
Hari demi hari berlalu dengan begitu menyenangkan. Jhon dan Elia juga sudah tak segan lagi untuk menunjukkan kemesraan mereka. Meski Jhon masih belum mengungkapkan rasa cintanya, tapi begitu jelas bagi Elia untuk bisa merasakan betapa lembut dan penuh cinta Jhon memperlakukannya.
Masih di kediaman Damien. Sebuah keluarga yang hampir tidak pernah berselisih paham terkecuali tentang Ive. Gadis kecil nan cantik jelita yang kini sudah berusia dua tahun. Ibu Sofia, Jehan, Elia, Jhon ditambah lagi Yana yang juga ikut memperebutkan Ive. Gadis kecil cantik itu kadang sering menangis karena takut dengan pertengkaran kecil orang-orang yang sibuk memperebutkannya. Seperti hari ini, Ive sudah menangis beberapa kali karena Jehan terus saja memaksa Ive untuk mencoba baju-baju yang ia beli. Mengambil gambarnya dan memposting photo Ive. Tentulah balita dua tahun banyak tingkahnya dan tak mau menurut apa yang Jehan pinta. Al hasil, dia akan menjerit lalu menangis sejadi-jadinya.
" Jehan, kau masih mau menyiksa putriku berapa lama lagi?! buka pintunya?! " Jhon mengetuk pintu kamar Jehan dengan wajah dan nada suara yang kesal. Jhon baru saja pulang dari kantor dan harus mendengar Ive menangis, tentulah dia kesal. Karena sudah kebiasaan Jehan mengambil banyak gambar Ive sampai Ive bosan lalu menangis.
Jehan yang merasa kesal diganggu, akhirnya membuka pintu meski bibirnya mengerucut kesal.
" Kakak, kenapa kau rajin sekali mengetuk pintu kamar ku? apa tangan mu tidak pegal? "
Jhon menghela nafas lalu mengambil Ive dari gendongan Jehan.
" Dari pada mengkhawatirkan tangan ku, bukankah kau harusnya mengkhawatirkan Ive yang sudan lelah menangis? "
" Cih! aku tuh sedang melatih Ive agar menjadi calon bintang besar. "
Jhon tak menggubris ucapan adik perempuannya. Dia kini lebih fokus kepada Ive yang sudah mulai tenang di gendongannya.
" Ya yah.. ya yah.. " Panggil Ive yang masih sesegukan sembari menunjuk Jehan dengan maksud mengadukan Bibinya yang sudah menyiksanya.
Jhon semakin menggeleng heran melihat penampilan Ive yang begitu berantakan. Bando kepalanya miring dan rambutnya berantakan. Dress yang Ive gunakan dipenuhi rumbai-rumbai dan manik yang sepanjang dress nya. Sepatu nya juga di penuhi manik-manik yang membuat mata Jhon silau.
" Jehan kau benar-benar kurang kerjaan ya? dari pada menyiksa putriku, bukankah lebih baik kau bekerja di kantor? " Protes Jhon yang benar-benar merasa kesal melihat penampilan Ive yang membuat Ive tidak nyaman sama sekali.
__ADS_1
" Huh! nanti akan ku pikirkan. Kalau sempat tapi. " Jehan langsung menutup pintunya karena tidak mau lagi berdebat dengan kakak laki-lakinya yang sudah begitu pelit karena tidak mau membiarkan nya bersama Ive lebih lama.
Sebenarnya Jhon masih ingin mengomel, tapi rasanya sudah percuma karena pintu kamar Jehan sudah di tutup rapat bahkan juga terdengar Jehan mengunci pintunya.
" Dasar gadis pemalas! " Kesal Jhon lalu berjalan meninggalkan kamar Jehan.
" Elia? " Jhon kaget karena ternyata Elia ada dibalik punggungnya entah dari kapan.
" Sudah bertengkar nya? " Tanya Elia tersenyum lalu mengambil Ive dari gendongan Jhon.
" Mandi dulu ya? aku akan menyiapkan makan malam untuk mu. " Jhon mengangguk lalu memberikan kecupan singkat di kening Elia sebelum menuju ke kamarnya.
" Kita ke kamar dulu ya? ganti bajunya Ive. Dia pasti tidak nyaman. Tunggu aku selesai mandi, nanti baru siapkan makan malam untukku. Aku akan menjaga Ive saat kau menyiapkan makan malam. " Ucap Jhon yang di angguki oleh Elia.
Seperti yang sudah dikatakan Jhon. Setelah selesai mandi, Jhon langsung mengambil alih untuk menjaga Ive, sedangkan Elia menyiapkan makam malam untuk Jhon. Saat pulang dari kantor, memang sudah jadwalnya Jhon untuk bersama Ive. Bukan tanpa alasan, Ive tidak bisa tidur kalau tidak di peluk oleh Jhon sembari menceritakan beberapa dongeng anak-anak seperti biasanya.
" Sayang, Ayah menyayangi mu. Tumbuhlah dengan baik. Miliki lah hati yang baik sebaik hati Ibumu. Jadilah pribadi yang kuat dan tidak mudah ditindas. Ive, kau adalah putriku. Tidak perduli darah siapa yang ada di tubuh mu. Kau selamanya adalah putriku. Kalau sampai ada yang berani-beraninya ingin mengambil mu, maka Ayah mu ini tidak akan pernah membiarkannya hidup dengan tenang. "
Elia yang tak sengaja mendengar semuanya, kini hanya bisa menutup mulutnya agar tak terdengar suara isak tangis karena perasaan haru.
Jhon, bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu? kau begitu menyayangi Ive yang sudah jelas bukan anak mu. Jhon, aku mencintai mu bahkan lebih dari apa yang aku rasakan dulu.
Elia memutuskan untuk kembali sejenak ke dapur. Perlahan Elia menutup pintu agar tak terdengar oleh Jhon.
__ADS_1
Setelah Ive benar-benar pulas, Jhon perlahan membaringkan Ive di tempat tidur miliknya. Sebenarnya Ibu Sofia sudah menyarankan agar Ive dipindah ke kamar nya sendiri, tapi Jhon dan Elia belum terbiasa untuk jauh dari Ive. Akhirnya mereka memutuskan untuk memasang tirai pembatas saat akan melakukan adegan dua puluh satu plus.
Setelah membaringkan Ive, Jhon duduk di sofa yang ada di dekat jendela kamarnya. Hari ini dia benar-benar merasa jika waktu bertempur sudah akan mendekati puncaknya. Dia juga mendapatkan kabar jika Hendrick akan kembali ke dari luar negeri setelah masa pemulihannya selesai. Iya, butuh waktu hampir dua tahun untuk menormalkan kembali tubuh Hendrick setelah pelajaran yang Jhon berikan waktu itu.
Sebentar lagi Hendrick pasti akan menyadari ada yang salah dari dengan perusahannya. Hendrick, aku sudah tidak sabar menunggu hari itu. Hari dimana kau kalang kabut karena ambruknya Dargo. Nama keluarga yang membuat mu besar kepala dan bertingkah sok berkuasa.
Jhon menghela nafas lalu tak sengaja melihat photo pernikahannya bersama Elia yang terpampang di dinding. Dia memang tidak begitu khawatir tentang urusan Dargo. Tapi rasanya begitu tidak tenang kalau sampai Hendrick melakukan banyak cara licik untuk merebut Ive dan Elia dari dirinya.
Kalau tahu akan khawatir seperti ini, lebih baik jangan menunda untuk memiliki adik untuk Ive kan?
Jhon menghela nafas kasarnya. Memang sudah menjadi kesepakatan dari awal jika ingin menunggu Ive sedikit lebih besar sebelum memutuskan untuk mengandung lagi. Tapi rasanya Jhon begitu menyesal karena sudah menyetujui permintaan Elia.
" Jhon? " Panggil Elia setelah membuka pintu lalu berjalan ke arah Jhon yang kini tengah menatapnya dan tersenyum.
" Ini makan malam mu. " Elia menyerahkan sepiring makanan yang berisi nasi merah, sayur, dan ayam bakar kesukaan Jhon.
Jhon menerima piring makan malamnya lalu meletakkan di meja kecil yang ada disampingnya.
" Kenapa tidak di makan? " Tanya Elia bingung.
" Ada yang ingin aku bicarakan. " Jhon menatap Elia serius.
" Apa? " Jhon menepuk sofa disebelahnya agar Elia duduk disana.
__ADS_1
" Elia, bisakah jangan meminum pil penunda kehamilan lagi? "
TBC