
Jhon datang ke kantor meskipun sudah sangat tanggung sebenarnya, karena sebentar lagi hari sudah akan sore. Tapi sepertinya dia harus segera menyelesaikan segala permasalahan yang terlalu bertele-tele ini. Sudah cukup juga rasanya dia bersabar. Sekarang adalah waktunya untuk berdamai dengan masa lalu dan fokus dengan masa depan bersama keluarga nya. Tidak bole lagi ada masalah yang datang terlebih saat anak keduanya nanti lahir, dia hanya ingin menyuguhkan kedamaian dan ketenangan saja. Setidaknya bergerak dari sekarang dan biarkan imbasnya akan dia rasakan beberapa bulan sebelum kelahiran anak keduanya.
" Ken? " Panggil Jhon setelah dayang tanpa pemberitahuan.
" Tuan? Eh! maksudnya, Jhon. Sudah datang? "
Jhon mengangguk. Jhon benar-benar kagum dengan Ken yang begitu konsentrasi saat menyelesaikan tugasnya. Dan yang paling Jhon salut adalah kesopanan Ken yang tiada duanya. Meskipun tumbuh besar tanpa kasih sayang orang tuanya lagi, nyatanya Ken bisa hidup dengan baik dan memiliki moral yang tidak diragukan lagi.
" Bagaimana pekerjaan hari ini? apa ada masalah? "
" Tidak ada, Jhon. Aku sudah memisahkan berkas yang harus kau tanda tangani. Semua sudah ku cek. Tapi lebih baik kalau kau mengeceknya kembali sebelum menandatangi nya. "
" Aku percaya padamu. Berikan padaku. " Jhon mengambil posisi duduk lalu mengadakan tangan agar Ken segera memberikan berkas yang membutuhkan tandatangannya.
" Lebih baik kalau di cek terlebih dahulu. Jangan terlalu mempercayaiku. Walau bagaimana pun, aku hanyalah manusia biasa. Takut nya aku kurang fokus saat meneliti dan akan membuat mu rugi. "
Jhon kembali tersenyum. Lagi-lagi ucapan yang sama. Setiap kali ingin menandatangi berkas, Ken selaku mengatakan hal yang sama secara berulang-ulang.
" Jika kau Dewa, maka aku tida akan mungkin berani menjadikan mu bawahan ku. Tapi, aku selalu mempercayai mu. Lebih dari diriku sendiri. "
Ken tersenyum. Benar, Jhon adalah satu-satunha orang yang selalu mengatakan itu. Dulu, saat orang tuanya bekerja di kediaman Dargo, Hendrick selalu saja menuduhnya menyontek jawaban dari ujian sekolahnya. Hampir semua orang tidak ada yang percaya padanya karena nilainya selalu sama dengan Hendrick. Tapi, ada satu anak yang dengan senyum mengulurkan tangan dan mengatakan bahwa dia mempercayainya. Dan orang itu adalah Jhonson Dargo. Atau sekarang dikenal dengan Jhonson Damien.
" Jhon, kau selalu saja mengatakan hal yang sama. " Ujar Ken yang teringat kenangan masa lalu nya bersama Jhon.
" Kau juga sama. Kau selalu mengingatkan ku, bahwa kau adalah manusia biasa yang kapan saja bisa melakukan kesalahan. "
Jhon dan Ken tertawa bersamaan.
" Bagaimana perkembangan hubungan mu dan Jehan? " Tanya Jhon setelah selesai menandatangi semua berkas yang tadi sudah disiapkan oleh Ken.
" Em, aku dan Nona sedang dalam tahap mencoba saling mengenal. "
Jhon tersenyum.
" Kau Jangan terlalu lama bertindak. Kau dan adikku bukan anak remaja lagi. Satu lagi, jangan memanggilnya nona. Dia pasti akan lebih senang jika kau memanggilnya Jehan. "
Ken menatap Jhon terkejut. Baru saja dua hari dia membiasakan diri memanggil Jhon dengan Namanya. Sekarang harus mengganti nama panggilan untuk Nona Jehan juga?
" Itu, nanti aku pikirkan lagi. Lagi pula sungguh tidak mudah mengubah kebiasaan lama. "
" Aku tahu, kau jangan terlalu kaku. "
__ADS_1
" Baik, aku akan berusaha. "
" Ajak lah Jehan pergi makan malam nanti. Aku akan menyiapkan tempatnya untuk kalian. "
Ken menatap kaget Jhon.
" Bagaimana kalau saya saja yang menyiapkan nya? " Ujar Ken yang tidak mau menyusahkan Jhon hanya untuk masalah kencannya.
" Kau yakin? " Tanya Jhon.
" Iya. Yakin. Yakin sekali. "
Suara ketukan pintu membuyarkan pembicaraan mereka.
" Tuan, ada salah satu anggota keluarga dari Dargo datang untuk bertemu. "
Jhon mengeryit bingung lalu menatap Ken yang sepertinya juga tengah kebingungan.
" Siapa? " Tanya Ken kepada pengawal.
" Beliau mengatakan jika namanya adalah Nona Zila. Istri dari Hendrick Dargo, Tuan. "
" Kenapa wanita ular itu datang kemari? " Tanya Jhon yang masih tidak percaya.
" Jangan. Biarkan dia masuk, kita dengarkan saja apa yang akan dia katakan. "
" Baiklah,... " Jawab Ken.
Ken keluar dari ruagan Jhon lalu menyambut Zila sebelum dia masuk kedalam ruangan Jhon.
" Selamat siang menjelang sore, Nyonya Hendrick. " Ken tentu sengaja menyapa Zila dengan status Zila agar dia tidak lupa.
" Iya. " Ucap Zila dengan wajah angkuh yang begitu malas menjawab sapaan dari Ken.
Dasar wanita sampah! bagaimana bodohnya Hendrick bisa tertipu oleh mangkuk bobrok seperti mu.
Ken menatap punggung Zila yang semakin menjauh menuju ruangan Jhon.
" Wanita sepertimu seharusnya berada di tempat hiburan malam. Meskipun kau lahir di keluarga yang berada dan pendidikan di tempat ternama, tapi sikap dan fisik mu jelas sekali seperti seorang wanita hina. " Gumam Ken yang begitu kesal dengan Zila. Jika bukan karena memikirkan Jhon, rasanya ingin sekali Ken melemparkan tubuh Zila ke mulut buaya.
" Tuan Rendra, sebentar lagi anda akan melakukan pertunjukan heboh. Aku benar-benar menantikannya. "
__ADS_1
***
" Selamat sore, Jhon? " Sapa Zila setelah masuk kedalam ruangan kerja Jhon. Sesaat Zila begitu terpukau dengan megahnya ruangan kerja Jhon.
" Selamat sore. Ada perlu apa, Nyonya Hendrick? silahkan duduk. " Jhon sama sekali tak berekspresi saat berbicara dengan Zila.
" Panggil saja Zila. " Ucap Zila lalu tersenyum semanis mungkin. Tak menjawab, Jhon memilih untuk memaksakan senyumnya.
" Sebenarnya aku baru saja menemui sahabat ku di gedung sebelah. Aku datang hanya untuk berkunjung apa boleh? "
" Iya, tidak apa-apa. " Baru saja Zila akan tersenyum bahagia, ucapan Jhon selanjutnya justru membuat nya terdiam sesaat.
" Tapi pastikan, tidak ada lain hari. Aku tidak memiliki banyak waktu luang. Selain dengan bisnis, aku hanya akan mengisi waktu luang ku bersama keluarga ku. "
" Oh, maaf, Jhon. Tapi bukankah kita keluarga? "
" Entahlah, aku tidak ingat. " Ujar Jhon. Zila yang sadar jika Jhon tidak semudah yang dibayangkan, dia terus mencoba agar Jhon tertarik padanya.
" Aku mampir sekalian ingin memberikan ini untuk mu. " Zila menyerahkan paper bag berwarna coklat di meja Jhon.
" Apa ini? " Tanya Jhon tapi masih terlihat enggan untuk menyentuhnya.
" Itu teh herbal, Jhon. Sangat baik untuk kesehatan tubuh. Jika kau mau mencoba, aku bisa menyeduhkan untuk mu. " Ucap Zila tersenyum manis.
Sialan! aku muak melihat wajah wanita ini.
" Maaf, aku tidak suka teh herbal. "
Zila sebenarnya sudah mulai tidak sabar, tapi melihat kalau Jhon memiliki aset yang begitu banyak, ditambah lagi fisiknya yang begitu gagah menggoda, Zila kembali memantapkan dirinya agar lebih berjuang lagi.
" Kau boleh mencobanya terlebih dulu. Kau pasti akan menyukainya. "
Jhon tersenyum dingin.
" Aku sangat tahu apa yang aku suka dan apa yang tidak aku suka. Sekali aku bilang tidak suka, maka tidak ada satu pun yang boleh menyuruhku untuk menyukai hal yang tidak aku suka. "
Zila menelan salivanya. Sungguh begitu meyesakkan tatapan Jhon barusan.
" Ba baiklah, Jhon. Tidak apa-apa. Mungkin saat ini kau tidak suka. Tapi manusia bisa saja berubah kan? "
" Manusia bisa saja berubah. Tapi aku bukan manusia. "
__ADS_1
TBC