Second Husband

Second Husband
Episode 41


__ADS_3

Hari adalah hari dimana Hendrick tiba dikediaman Dargo dengan selamat dan sudah sembuh total seperti sedia kala. Sebenarnya Elia begitu enggan untuk memenuhi undangan dari Nenek, tapi karena Jhon yang nampak ambisius, mau tidak mau dia mengalah dan mengiyakan saja meski masih tidak rela.


" Kau masih kesal? " Tanya Jhon yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya.


'' Tidak. " Elia membalikkan badan lalu menyerahkan pakaian yang sudah ia siapkan sembari menunggu Jhon mandi tadi.


" Elia, aku tahu kau masih kesal karena aku memaksa mu untuk ikut. Tapi penting bagi kita untuk terus menampakkan diri dihadapan mereka. Lagi pula, kita sudah dua tahun tidak menginjakkan kaki disana kan? ayo kita bersenang-senang, istriku. " Jhon meletakkan baju yang tadi Elia berikan di atas tempat tidur. Perlahan dia mendekati Elia dan memeluknya dari belakang.


Elia tersenyum lalu memutar tubuhnya. Dia menatap manik mata Jhon yang kini terlihat begitu lembut menatapnya. Meski tidak pernah menyatakan perasaanya, tapi Elia sudah cukup merasa bahagia dengan cara Jhon memperlakukannya.


" Apa akan menyenangkan? kau tahu sendiri kan? keluarga Dargo sangat ketus dan tidak pernah lembut kepadaku walaupun satu menit saja. "


Jhon membawa kepala Elia ke dadanya. Inilah kegiatan yang paling Elia sukai. Menghirup aroma wangi yang keluar dari kulit Jhon, menyenderkan kepala di dada Jhon yang begitu nyaman dan hangat. Entah hati ataupun pikirannya menjadi tenang seolah pelukan dari Jhon adalah ramuan mujarab yang selalu membuatnya merasa tenang dan nyaman.


" Apa aku pernah membohongi mu? " Jhon bertanya tanpa melepas dekapannya. Dia justru semakin mempererat dan mengecup kepala Elia beberapa kali.


" Sejauh ini memang belum. "


Jhon tersenyum, mengurai pelukannya lalu menangkup wajah Elia. Kedua jempolnya tergerak mengusap pipi Elia bersamaan. Sebenarnya Jhon tahu jika Elia saat ini bukanlah Elia yang mudah ditindas. Tapi penting baginya untuk melatih Elia agar terbiasa menghadapi Keluarga Dargo. Dia juga harus berjaga-jaga jika suatu hari Jhon tidak bisa membantunya, setidaknya Elia bisa menghadapi keluarga Dargo sendiri.


" Elia, percayalah padaku meski sulit. Aku akan berusaha untuk tidak akan pernah membohongimu. "


Elia kembali menjatuhkan dirinya kedalam pelukan Jhon. Tentulah dia mempercayai Jhon. Dari sekian banyak manusia di dunia ini, Jhon adalah satu-satunya orang yang paling ia percayai.


" Mandi dan bersiap-siap ya? aku akan mengganti pakaian Ive dan mendadani nya. " Titah Jhon yang mendapat anggukan dari Elia.


Beberapa saat kemudian, Elia keluar dengan jubah mandi dan handuk yang melilit rambut basahnya. Elia berjalan menuju lemari untuk memilih gaun yang akan ia gunakan. Cukup lama Elia memilih, tapi sepertinya tak kunjung mendapatkan dress yang sesuai keinginannya.


" Ada apa? " Tanya Jhon seraya berjalan mendekati Elia yang masih belum mendapatkan pakaian untuk ia kenalan.


" Kau tidak memiliki gaun yang cocok? perlu aku pesankan untukmu sekarang? " Tanya Jhon sembari melingkarkan satu menganga di pinggang Elia.


Elia menghela nafas lalu menatap Jhon.

__ADS_1


" Aku kebingungan karena terlalu banyak pilihan, Jhon. "


Jhon tersenyum lalu memilih satu dress selutut berwarna dark blue berhiaskan sedikit Swarovski yang melingkar mengikuti bentuk jahitan dibagian lehernya.


" Yang ini saja. Aku rasa ini sangat cocok untuk kulit putih sepertimu. " Elia mengangguk lalu segera melekatkan dress itu ke tubuhnya. Dia juga sudah memastikan jika Ive sudah siap. Yah, gadis kecil itu ternyata memakai dress yang senada dengannya. Wajahnya bertambah cantik dan imut karena Jhon memakaikan bandana di kepala Ive.


" Jhon, kau sangat pandai mendandani Ive rupanya. "


" Elia.." Panggil Jhon yang sedari tadi tak henti-hentinya mengamati Elia dari berganti pakaian, lalu sekarang tengah mengeringkan rambut.


" Iya? " Jawab Elia tapi tak menghentikan kegiatannya.


" Bisakah mengubah panggilan saat memanggil namaku? "


Elia menghentikan kegiatannya dan menatap Jhon dengan dahi yang mengeryit.


" Maksudnya? "


" Jangan terus memanggilku dengan sebutan nama. Bisakah menggantinya dengan yang lain? "


" Lalu aku harus memanggilmu apa? "


Sebenarnya Jhon benar-benar gugup saat ini. Rasanya ingin sekali dia mendengar Elia memangil nya dengan sebutan kesayangan, tapi tidak mungkin kan? karena dari awal dia memiliki hubungan dengan wanita, dia sama sekali tidak memperdulikan masalah seperti ini. Kalau dia membiarkan Elia terus menerus memanggilnya dengan nama, itu akan membuat orang berpikir jika pernikahan mereka tidak harmonis.


" Jhon? " Panggil Elia yang bingung karena tidak mendapatkan jawaban dari Jhon.


" Em? " Jhon kini menatap Elia dan semakin membuatnya gugup.


" Jadi aku harus memanggil mu apa? " Tanya lagi Elia yang sebenarnya ingin tertawa karena melihat pipi Jhon yang bersemu merah.


" Itu, terserah kau saja. Yang penting jangan memanggil nama. "


Elia berjalan mendekati Jhon yang tengah duduk di tepian tempat tidur.

__ADS_1


Elai menarik nafas lalu menghembuskan pelan sebelum menatap manik mata Jhon dan tersenyum.


" Apa kau yakin aku boleh memanggil mu sesuka ku? " Jhon mengangguk tapi sebisa mungkin dia menghindari tatapan Elia yang membuatnya semakin gugup.


" Bagaimana dengan suamiku? atau sayang? " Tanya Elia yang mencoba membuat tatapan mata mereka bertemu. Tapi sayang, sepertinya Jhon sengaja membuatnya tidak akan salimg menatap di garis yang sama.


" Bagaimana Jhon? "


" Itu, yang ke dua saja. " Jhon masih terlihat tidak mau menatap Elia.


" Baiklah, Jhon. Eh, maksudnya sayang. " Elia tersenyum lalu bangkit dan meneruskan kegiatan yang sempat tertunda. Sementara Jhon, pria itu kini tak bisa lagi menahan bibirnya agar tak tersenyum. Padahal hanya nama panggilan saja, tapi rasanya benar-benar membahagiakan sekali. Batin Jhon.


Karena Elia sudah hampir siap, Jhon akhirnya meraih baju yang akan dia kenakan untuk menghadiri acara di keluarga Dargo. Warna kemejanya sama persisi seperti gaun Elia dan Ive. Rambutnya juga sudah tertata rapih. Jam tangan favorite nya juga sudah melingkar di pergelangan tangannya. Minyak wangi yang biasa ia gunakan kini juga sudah ia semprotkan.


" Jhon, bagaimana? " Tanya Elia sembari tersenyum memamerkan penampilannya.


Jhon yang sudah menoleh ke arah Elia itu tak bisa berkata-kata. Dress ketat yang Elia kenakan membentuk sempurna, warnanya begitu kontras, apalagi riasan di wajah Elia nampak begitu anggun meski hanya polesan tipis.


" Elia... " Panggil Jhon.


" Iya? "


" Kita batalkan saja niat kita untuk datang ke acara keluarga Dargo bagaimana? "


Elia mengeryit bingung sembari menatap Jhon penuh tanya. Kalau tahu tidak jadi datang, pasti dia tidak akan repot-repot menghabiskan banyak waktu untuk mendandani dirinya. Batin Elia menggerutu.


" Kenapa? "


" Ini salah mu karena terlalu cantik. Lebih baik kita menghabiskan waktu bersama di kamar kan? " Jhon sudah berjalan mendekati Elia lalu merengkuh pinggang Elia.


" Jhon, tahan dirimu sebentar saja. Kau sendiri yang mengatakan jika kedatangan kita juga penting kan? "


Jhon menghela nafas kasarnya lalu mengangguki ucapan Elia.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2