
Setelah menghabiskan malam panjang yang begitu luar biasa dan melelahkan, Zila tertidur hingga pagi datang. Perlahan dia mulai membuka mata lalu meraba bagian tempat tidur yang semalam digunakan oleh Jhon. Zila langsung membuka matanya lebar-lebar karena tak mendapati sosok Jhon disana.
" Jhon kemana? apa dia sudah bangun dari tadi? "
Zila bangkit dari posisinya menuju kamar mandi untuk mencari keberadaan Jhon. Ternyata benar-benar sudah pergi. Tapi Zila masih bisa tersenyum bahagia. Selain sudah tidur dengan Jhon, dia juga sudah memiliki rekaman dari kamera yang ia sembunyikan di sudut ruangan dan ia tutupi dengan vas bunga. Sekarang saatnya menjalankan rencana selanjutnya agar bisa lebih mudah untuk merebut posisi Elia sebagai Nyonya Damien.
Setelah memikirkan bagaimana melancarkan langkah selanjutnya, Zila dengan wajah yang begitu memancarkan kebahagiaan memutuskan untuk mandi dan membersihkan diri dengan tenang. Saat berada di dalam kamar mandi, Zila semakin terlihat bahagia saat melihat begitu banyak tanda merah di beberapa titik tubuhnya. Zila menyentuh satu persatu tanda itu dengan hati yang begitu bahagia. Sungguh dia tidak menyangka kalau pria yang terlihat teguh pendirian dan hebat seperti Jhon akan terpesona olehnya.
" Sepertinya, aku lahir dengan jutaan pesona yang luar biasa. Buktinya, semua pria yang aku inginkan juga menginginkan ku. "
Zila kembali tersenyum lalu melanjutkan kegiatan mandinya yang tertunda. Cukup lama dia di dalam kamar mandi. Dia benar-benar ingin menikmati hari bahagia ini dengan sangat tenang. Menghilangkan segala lelah karena sebentar lagi akan meyambut hari yang bahagia.
***
Pagi hari ini Elia terbangun lebih pagi dari pada Jhon. Tidak tahu kenapa, sepertinya Jhon terlihat malas untuk bangun pagi.
" Sayang, biasanya sudah bangun. Memang tidak takut terlambat? " Mengusap rambut Jhon karena memang begitulah cara Elia membangunkan suaminya. Bukanya bangun, Jhon justru hanya menggeliat dan kembali mengambil posisi nyaman untuk kembali tidur.
" Sayang, apa hari ini tidak bekerja? "
Jhon membuka matanya sesaat lalu meraih tangan Elia dan kembali mendekapnya erat. Bukanya tidak mau bekerja, dia hanya malas kalau harus menghadapi Zila. Wanita itu pasti akan datang pagi-pagi sekali untuk menemuinya dan membahas apa yang terjadi semalam.
" Bagai mana kabar anak kita disini? " Tanya Jhon sembari memegang perut Elia yang sudah mulai terasa membesar di bagian bawah. "
" Kemarin Dokter kan sudah memberi tahu, dia baik-baik saja. "
__ADS_1
Jhon tersenyum lalu mengubah posisinya hingga berada di atas Elia.
" Jhon! kau ini bukan manusia ya? semalam kan sudah. " Ucap Elia yang merasa heran. Tidak tahu kenapa, setelah kembali dari ruang kerjanya dia begitu semangat untuk melakukan itu.
" Semalam aku lupa menanyakan kabar anak kita yang ada di dalam perut. Jadi aku mau menyapa dia sekarang. "
Lagi, Elia hanya bisa menurut saja apa yang di lakukan Jhon.
Kembali ke Hotel. Saat ini Zila sudah siap dengan rencana selanjutnya. Dia juga nampak cantik dengan setelan dress ketat berwarna merah. Rambutnya terurai panjang dan di buat sedikit Curly. Make up yang sedikit tebal dengan lipstik warna merah selaras dengan dress yang ia kenakan. Sepantas mungkin dia mengatur senyumnya agar terkihat menawan dan anggun. Dia berjalan ke kanan dan ke kiri dengan hils yang menopang tubuh agar menambah mewah penampilannya. Dia kembali menatap dirinya di cermin dengan percaya diri.
" Baiklah, saat nya menemui Jhon. Dia pasti pergi terburu-buru karena tidak mau terlambat bekerja. "
Zila yang memang sudah prepare juga tidak perlu repot karena dia membawa mobil nya juga. Apalagi jalanan hari ini lumayan lancar dan tidak perlu lagi bermacet-macetan seperti biasa. Sesampainya di perusahaan Damien, Zila dengan wajah sombongnya langsung berjalan menuju lift khusu yang memang hanya digunakan Jhon khusus untuk para pentinggi perusahaan. Bukanya tidak ada yang mencegah, sebenarnya resepsionis saat itu sudah mencegah, dua security yang sedang bertugas juga mencegahnya. Tapi dengan percaya dirinya dia mengatakan bahwa Jhon sendirilah yang memintanya datang dan langsung ke ruangannya. Tentu pada awalnya dia tidak percaya dan menghubungi Ken. Sesuai rencana, Ken membiarkan saja Zila datang ke ruangan Jhon.
" Jhon? " Panggil Zila sembari menatap pria yang tengah duduk di kursi sembari menatap dinding kaca dengan arah membelakangi Zila. Mendengar ada yang menyapa, pria itu langsung berbalik dengan memutarkan kursinya.
" Selamat pagi, Nyonya Dargo? " Ken tersenyum lalu bangkit dari duduknya.
" Aku bukan Nyonya Dargo! lalu, kenapa kau duduk di kursinya Jhon? kau sanagat kurang ajar! " Ucap Zila dengan tatapan kesalnya.
" Oh, maaf. Saya baru tahu kalau anda bukan Nyonya Dargo lagi. Lagi pula, saya juga belum mendengar tentang perceraian anda. "
" Memang kenapa? apa urusannya dengan mu? "
Lagi pula, sebentar lagi juga aku akan menjadi Nyonya Damien. Kalau aku sudah menjadi istrinya nanti, kau adalah orang pertama yang akan ku tendang menjauh bersama dengan Elia.
__ADS_1
" Oh, maaf kalau bicara saya kurang sopan. Saya hanya penasaran saja. Ngomong-ngomong, untuk apa anda datang kesini? ada yang bisa saya bantu? " Tanya Ken lalu tersenyum sopan. Iya sopan tapi hanya di wajah saja. Kalau di hati, dia benar-benar ingin sekali memberikan racun tikus untuk wanita yang tidak tahu diri itu.
" Bukan hanya cara bicara mu saja. Dengan kau duduk di kursi Jhon, kau juga sudah tidak sopan. Kalau Jhon tahu, dia pasti akan langsung memecat mu. " Ancam Zila.
Ken kembali tersenyum. Memang luar biasa rasa tidak tahu malu wanita itu. Batin Ken.
" Kalai begitu, biarkan saja nanti Jhon yang menghukum saya. "
Zila terperangah kesal menatap Ken.
" Jhon? kau memanggil pemilik perusahaan Damien dengan sebutan Jhon? kau ini tidak punya otak ya?! bagaimana bisa kau se kurang ajar ini? "
Sungguh luar biasa, harus banyak bersabar kalau menghadapi wanita semacam Zila ini. Belum juga apa-apa sudah bertingkah seperti Nyonya Damien. Benar-benar tidak terbayangkan kalau dia benar-benar menjadi Nyonya Damien.
" Maaf Nyonya. Tapi memang itu sudah menjadi kebiasaan saya saat ini. Tolong jangan mengkritik karena jika saya membuat kesalahan, biarkan saya Jhon, eh maksud saya Tuan menghukum saya sendiri. "
Zila melirik sinis. Sisi bibirnya juga terangkat sebelah.
" Sekarang katakan. Dimana Jhon? "
Ken terdiam sesaat.
" Tuan sudah pulang, Nyonya. Beberapa saat lalu beliau datang dengan keadaan yang terlihat lelah. Setelah beberapa saat, beliau mengatakan kepada saya kalau ingin pulang dan istirahat. "
Penuturan Ken barusan benar-benar membuat Zila tersenyum bahagia. Tidak perlu diragukan lagi, orang yang semalam adalah Jhon. Dan sekarang, dia akan lebih mudah untuk melancarkan misi selanjutnya.
__ADS_1
Jhon, aku akan memaksamu menikahi ku secepatnya.
TBC