
Hendrick menghempaskan tubuhnya dengan kasar di tempat tidur king size yang berada di kamarnya. Jujur saja, apa yang terjadi saat ia kembali dari pemilihan itu, rasanya dia begitu menyesal karena tidak mengetahui apa-apa. Sekarang dia hanya bisa meratapi nasibnya yang begitu tidak beruntung. Hendrick mengingat-ingat kembali semua peristiwa demi peristiwa yang datang menghancurkan dirinya. Mulai dari perceraian, pernikahannya dengan Zila, dan seterusnya hingga saat ini. Dengan segenap keyakinan dia justru menyalahkan Elia.
Jika saja aku tidak begitu tergiur dengan tubuh mu yang seperti sampah itu, jika saja kau tidak pernah hadir di dalam hidupku, jika saja kau dan aku tidak saling mengenal, semua pasti tidak akan seperti ini. Elia, entah siapa kau sekarang ini, aku sangat membencimu, Elia. Dan Ive, anak bodoh itu justru memanggil Jhon sebagai Ayahnya. Padahal jelas-jelas wajahnya mirip dengan ku.
Sudah tidak bisa lagi menangis karena sadar itu tidak akan ada gunanya. Memaki juga tidak akan membuahkan hasil. Hendrick berpikir, mencari cara untuk membenahi keadaan keadaan ini. Pertama-tama, dia harus memiliki modal untuk membuat usaha baru. Memang tidak mudah, tapi bergantung kepada Dargo yang tidak lagi memiliki kekuatan, hanya akan membuatnya semakin terjerumus dan terpuruk berkepanjangan.
" Dari mana aku akan mendapatkan modal sebanyak itu? saham Dargo sudah tidak ada lagi, apa harus menjual semua aset-aset penting? beberapa rumah, apartemen, dan yang lainya? tapi Kakek tidak mungkin juga mengizinkannya. " Hendrick mengusap wajahnya lalu kembali bangkit dari posisinya. Memikirkan hal seperti tentulah membuat kepalanya sakit karena dipenuhi semua masalah besar ini.
Setelah menceritakan semua masalah ini kepada keluarga Dargo, Hendrick memang tidak berniat keluar dari kamar sebelum menemukan solusi dari semua masalah ini. Lama dia berpikir hingga akhirnya dia memutuskan sesuatu untuk masa depannya dan juga keluarganya.
" Baiklah, aku akan pergi ke luar negeri dan memulai bisnis kecil-kecila disana. Sulit bagiku kalau harus berbisnis receh disini. Selain banyak orang yang akan mengenaliku, ini juga tidak akan baik untuk nama baik Dargo. "
Mantap sudah niatan Hendrick kali ini. Dia segera mengemas beberapa pakaian dan memasukkannya ke dalam sebuah koper yang berukuran besar. Memang terkesan buru-buru, tapi ini mau tidak mau harus dia lakukan demi mencari modal usaha agar bisa membangun kembali Dargo. Sebuah nama besar keluarga yang begitu terpandang dari generasi ke generasi. Dia bertekad tidak akan membiarkan Dago terpuruk terlalu lama. Mungkin memang membutuhkan beberapa waktu, tapi Hendrick yakin akan kemampuannya dalam berbisnis.
Dengan langkah yang cepat, Hendrick keluar dari kamar dan berjalan melewati ruang keluarga. Tempat dimana semua orang tengah membicarakan tentang apa yang menimpa Dargo.
" Hendrick? " Panggil Zila lalu berdiri karena terkejut saat melihat Hendrick membawa koper besar.
__ADS_1
" Kau mau kemana? " Tanya Ibunya Hendrik bingung. Masalah baru saja terjadi dan sekarang akan ada lagi?
Hendrick menatap satu persatu anggota keluarganya. Nampak sekali raut kesedihan yang begitu mendalam dari wajah mereka. Tapi mau bagaimana lagi? kepergiannya kali juga demi mengembalikan wajah ceria mereka.
" Aku harus keluar negeri, nenek, kakek, Ibu dan Ayah. Aku tahu ini terlalu terburu-buru, tapi aku tidak bisa membuang banyak waktu dan harus sesegera mungkin mengembalikan Dargo ke posisi semula. Biarkan aku merintis usahaku di luar negeri. "
" Tidak! itu adalah kebodohan! kenapa harus keluar negeri? biaya dan keperluan mu disana akan menguras uang yang tersisa. Aku tidak bermaksud meremehkan kemampuan mu. Tapi jika kau pergi keluar negeri, keuangan mu tidak akan bisa kau atur dengan baik. "
" Tapi, kek. Jika aku terus berada disini, aku tidak bisa- "
" Tidak bisa apa? kau malu? " Tanya Kakek dengan tatapan tajamnya. Tentulah dia kecewa dan marah. Dalam bisnis, kelicikan dan saling injak satu sama lain adalah hal yang biasa. Tapi yamg membuatnya tidak habis pikir adalah putra dan cucu nya yang sudah ia didik sebaik mungkin dalam berbisnis justru membuat dia kehilangan Dargo Company. Perusahaan itu sudah berlangsung selama empat generasi dan tidak disangka, pada akhirnya akan sirna oleh Hendrick dan Ayahnya.
" Kalau tahu seperti ini, aku tidak akan membuat kesalahan dengan menyanjungmu secara berlebihan. Kau bahkan tidak bisa mengalahkan Jhon yang hanya bermodalkan nekat. Padahal kau lahir dan hidup bergelimang harta, kami juga mengirim mu sekolah di universitas terbaik agar kau menjadi pewaris Dargo yang pantas. Benar-benar memalukan. "
Hendrick terdiam dengan kepalan tangan yang mencengkram kuat. Ini adalah kali pertama kakeknya mengatakan hal menyakitkan seperti ini. Sedari kecil, Hendrick selalu membanggakan dengan prestasi nya di sekolah, sementara Jhon, pria itu selalu hobi memukul teman sekelasnya dengan alasan karena telah menghina nya. Lalu apa sekarang? Hendrick yang sedari kecil sudah bersusah payah menjadi yang terbaik agar selalu dicintai oleh semua anggota keluarga Dargo, kini dianggap memalukan. Padahal, orang yang seharusnya merasakan tekanan ini adalah Ayahnya, tapi apa mau dikata, Kakek hanya akan fokus kepada ketidak telitiannya.
Hendrick yang tidak mau berdebat atau mendengar kata-kata menyakitkan lagi, memilih untuk kembali ke kamar tanpa mengatakan apapun sebelum beranjak pergi.
__ADS_1
Setelah Hendrick kembali menuju ke kamar, kakek kini menghela nafas lalu menatap tajam putra sulungnya ya g sedari tadi tertunduk lesu.
" Kau sama tidak bergunanya! sekarang, apa yang akan kau lakukan? bisa-bisanya tidak meneliti terlebih dulu sebelum menandatangani kontrak dengan keuntungan fiktif. "
" Maaf, Ayah. Tapi semua ini seperti terencana dengan baik. Aku yakin, Jhon pasti ada dibalik ini semua. " Ucap Ayahnya Hendrick dengan mimik wajah yang terlihat begitu meyakinkan.
" Jangan asal bicara! kau memiliki bukti? " Tanya Nenek sinis.
" Memang belum ada buktinya, Bu. Tapi hanya Jhon yang bisa melakukan itu kepada kita. "
Nenek menatap nanar manik mata Ayahnya Hendrick yang menajam seolah kalimat tadi diucapkan dengan dasar yang kuat.
" Dengar, jangan melibatkan Jhon dalam hal ini. Semua yang terjadi adalah karena ulah mu. "
" Bu, percayalah padaku untuk kali ini. " Pinta Ayah nya Hendrick sembari mengatupkan kedua telapak tangannya memohon.
Walau benar Jhon yang melakukanya, itu semua wajar bagi Dargo untuk menerimanya. Rasa sakit karena memisahkan orang tuanya, rasa sakit karena Ayahnya lebih memilih untuk pergi dari pada kembali ke Dargo, hinaan kepada Ibunya, adiknya, dan istrinya, tentu saja semua itu membuat hatinya menyimpan dendam yang begitu besar. Jhon, Nenek tidak akan marah untuk hukuman yang kau berikan kepada Nenek. Semoga saja Ayah mu mendengar kabar ini dan sudi untuk kembali.
__ADS_1
TBC