
Pagi ini, Jhon Elia tengah mempersiapkan diri untuk memeriksakan kandungan Elia. Sungguh sangat tidak biasa sikap Jhon sedari bangun tidur. Padahal sudah jelas kalau mau berangkat ke rumah sakit pukul sembilan pagi, tapi pria itu sudah bersiap dari pukul enam pagi. Tidak tahu apa alasannya, tapi sepertinya Jhon terlaku antusias karena walau bagaimana pun, ini adalah anak kandung pertamanya. Dan yang lucunya lagi, Jhon selaku melihat Jam sembari bergerundel dan mengatakan jika jam hati ini bergerak sangat lambat dari biasanya. Tentu lah Elia juga keheranan. Tapi ya sudahlah, apa yang dia pikirkan sepertinya Elia juga lumayan paham. Kalaupun dutanya juga pasti tida akan mengaku.
" Elia, ini sudah pukul delapan. Jadi kita kapan akan berangkat? " Tanya lagi Jhon yang sudah hampir tujuh kali bertanya dengan pertanyaan yang sama.
" Baiklah, kita berangkat saja. " Jawab Elia. Meskipun ini terlalu awal, lebih baik turuti saja apa mau nya Jhon. Kalau tidak, pria itu akan terus bergerundel untuk hal yang sama setiap waktu.
Dengan penuh semangat Jhon berjalan menggandeng tangan Elia. Tadinya dia ingin mengajak Ive. Tapi peraturan rumah sakit yang melarang membawa balita tidak bisa ia bantah.
Hanya butuh dua puluh menit saja, akhirnya mereka sudah sampai di rumah sakit yang ingin mereka kunjungi. Dan sisa tiga puluh menit nya, ia gunakan untuk melakukan prosedur apa saja yang memang harus dipenuhi. Setelah itu semua selesai, akhirnya Jhon bisa bernafas lega dan kembali ke Elia yang sedari tadi tengah menunggunya di ruang tunggu.
" Sudah selesai? " Tanya Elia.
" Sudah. Kita tidak akan mengantri. Aku sudah memesan Dokter spesialis terbaik di rumah sakit ini. Mereka bilang, kita hanya perlu menunggu sekitar lima atau sepuluh menit lagi. " Ucap Jhon setelah mengambil posisi duduk disamping Elia.
Elia mengangguk lalu meraih jemari Jhon dan mengaitkannya. Tentu saja Jhon tidak keberatan. Dia justru menggenggam erat tangan Elia dengan tekanan yang sedang.
Kau pasti sangat gugup ya Jhon? tangan mu dingin.
Elia tersenyum menatap Jhon yang kini tengah menatap lurus ke arah depan.
" Tuan dan Nyonya Damien? " Panggil salah satu perawat.
" Kami. " Jawab Jhon.
" Mari ke ruang pemeriksaan, Tuan dan Nyonya. " Perawat itu berucap sopan lalu menuntun arah hingga sampai ke sebuah ruangan dan membuka kan pintu dengan sopan. Jujur, baru kali ini Elia mendapatkan pelayanan yang luar biasa ramah dan sangat sopan
" Selamat pagi, Tuan dan Nyonya Damien? " Sapa salah Dokter paruh baya yang akan memeriksa Elia.
__ADS_1
" Selamat pagi. " Jawab Elia dan Jhon bersamaan. Setelah masuk kedalam ruangan, Elia dan Jhon dipersilahkan duduk untuk melakukan konsultasi mengenai kehamilan dan menentukan kapan haru lahir diperkirakan. Setelah selesai, Elia menimbang berat badan dan memeriksa tekanan darah. Laku tindakan yang terakhir adalah melakukan pengecekan melalui pemeriksaan Ultra Sonografi atau yang biasa di sebut USG.
" Lihat ini, Nyonya dan Tuan. Ini adalah calon bayi anda. "
Elia tersenyum bahagia melihat janin mungil yamg mulai bergerak di layar monitor. Tapi lain hal nya dengan Jhon. Pria itu hanya bisa mengeryit bingung dan mencari-cari sebelah mana anak nya berada? gambar disana saja hanya hitam putih dan tidak jelas.
" Sebenarnya, yang mana bayi kami Dok? " Tanya Jhon yang sudah tidak tahan lagi memikirkan kebingungannya sendirian.
Dokter itu tersenyum lalu menunjukkan lagi kepada Jhon.
" Ini adalah kepalanya, Tuan. Ini kaki dan ini tangannya. Dan ini, adalah perut dan bagian dada nya. "
" Tidak jelas, Dok. " Ujar Jhon terus terang.
" Iya memang seperti ini, Tuan. Apa anda ingin mendengar detak jantung janin anda? " Tanya Dokter yah langsung di angguki oleh Jhon.
Suara detak jantung yang terus terdengar tanpa henti.
" Ini suara jantung bayi kami? " Tanya Jhon dengan tatapan tidak percaya.
" Iya, Tuan. " Jawab Dokter itu.
Jhon tersenyum tapi kelamaan dia menjadi ingin menangis karena terharu.
" Sayang, kenapa menangis? " Tanya Elia khawatir.
Jhon langsung meraih tangan Elia dan menciumnya. " Aku sangat bahagia, Elia. Aku tidak bisa menahan rasa bahagia hingga aku ingin menangis. "
__ADS_1
Baru saja berhenti berucap, air mata sudah lebih dulu jatuh membasahi pipi Jhon. Sungguh tidak bisa ia ungkapkan hanya dengan kata-akata Bagaiamana suasana hatinya saat ini. Bahagia juga sedih. Bahagia karena bisa mendengar detak jantung bayinya, Sedih karena pernah menganggap anak adalah beban hidup. Dan ada beberapa perasaan bahagia yang tida tahu dari mana itu tiba-tiba saja datang.
" Sayang,... " Panggil Jhon yang membuat Elia tersentak. Ini adalah kali pertama Jhon memanggilnya dengan sebutan sayang. Sungguh, kali ini justru Elia lah yang ingin menangis.
Jhon mencium punggung tangan Elia lagi dan lagi. Dia bahkan tidak menghiraukan Dokter yang masih berada disana.
" Sayang terimakasih ya? aku janji. Mulai dari hari ini, aku akan menjagamu dan anak-anak kita dengan baik. Aku akan menjadikan Ive dan adik-adiknya sebagai anak yang paling bahagia di hidup ku. "
Elia tersenyum sembari menahan genangan air mata yang mulai memenuhi pelupuk matanya.
" Lalu bagaiman dengan ku? apa kau akan segera melupakan ku kalau anak kita sudah lahir? apa kau hanya akan fokus kepada Ive dan bayi ini? "
Jhon mengusap kepala Elia lembut.
" Kau adalah yang utama bagiku. Kau adalah teman hidupku. Kita akan bersama sampai maut yang memisahkan. Lalu bagaimana aku bisa menyingkirkan mu dari posisi mu? "
" Ehem....! " Dokter itu memang cukup tersentuh dengan sepasang suami istri yang begitu bahagia ini. Tapi sepertinya harus menyelesaikan pemeriksaan terlebih dulu dan dilanjutkan saja dirumah bisa kan?
" Eh, maaf Dokter. Kami terlaku bahagia. " Ucap Elia yang merasa malu.
" Tidak apa-apa, Nyonya. Sejujurnya saya sangat tersentuh melihat kalian begitu bahagia menyambut kedatangan bayi ini. Saya yakin, anak-anak kalian pasti akan merasa beruntung memiliki orang tua seperti Nyonya dan Tuan Damien.
Setelah selesai dengan pemeriksaan USG, Jhon dan Elia kembali ke meja Dokter untuk mendengarkan beberapa hal yang harus dihindari saat hamil. Jhon mendengarkan dengan seksama tiap peraturan yang disebutkan oleh Dokter paruh baya itu.
" Usia kandungan anda saat ini sudah menginjak minggu ke sembilan, Nyonya. Seperti yang sudah saya jelaskan tadi. Anda dan bayi anda sangat sehat. Jadi jangan khawatir tentang kebutuhan ranjang. Semua itu tidak akan menjadi masalah saat kehamilan ini. "
Hah! sungguh luar biasa Dokter wanita paruh baya itu. Dia bisa menebak dengan jelas kalau Jhon ingin sekali mengajak hal ini. Padahal, saat pemeriksaan pertama juga sudah di jelaskan bahwa tidak perlu khawatir. Tali sepertinya dia masih ingin memastikan dari Dokter lain.
__ADS_1
TBC