dan anak. Tolong jangan menyamakan ku, dengan sosok yang sama beberapa tahun yang sudah jauh berlalu itu. "
Jhon kembali kembali memutar tubuh menghadap apoteker yang sedari tadi menjadi saksi secuil adegan patah hati.
" Tolong berikan aku beberapa alat uji kehamilan. "
Setelah mendapatkan apa yang ingin dia beli, Jhon memutuskan untuk segera pergi dari sana dan meninggalkan Lusiana yang masih diam memandangi punggung Jhon yang semakin menjauh.
__ADS_1
Aku tahu semua, Jhon. Kau menikahi wanita itu karena memiliki maksud kan? dan anak itu juga bukan anak mu. Sekarang kau ingin mengusirku dengan membeli alat uji kehamilan? tidak mungkin! Jhon ku tidak akan pernah menyentuh wanita lain
TBC