
Satu minggu telah terlewati. Zila kini juga sudah mendekam di balik jeruji besi atas beberapa kasus yang terjadi di masa lalu. Orang tua dari Zila juga tidak berani menuntut apapun dari Elia karena segan dan takut dengan Jhon.
Pagi hari di kediaman Damien. Suasana ramai karena sibuk mempersiapkan pernikahan Jehan dan Ken. Bukan tanpa alasan, pernikahan mereka maju beberapa bulan dari jadwal karena Jehan sudah hamil tiga minggu. Tentu saja awalnya mereka terkejut, tapi mau bagaimana lagi? dari pada sibuk memikirkan kemarahan, lebih baik sesegera mungkin menikahkan mereka. Tidak ada kemewahan, acara pernikahan Jehan dan Ken sangatlah sederhana dan tertutup sesuai permintaan keduanya.
Bahagia dan penuh suka cita, itulah yang kini dirasakan keluarga Damien. Menikah dengan sederhana dan juga diselenggarakan di pelataran rumah yang tertutup oleh pagar tembok yang mengelilingi kediaman Dargo. Ditrngah-tengah kebahagiaan itu, tiba-tiba datanglah seseorang yang meminta untuk menghadiri pernikahan Ken dan Jehan. Awalnya pria itu terus dilarang masuk oleh penjaga gerbang, tapi karena dia terus memohon, akhirnya penjaga gerbang itu menemui Jordan.
" Tuan, di luar ada seorang pria yang meminta untuk masuk kedalam. "
" Siapa? " Tanya Jhon.
" Saya lupa bertanya namanya, Tuan. "
Jhon bangkit dan berjalan bersamaan dengan si penjaga pintu gerbang.
Sesampainya disana, mata Jhon menatap datar dan langkah kakinya juga terhenti. Kulit di sudut matanya juga tertarik saat Jhon menajamkan mata untuk memastikan siapa pria yang kini menatapnya dengan pelupuk yang menggenang air mata. Bibir nya juga terlihat gemetar tanpa bisa berkata-kata.
" Buka gerbangnya dan biarkan dia masuk. " Titah Jhon lalu pergi meninggalkannya untuk kembali ke pelataran rumah yang masih berlangsung acara pernikahan Jehan.
Dengan tubuh yang terlihat menahan sesuatu, pria itu berjalan menuju pesta pernikahan Jehan. Dia berdiri memandangi Jehan dadi kejauhan. Bibirnya tertarik tersenyum meski air matanya jatuh membasahi pipi. Cukup lama dia berdiri di sana, sampai Jehan tanpa sengaja menoleh ke arahnya.
" Ayah! " Panggil Jehan lalu berlari ke arah pria yang tak lain adalah Ayah dari Jhon dan Jehan. Jehan memeluknya erat sembari menangis. Sungguh dia sangat merindukan Ayahnya.
Yang lain juga menatap ke arah mereka dengan tatapan bingung dan ada juga yang terkejut. Jhon yang masih menyimpan kekesalan kepada Ayahnya hanya bisa terdiam tanpa ingin melihat pria itu. Ibu Sofia juga nampak terkejut tapi juga tidak bereaksi apa-apa. Dia hanya bisa menatap anak dan mantan suami yang sudah belasan tahun tidak ia temui.
" Ayah, aku merindukan Ayah. " Ucap Jehan sembari terus menangis memeluk erat tubuh Ayahnya.
" Ayah juga. Maaf Ayah datang terlambat. Ayah tidak bisa menjadi Ayah yang baik, bahkan saat kau menikah juga Ayah terlambat. "
__ADS_1
Elia menangis haru melihat Jehan dan Ayahnya. Sungguh dia iri melihat itu, tapi sudahlah, dia dengan jelas sudah mengetahui dan melihat kalau Ayahnya sudah meninggal saat usianya lima tahun.
" Sayang, itu Ayah mu. Kenapa kau tidak datang dan memeluk nya? " Tanya Elia.
" Aku tidak memiliki ke inginkan itu. Aku malah ingin memeluk mu dan membawa mu ke kamar sekarang. " Elia menghela nafas nya. Jujur dia sama sekali tidak paham dengan apa yang Jhon rasakan.
" Tapi kalian kan sudah lama tidak bertemu dengan Ayah mertua. " Tanya lagi Elia.
Jhon mencubit pelan pipi Elia.
" Siapa bilang sudah lama tidak bertemu? "
" Eh? bukanya memang begitu? " Bingung Elia.
" Kau pikir, kenapa Jehan lebih suka tinggal di luar negeri? " Elia menggeleng karena memang tidak tahu.
" Jadi, kau hanya berakting di depan Nenek? "
" Iya. "
Setelah acara pernikahan selesai, seluruh anggota keluarga inti akhirnya bisa bersantai dirumah setelah lelah melanda seharian ini. Kini mereka berada di ruang yang sama yaitu ruang keluarga. Ayahnya Jhon juga terlihat menyukai Ive. Bahkan, mereka kini sudah mulai dekat. Ibe juga tidak keberatan berada di pangkuan Ayahnya Jhon.
" Ayah, apa Ayah sudah menemui Nenek? " Tanya Jehan yang tahu ceritanya dari Jhon.
Ayah terdiam. Sebenarnya orang suruhan Jhon sudah menceritakan apa yang terjadi di keluarga Dargo, tapi hatinya masih saja terasa berat untuk datang kesana. Apalagi dia harus melihat orang tuanya. Rasa sakit yang sudah berlalu itu seperti kembali terasa. Apalagi saat dengan jelas melihat Ibu Sofia begitu enggan untuk menatapnya. Bukan hanya Ibu Sofia saja, Jhon juga terlihat acuh dengan kehadirannya.
" Ayah, temui saja Nenek. Keadaannya sangat buruk. " Saran Jehan.
__ADS_1
" Apa kau melihatnya? " Tanya Ayah.
Jehan terdiam. Melihat? bahkan dia begitu membenci wanita yang di sebut Nenek. Masih dengan jelas di ingatannya, saat dia berusia empat tahun, dia dan Ibu serta kakak nya di usir oleh wanita itu dan seluruh anggota keluarganya. Rasanya sangat sulit menghilangkan kebencian dan luka itu.
" Jehan, apa yang kau rasakan tentu Ayah paham. Ayah juga merasakan hal yang sama. Tapi, Ayah tidak bisa membohongi diri Ayah kalau Ayah menyayangi Nenek mu. Ayah tahu, tidak mudah untuk memaafkan Nenek, tapi kau tahu kan kalau Nenek dalan keadaan yang buruk? mari kita singkirkan kemarahan kita. Diantara kita disini, hanya kau dan Ayah yang tidak pernah bertemu dengan Nenek setelah kejadian itu. Ayo pergi dan ringankan sakit nya. "
Jehan nampak menghela nafas lalu berpikir. Sungguh dia tidak memiliki hati nurani karena dia memang tidak menyayangi Nenek. Memang, beberapa taun setelah kejadian itu dia selalu mencoba memperbaiki hubungan di antara mereka. Tapi Jehan selalu menutup diri karena sulit mengendalikan perasaan marah yang masih saja bersarang di hatinya.
" Pergilah, Jehan. Anggap saja kau sedang memperkenalkan suami mu kepada mereka. " Ucap Jhon tanpa mau menatap ke arahnya. Jhon justru lebih memilih mengelus perut Elia sembari memandanginya.
" Kakak, kakak juga ikut ya? please... " Pinta Jehan kepada Jhon dan Elia. Awalnya Jhon ingin menolaknya, tapi Elia justru mengiyakan secepat mungkin. Maka Jhon juga hanya bisa mengikuti saja apa yang di inginkan istrinya.
" Ibu juga ya? " Kini giliran Ibu Sofia yang ditatap Jehan dengan tatapan memohon.
" Iya. " Jawab Ibu Sofia singkat. Wanita berhati baik itu tentu saja tidak akan bisa mendendam terlalu lama.
Pagi Harinya.
Keluarga besar Damien datang datang mengunjungi Nenek. Terkecuali Ayah. Dia tida bisa dikatakan mengunjungi karena dia bukan anggota Damien. Dia lebih cocok di anggap pulang setelah sekian lama.
" Kakak? " Ayah nya Hendrick terperangah melihat kakak yang sudah lama tidak ia lihat kini berada di hadapannya.
" Dimana Ibu? " Tanya Ayah dengan mimik dingin.
" A ada di kamar nya. "
To Be Continued.
__ADS_1