Second Husband

Second Husband
Episode 72


__ADS_3

Satu minggu terlewati dengan begitu damai. Entahlah, Susana berubah menjadi damai beberapa hari terakhir ini.


" Elia, ini sudah siang. Apa ini masih belum cukup? " Rutinitas Elia yang tidak bisa absen adalah menghirup aroma ketiak Jhon.


Beginilah Jhon. Dia menjadi suami yang sangat pengertian meski dia merasa agak kerepotan menghadapi keinginan Elia. Mulai dari harus sudah sampai rumah pukul enam sore, tidak boleh tidur menggunakan baju, tidak boleh merubah posisi saat tidur, tangannya tidak boleh jauh dari perutnya. Belum lagi masalah makanan. Elia sangat berbeda dari kebanyakan Ibu hamil kalau mengenai makanan. Dia selalu meminta makanan yang memiliki rasa yang kuat. Bahkan Jhon selalu mual dan mengeryit saat memakan makanan yang sama dengan Elia.


" Elia? "


" Em? "


" Apa masih belum cukup? "


" Masih. "


Jhon terdiam dan tak berani mengatakan apapun lagi. Sebenarnya sungguh geli karena hembusan nafas Elia seperti menggelitik ketiaknya. Tapi mau bagaimana lagi? dia pernah melarang Elia melakukan itu, tapi yamg ia dapatkan malah wajah cemberut Elia dan penolakan saat sedang menginginkan hubungan suami istri. Maka mulai dari hari itu, dia sama sekali tidak pernah melarang Elia melakukan apapun yang dia inginkan.


Suara dering ponsel membuat Jhon sedikit mengubah posisinya agar bisa meraih ponselnya. Ken? batinnya saat melibat layar ponsel nya. Segera dia langsung menekan tombol agar panggilan segera terhubung.


" Ada apa, Ken? "


Jhon, ada tamu spesial untuk mu.


Jhon mengeryit berpikir sejenak.


" Siapa? "


Huh!! ini hari yang luar biasa. Sedati pukul tujuh, sudah ada dua wanita yang menunggu di ruang tunggu.


" Dua wanita? siapa? "


Zila dan Lusiana.


Jhon menghela nafas kasarnya. Menyebalkan! kenapa dua mahkluk itu muncul bersamaan sih?


" Aku belum bisa ke kantor sekarang. "


Aku tahu, kau pasti sedang di kungkung oleh istrimu kan?


" Memang ada alasan lain? " Ujar Jhon lalu segera memutuskan sambungan teleponnya. Dia kembali fokus dengan Elia yang masih saja betah tidur sembari mengendus aroma ketiaknya. Sungguh sangat sederhana wanita cantik yang kini menjadi istrinya itu. Tida menginginkan hal yang seperti kebanyakan wanita lainnya. Hamil pun masih terhitung mudah untuk di lakukan.

__ADS_1


" Elia, ini sudah pukul delapan, boleh aku bangun sekarang? " Elia mulai menggeliat dan perlahan-lahan membuka matanya.


" Sayang? "


" Boleh aku bangun? " Tanya Jhon lagi.


" Iya. Sekarang pukul berapa? " Tanya Elia seraya perlahan bangkit dari posisinya.


" Delapan. " Jawab Jhon.


" Apa?! " Elia menutup mulutnya karena kaget. Sudah beberapa hari ini dia terus menerus bangun sangat siang. Bahkan sarapan juga sudah terlewatkan.


" Kenapa baru membangun kan ku sekarang? apa kau ada meeting pagi? apa yang harus aku siapkan? " Tanya Elia panik.


Jhon meraih tangan Elia dan menahan Elia agar tida banyak bergerak karena panik.


" Santai lah, Elia. Tida ada rapat. Kau tenang dan jangan panik seperti itu. "


Elia mendesah lega. Dia perlahan bangkit untuk mencuci wajahnya dulu agar Jhon bisa segera mandi.


" Mandilah, aku akan menyiapkan pakaian mu. "


" Ini makan lah. " Elia menyuapkan sandwich untuk Jhon karena Jhon terlihat repot dengan kancing lengannya. Jhon tersenyum lalu menggigit sandwich dari tangan Elia.


" Makan juga untuk mu. Kau tidak mau bayi kita kurus kan? " Elia mengangguk lalu menggigit bekas gigitan Jhon dan begitu seterusnya sampai dua sandwich ludes.


" Aku berangkat sekarang ya? katakan kepada Ive, maaf karena tadi pagi tidak ikut sarapan dengannya. Nanti kalau Ive dan Ibu sudah pulang dari belanja, telepon aku menggunakan panggilan Video bersama Ive ya? " Elia mengangguk setuju. Sebuah rutinitas yang sekarang sudah mulai terbiasa, Jhon akan mencium kening Elia sebelum dia berangkat bekerja.


" Jaga dirimu di anak-anak. Jangan terlalu lelah, kau mengerti? "


" Iya. Kau juga hati-hati ya? "


Elia tersenyum menatap kepergian Jhon hingga mobil yang Jhon gunakan menjauh hingga tak terlihat lagi. Saat Elia ingin kembali masuk ke dalam rumah, sebuah mobil melesat memasuki halaman setelah sebelumnya menerobos pintu gerbang yang akan di tutup. Elia terdiam sesaat sembari menunggu siapa yang ada di dalam mobil itu. Gak berapa lama seorang wanita cantik keluar dari mobil itu dan menatap aneh ke arah Elia. Beberapa penjaga dan pelayan yang mengenali wanita itu mencoba untuk mencegah nya mendekati Elia. Tapi wanita itu cukup keras kepala rupanya.


" Apa kau yang bernama Elia? " Tanya Wanita itu sembari menyingkirkan tangan beberapa pelayan yang menghadangnya.


" Iya. " Jawab Elia.


" Aku adalah kekasihnya Jhon. Aku ingin berbicara dengan mu. " Iya, sanita itu adalah Lusiana. Rupanya dia sudah lelah menunggu Jhon di kantor dan memutuskan untuk menyambangi rumahnya saja.

__ADS_1


" Baiklah. " Sungguh tidak tahu apa yang akan dia katakan nanti, tapi dia tidak akan kehilangan keyakinannya kepada Jhon.


Setelah memberikan perintah kepada pelayan yang tadi menghadangnya, kini Lusiana dan Elia sudah berada di ruang tamu dengan posisi saling berseberangan.


" Apa yang ingin anda katakan, Nona? " Tanya Elia.


" Aku ingin meminta padamu, tolong kembalikan Jhon padaku. "


Elia tersenyum. Ditatapnya sepasang manik mata dari Lusiana yang terlihat begitu berharap.


" Bagaimana bisa aku menyerahkan suamiku? dari caramu berbicara, kau seperti menyamakan suamiku dengan barang. "


Lusiana mengepal kedua jemarinya yang sedari tadi bertengger di atas pangkuannya.


" Aku tahu, pernikahan mu dengan Jhon adalah pernikahan yang memiliki maksud balas dendam. Kalian sudah selesai balas dendam kan? jadi bisakah biarkan Jhon kembali pada ku? "


Elia menatap tegas Lusiana.


" Terserah apa yang kau simpulkan dari pernikahan kami. Tapi aku dan Jhon tida akan berpisah apapun alasannya. "


Lusiana mulai terbawa emosi hingga tidak bisa lagi menekan emosinya.


" Kau hanyalah seorang wanita hamil saat dinikahi oleh Jhon. Apakah kau tidak malu? kau hamil dengan siapa dan menikah dengan siapa? apa yang akan kau jelaskan kepada anak haram mu nanti? "


Kini giliran Elia yang mengepalkan tangannya menahan kesal.


" Kau bukan siapa-siapa yang pantas menyebut putri kami sebagai anak haram! "


" Benarkah? lalu, apa kau bisa mengatakan kepada anak mu saat anak mu bertanya nanti? "


" Diam! " Mata Elia mulai memerah karena marah dan sedih. sakit sekali rasanya saat ada yang mengatakan jika Ive adalah anak haram.


" Kau malu? " Tanya Lusiana lalu tersenyum mengejek.


" Wanita gila sepertimu mana pantas mendampingi suamiku. Pantas saja dia tidak mau bersama mu. Wajah mu saja yang lugu, tapi mulut mu sangat rendahan dan tidak berkelas. "


Lusiana yang marah akhirnya bangkit lalu berjalan ke arah Elia dan menampar pipi Elia. Belum cukup, dia membuat tubuh Elia bangkit dan mendorongnya hingga membentur lantai. Sial nya Elia meminta para pelayan untuk tidak usah mengikutinya. Tentu karena dia berpikir, wanita dengan wajah polos itu tidak akan mencelakai nya.


" Ah! " Elia memegangi perutnya yang terasa kram dan berdenyut sakit.

__ADS_1


TBC


__ADS_2