
Acara ulang tahun berlangsung dengan lancar. Suara nyanyian lagu selamat ulang tahun juga dinyanyikan dengan begitu bahagia. Potong kue, dan penyerahan hadiah juga sudah selesai. Tida ada keributan yang terjadi antara Jehan, Elia maupun Siska. Bukan tanpa alasan, itu semua terjadi karena Elia terus menghindari tatapan tajam dari Siska. Begitu juga dengan Jehan, gadis itu juga sama sekaki tidak menghiraukan Siska yang sesekali menyindir saat ada kesempatan. Tapi karena tidak ada tanggapan dari Elia dan Jehan, Siska hanya menatap kesal dengan wajah yang terlihat sebal.
" Kakak ipar, temani aku belanja sebentar ya? " Pinta Jehan karena menyadari jika acara ulang tahun salah satu sahabatnya sudah akan berakhir.
" Kau pasti bahagia ya karena tidak kehilangan uang meskipun bercerai dengan kakak ku. " Sela Siska menatap dengan tatapan menghina.
" Syukurnya memang begitu. Aku malah lebih bahagia, karena suamiku sekarang jauh lebih baik dari kakak mu. Jauh lebih tampan, setia dan lebih kaya dari pada kakak mu. " Jawab Elia santai.
" Lagi pula kakak ku sangat kaya kok. Mau seberapa pun uang yang Elia butuhkan, kakak ku pasti akan memberikannya dengan senang hati. Lagi pula untuk apa uang banyak kalau bukan untuk dihabiskan? " Timpal Elia yang di angguki sebagian sahabatnya.
" Itu pemikiran wanita yang matrealistis. " Siska tersenyum jahat setelah mengatakan itu.
" Matrealistis? memang saat kau mau menikah nanti, kau tidak akan mencari pasangan yang banyak uang? apa kau mau menikah dengan orang berpenghasilan minimum? tidak kan? kalau tidak matrealistis, jangan lahir menjadi wanita. Sedangkan keluargamu saja matrealistis semua tuh. " Jehan melemparkan tatapan sinisnya.
" Jangan kurang ajar! " Siska menunjuk dengan tatapan marahnya.
" Kau lah yang kurang ajar! " Elia menepis jari telunjuk Siska yang menusuk di hadapan Jehan.
" Apa kau lupa? selama menjadi kakak ipar mu, kau memperlakukan ku seperti sampah. Bahkan, aku adalah bahan hinaan mu setiap waktu. Bukankah kau selalu mengatakan jika aku miskin, udik, perempuan hina dan perempuan geng selokan? itu adalah secuil hinaan yang tidak sebanding dengan kata-kata lain yang lebih menyakitkan. Sekarang ingatlah dulu siapa yang kurang ajar di sini. "
" Itu semua salah mu! salah mu yang bodoh dan miskin. "
Elia dan Jehan tersenyum saling menatap sesaat lalu kembali menatap Siska.
" Benarkah? tunggu saja waktunya, karena saat itu tiba nanti, kau tidak akan memiliki kekuatan untuk mengangkat wajah mu di hadapan ku. "
Siska kembali tersenyum dengan tatapan yang sudah pasti menghina.
__ADS_1
" Kenapa aku tidak berani? kau hanyalah seonggok sampah yang di buang oleh kakak ku, dan di pungut oleh kakaknya Jehan. Memang apa yang begitu hebat dari dirimu sampai aku harus merasa tidak mampu mengangkat wajah? "
Semua orang kini tengah menatap Elia degan tatapan menghina, sama seperti Siska menatapnya. Tapi Elia yang sekarang, tidak akan membiarkan lagi seseorang menghardiknya. Terlebih dari keluarga Dargo yang tidak bermoral itu.
" Jangan lupa. Beberapa waktu lalu, kakak mu mengikuti ku dan memaksaku untuk kembali padanya. Mau ku tunjukkan buktinya sekarang? " Elia tersenyum setelah berucap.
" Jangan sembarangan menuduh! memang apa yang lebih dari mu? Zila tentulah jauh lebih unggul darimu. Dia cantik, berprestasi, dan memiliki kepribadian baik. Dia kan kaya, tentu saja di didik dengan baik. Sedangkan kau? hanya benalu yang tidak penting! "
Sebenarnya Jehan sudah begitu geram ingin memukul wajah sombong Siska, tapi dia harus menahan diri karena kesempatan kali ini dia gunakan untuk Elia.
" Benarkah? jika orang yang memiliki banyak uang itu sudah pasti bisa mendidik anaknya dengan baik, lalu kenapa sifat mu seperti anjing liar? "
" Pft.... " Jehan menutup mulutnya menggunakan punggung tangannya. Dia bahkan tidak pernah memikirkan tentang hal ini. Elia benar-benar berani. Batinnya.
" Dasar kurang ajar! " Siska mengangkat tangannya hendak menampar Elia. Tapi Jehan dengan cepat menepis tangan Siska dengan kasar.
" Jadi Elia benar-benar menikah dengan kakak Jhon? " Tanya sekumpulan orang yang tadinya menatap Elia sebelah mata.
" Iya. Mereka juga sudah memiliki anak. Namanya Quen Jholive Damien. Dia gendut dan snagat cantik. " Jehan meraih ponselnya dan menunjukkan beberapa Photo dan Video untuk ditunjukkan kepada teman-temannya.
Hampir semua dari mereka mengagumi Ive. Dan itu semua sukses membuat Siska semakin sebal.
" Kau lupa ya? anak itu kan anaknya kakak ku? " Sela Siska di tengah-tengah riuhnya orang yang sedang mengagumi Ive dari photo dan Videonya.
" Jangan lupa juga, kau dan Dargo tidak mengakui anak ku. Jangan pernah lagi mengatakan jika Ive adalah anak kakak mu. Karena sejak dilahirkan, Ive adalah anakku dan anaknya Jhon. Tidak ada lagi hubungannya dengan Hendrick apalagi dengan Dargo. " Elia menatap tegas manik mata Siska yang masih menatapnya kesal.
" Dasar perempuan ******! " Maki Siska.
__ADS_1
" Bukankah kau yang membuat ku menjadi ******? " Elia masih tersenyum dan tidak nampak kekesalan di wajahnya.
Merasa sudah tidak bisa lagi melawan Elia, Siska memutuskan untuk menyambar tasnya dan pergi begitu saja tanpa kata.
" Good by... '' Ucap Jehan sembari melambaikan tangan dengan senyum menghinanya yang jelas sekali sengaja ia tunjukkan.
Elia langsung menyatukan kedua telapak tangannya. Membuatnya saling menggenggam karena merasa energinya habis untuk membalas makian Siska hari ini. Biarpun sudah mempersiapkan diri dengan baik, nyatanya Elia masih belum bisa leluasa untuk memaki seperti itu. Dia bahkan sudah berusaha sebaik mungkin agar tidak terlihat gemetaran tadi.
Ya Tuhan, memaki orang ternyata sangat menakutkan. Kenapa keluarga Dargo bisa begitu fasih saat memaki ku ya? kenapa juga tubuhku langsung gemetar seperti ini?.
Beberapa saat kemudian, Jehan akhirnya mengajak Elia untuk segera pulang. Dia sebenarnya ingin tertawa saat tak sengaja melihat Elia yang pucat setelah Siska pergi.
" Elia, tadi itu kau hebat loh. " Jehan mengacungkan dua jempolnya untuk Elia.
" Aku benar-benar lemas setelah memaki. Aku tidak biasa melakukan hal seperti itu. "
Jehan terbahak-bahak mendengar pengakuan Elia yang sebenarnya dia sendiri juga sudah menyadarinya. Tapi saat mendengar langsung dari Elia, rasanya begitu menggelitik sampai dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
Sesampainya di kediaman Damien. Jehan yang sudah merasa lelah langsung masuk ke kamarnya. Sedangkan Elia membersihkan diri, lalu turun untuk menemui Ive yang hampir tiga jam tidak ia lihat.
" Mau kemana? " Tanya Jhon yang tak sengaja berbarengan membuka pintu bersama Elia.
" Jhon? aku mau menemui Ive. "
Bukanya memberikan jalan, Jhon justru melangkahkan kaki tepat dihadapan Elia yang otomatis membuat Elia harus mundur.
" Bantu aku mandi dulu ya? "
__ADS_1
TBC