
Sebuah rumah megah dengan suasana yang asri. Tempat dimana keluarga Damien tinggal bersama dengan perasaan suka cita dan yang paling penting adalah perasaan saling menyayangi yang tidak boleh hilang. Sesuai dengan rencana, malam ini Jhon akan menyampaikan kesepakatannya dengan Ken kepada seluruh anggota keluarga.
" Sayang, memang kau yakin Jehan akan setuju? " Tanya Elia. Iya, Jhon sudah menceritakan semua kepada Elia sebelum memberi tahu Ibu Sofia dan Jehan secara langsung.
" Tentu saja. Jehan kan seumuran dengan mu. Sudah waktunya juga untuk menikah. " Jhon berjalan mendekati Elia yang tengah duduk ditempat tidur dan terlihat tidak sehat seharian ini.
" Menikah muda juga bukan hal yang baik. lagi pula, masih membutuhkan empat tahu lagi kan untuk mencapai usia tiga puluh. Usia yang dibilang matang untuk menikah. "
Jhon yang sudah berada di dekat Elia langsung meletakkan telapak tangannya di dahi Elia.
" Kau pucat, tapi suhu badan mu normal. "
Elia menghela nafas lalu meraih tangan Jhon yang masih menyentuh dahinya. Memindahkannya dan membuatnya saling menggenggam.
" Iya aku tahu. Tapi tidak tahu kenapa rasanya aku seperti tidak sanggup melakukan banyak hal. Bahkan berdiri lebih dari lima menit aku sudah tidak kuat. "
Jhon membenahi posisinya lalu duduk disamping Elia dan merapatkan posisinya. Dia meraih pundak Elia dan menjatuhkan tubuh Elia kedalam dekapannya.
" Kita kerumah sakit saja sekarang. "
Elia dengan cepat menggeleng untuk menolak.
" Tidak mau! aku baik-baik saja. Mungkin tubuhku sedang manja karena akhir-akhir ini aku tidak melakukan apapun. "
Jhon memberikan kecupan di pucuk kepala Elia. Dia tahu benar kalau Elia sangatlah keras kepala, jadi baiknya dia mengalah sekarang dan menunggu beberapa saat sambil mengawasi keadaan Elia.
" Kau mau ikut makan di bawah, atau mau makan di sini saja? " Tanya Jhon.
" Aku mau makan di bawah. "
" Baiklah, ayo bangun. " Jhon dengan telaten membantu tubuh Elia untuk bisa bangun dan perlahan melangkahkan kaki. Seperti inilah Jhon. Jika hanya melihat bagaimana rupanya, orang pasti akan mengira jika dia sangatlah dingin dan arogan. Tapi berbanding terbalik, dia selalu memperlakukan keluarganya dengan sangat lembut. Entah itu Ibunya, adiknya, Elia apalagi Ive yang selalu di prioritas kan olehnya.
Sesampainya di meja makan, Ibu Sofia dan Jehan sudah menunggu Jhon dan Elia untuk bergabung.
" Elia, kamu sakit nak? " Tanya Ibu Sofia sembari mengeryit karena khawatir. Dia juga ikut bangkit dan membantu Elia untuk mengambil posisi duduk layaknya anak kandung sendiri.
" Tidak bu, aku hanya lemas saja. Mungkin aku terlalu lama banyak bersantai. " Ujar Elia mencoba tersenyum sebisa mungkin agar tidak membuat Ibu mertua dan yang lainya merasa khawatir.
" Tapi kau sangat pucat, nak. " Ibu memegangi dahi Elia untuk memastikan jika suhu tubuh Elia dalan keadaan normal.
" Suhu tubuh mu normal. Tapi kenapa wajahmu sangat pucat? " Tanya lagi Ibu Sofia degan tatapan khawatir.
" Mungkin tekanan darahku menurun, Ibu. Aku kan memang memiliki anemia. " Ujar Elia yang masih mencoba menenangkan Ibu Sofia dan Jehan yang ikut menatapnya khawatir.
" Mungkin kakak ipar kelelahan, bu. Ibu tahu sendiri bagaimana kakak kan? "
Ibu Sofia sontak menatap Jehan lalu menatap Jhon. Kalau dipikir-pikir, mungkin saja ucapan Jehan ada benarnya. Jhon itu kan tidak mengizinkan kan Elia bangun pagi, saat malam saja Elia selalu dipaksa ke kamar sebelum waktunya tidur.
__ADS_1
" Ibu, kenapa Ibu menatap ku begitu? " Protes Jhon karena merasa terusik dengan tatapan menyelidik dari Ibunya. Meskipun memang benar apa yang di prasangkakan Ibunya, ya mana mungkin Jhon akan mengakuinya?
" Jhon, jangan terlalu bekerja keras untuk urusan itu. Lihatlah istrimu sampai seperti ini. " Sebal Ibu Sofia. Elia yang tidak bisa berkata-kata hanya bisa menahan malu dengan pipi yang merona. Ditambah lagi Jehan yang tersenyum geli mendengar penuturan Ibunya membuatnya semakin malu dan tidak mau mengatakan apapun.
Setelah kegiatan makan malam selesai, Jhon mulai mengutarakan maksudnya kepada Ibu Sofia dan juga Jehan.
" Ibu, dan kau Jehan yang terutama. Ada yang ingin aku sampaikan. "
" Dengar ya kak, apapun yang ingin kakak perintahkan, aku akan menolaknya. " Tegas Jehan.
" Memang kau berani membantah ku? "
" Berani! apa lagi kalau kakak menyuruh ku untuk bekerja. Tidak mau! tidak mau! tidak mau! tidak mau! "
" Jehan, kau sudah dewasa, berhentilah bersikap seperti anak-anak. "
" Kak, aku bukanya bertingkah seperti anak-anak, kan kakak sudah bisa mencari banyak uang sendiri. Jadi jangan membawa ku serta dalam perjuangan mu itu kak. "
Jhon menghela nafas panjangnya. Ini lah Jehan yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri. Bukan salahnya jika terlalu manja, karena semua itu akibat dari Jhon yang terlalu memanjakannya.
" Kaka tidak akan memintamu untuk bekerja, tapi menikah. "
Jehan membulatkan matanya menatap Jhon.
" Menikah? tidak mau ah! "
" Tidak mau, lagi pula aku tidak kenal siapa pria yang akan kakak jodohkan dengan ku. Aku tidak mau menikah lalu sebulan kemudian bercerai. "
" Ken tidak akan menceriakan mu. Karena dia sangat paham bagaimana sifat mu yang ke kanan-kanankan itu. "
" Ken? "
" Iya. "
" Kau mau menolak? kalau kau kurang cocok, kakak akan- " Belum selesai Jhon mengatakan apa yang ingin dikatakan, Jehan sudah bangkit lalu berjalan setengah berlari dan masuk kedalam kamarnya.
Jhon menghela nafas kasarnya lalu memijat dahinya.
" Anak nakal itu benar-benar tidak mudah di bujuk ya? "
Ibu juga ikut menghela nafasnya.
" Iya, padahal Ken adalah pria yang baik. "
" Tidak! Jehan tidak bermaksud menolak. " Ucapan Elia sontak membuat Ibu Sofia dan Jhon menatapnya penuh tanya.
" Apa maksud mu, nak? "
__ADS_1
Elia tersenyum menatap Ibu Sofia dan Jhon bergantian.
" Aku yakin, Jehan menyetujui perjodohan ini. "
" Dari mana kau bisa memiliki keyakinan itu? " Tanya Jhon yang seolah mewakili Ibu Sofia.
" Aku melihat wajah Jehan yang merona saat dia tahu kalau dia akan dinikahkan dengan Ken. Dan saat kau mengatakan kalau tidak cocok, Jehan langsung meninggalkan tempat ini dan berlari masuk ke dalam kamar. Aku yakin dia sedang menahan diri karena merasa malu. "
Jhon dan Ibu Sofia tersenyum bahagia.
" Syukurlah... " Ujar Jhon.
Barus saja Jhon akan kembali ke kamar bersama Elia, Jehan keluar dari kamar dan tak sengaja berpapasan dengan Jhon dan Elia.
" Kau mau kemana? " Tanya Jhon.
" Mi minum. " Ucap Jehan terbata-bata. Jehan kembali melangkahkan kaki tapi terhenti seketika saat Jhon mengatakan sesuatu.
" Je, kalau kau memang tidak setuju, kakak akan mencari kan pria yang lain. "
Jehan menatap Jhon dengan tatapan kecewa.
" Aku kan tidak mengatakan kalau aku tidak mau. " Ucap Jehan lalu kembali melanjutkan langkah dengan cepat menuju dapur.
Elia dan Jhon terkekeh lalu kembali berjalan menuju kamar mereka. Sesampainya di kamar, Jhon membantu Elia perlahan untuk mendudukkan tubuhnya di tempat tidur. Selesai itu Jhon teralihkan karena panggilan telepon dari Ken.
" Ada apa, Ken? "
Dargo sudah mulai berkembang, Tuan.
" Hancurkan. Kali ini serang sampai ke intinya. Dan tentang Zila, serahkan kepada Rendra. Biarkan dia yang menyerangnya. "
Bagai mana dengan aset- aset Dargo yang masih tersisa, Tuan?
" Biarkan saja. Kita hanya tidak boleh membiarkan usaha Dargo mulai berkembang. Maka dari itu, serang intinya dan Zila secara bersamaan. "
Baik, Tuan.
" Oh, satu lagi Ken. "
Iya Tuan?
" Adikku sudah setuju. Aku harap, kalian akan segera menikah. "
Itu, baik Tuan.
Sambungan telepon terputus.
__ADS_1
TBC