Second Husband

Second Husband
Episode 58


__ADS_3

Hari semakin siang, tapi untunglah pekerjaan selesai dan berjalan seperti biasanya. Ive juga benar-brnar anteng karena sedari pagi berbaring di sofa sembari menonton beberapa film kartun di ponsel Jhon.


" Kaka ipar, " Panggil Ken yang sejujurnya belum terbiasa dengan panggilan seperti itu. Apalagi, ini masih di kantor, batinnya.


Jhon tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari selembar kertas yang sedari tadi tengah ia baca. Rasanya begitu lucu mendengar panggilan itu.


" Ken, kalau kau merasa aneh, lebih baik kau panggil nama ku saja. "


Ken tersentak pastinya. Sedari kecil, dia sudah terbiasa memanggil Hendrick dan Jhon dengan sebutan Tuan. Mana bisa sekarang tiba-tiba dia memanggil dengan begitu akrab?


" Ken, aku tahu kau tidak terbiasa. Maka dari itu, biasakan saja dari sekarang. Panggil saja namaku. Khusus untukmu, tidak usah perduli kan di kantor atau bukan. Ini juga termasuk perintah. "


" Baik, " Ken terdiam sesaat. " Baik, Jhon. "


" Bagus. "


" Resepsionis memberi kabar, bahwa Hendrick meminta untuk bertemu. Bagaimana pendapat anda? maksudnya pendapat mu? "


Jhon menghela nafas lalu menoleh ke arah Ive. Sebenarnya, dia sama sekali tidak menginginkan pertemuan ini. Tapi jika di hindari, Hendrick akan semakin gencar menyalahkan dan menyudutkannya.


" Ken, apa tidak apa-apa jika Ive mendengar kata-kata kotor dari Hendrick nantinya? " Tanya Jhon yang masih menatap putrinya itu.


" Saya akan langsung membawa Nona kecil keluar sebelum itu terjadi, Tuan. Eh, Jhon. "


Jhon tersenyum lalu mengangguk beberapa kali.


" Baiklah, suruh dia masuk. "


" Baik. "

__ADS_1


Setelah beberapa saat, akhirnya Hendrick masuk ke ruangan Jhon. Wajah yang kusut, tatapan yang nanar, tubuh yang mulai susut berat badannya, dan aura keputusasaan begitu terasa dari seorang Hendrick Dargo. Pria yang beberapa waktu lalu menjadi idola para pembisnis, pria yang dengan bangganya tersenyum dengan wajah tampan dan maskulinnya, kini seolah hilang entah kemana bersamaan dengan hilangnya nama Dargo dari julukan raja pembisnis.


" Silahkan masuk. " Jhon mencoba tersenyum, meski yang terlihat seperti senyum menyebalkan bagi Hendrick.


Hendrick tanpa kata berjalan dan duduk di hadapan Jhon.


" Sebenarnya, apa yang kau inginkan? "


Jhon mengeryit dengan wajah penuh tanya. " Apa yang kau maksud? "


Hendrick mengepalkan kedua tangannya kuat.


" Kenapa kau menghancurkan bisnis ku? kenapa kau merebut investor yang susah payah aku dapatkan? kenapa seolah kau ingin menghancurkan Dargo? "


Jhon mengeraskan rahangnya kuat. Sebenarnya, dia sengaja tidak menutupi identitasnya agar Hendrick jelas melihat siapa yang melakukan tindakan itu.


" Dargo hancur, bukan karena ku. Itu karena kesalahan mu dan juga Ayah mu. Kenapa kau tidak menerimanya? kenapa kau ingin sekali jika aku yang berada di balik itu semua. Padahal sudah jelaskan? aku tidak ada hubungannya dengan kehancuran Dargo company. "


Jhon menghela nafas lalu membenahi posisi duduknya.


" Investor mu itu, dia juga menawarkan kerja sama dengan perusahaan ku sebelum kau mengajak nya bekerja sama. Karena aku membutuhkan mereka, jadi aku menyetujui kerja sama ini. Setelah beberapa saat, aku baru tahu kalau kau mengajukan kerja sama dengan mereka. Tapi, bukankah hal seperti ini sudah biasa di dunia bisnis? lagi pula, kau dan mereka belum menandatangani kontrak kerja sama kan? "


Hendrick mengeraskan rahangnya menahan kesal.


" Jhon, aku tahu. Dendam mu terhadap ku sudah mendarah daging. Sama seperti ku yang tidak akan bisa menghilangkan kebencian ku kepadamu. Tapi apakah menyenangkan menghancurkan ku yang belum bisa disebut bangkit? "


Jhon tersenyum lalu menoleh ke arah Ive yang mulai tertidur entah sejak kapan.


" Kecilkan suaramu. Putriku sedang tertidur. " Ucap Jhon sembari menatap Ive dengan bibir yang tersenyum.

__ADS_1


Hendrick mengeryit lalu mengikuti arah tatapan Jhon. Dia kembali mengepalkan tangan karena merasa tidak terima saat Jhon mengatakan jika Ive adalah putrinya. Memang benar dia sempat berpikir untuk tidak terlalu memikirkan Ive. Tapi sungguh tidak bisa dipungkiri, kata-kata Jhon barusan benar-benar membuat hatinya berdenyut nyeri. Hendrick juga ikut hanyut saat menatap Ive tertidur. Cara gadis kecil itu tertidur benar-benar sama seperti Ibunya. Dengan mata yang tertutup, gadis kecil yang tak lain adalah putrinya, benar-benar sangat cantik dan hampir sulit dibedakan dengan boneka. Kulitnya yang putih bersih hingga terlihat sedikit berwarna merah, bulu mata yang lentik, bibir tipis yang imut, semua perpaduan itu nampak indah di wajah Ive.


" Jhon, berhentilah menyebut dia sebagai putrimu. "


Jhon sontak menatap ke arah Hendrick yang entah sejak kapan matanya mulai memerah.


" Kenapa? apa itu menjadi masalah untuk mu? "


" Apa kau lupa? dia adalah putriku dengan Elia. "


Jhon memaksakan senyum di wajahnya. Sungguh, rasanya benar-benar ingin marah saat Hendrik menyatukan namanya dengan nama Elia yang kini sudah resmi mnejadi istri nya.


" Hendrick, kau sendirilah yang mendorong Elia keluar dari hidupmu dan membuang nya bersama dengan Ive. Kau, beserta keluarga mu tidak mengakui Ive saat dia berada di kandungan Elia. Sekarang kau bertingkah seperti itu, apa kau mulai menginginkan Ive? "


Hendrick terdiam tanpa bisa mengatakan apapun lagi. Matanya masih saja menatap putri cantiknya yang masih tertidur lelah di sebuah sofa. Tidurnya juga semakin nyenyak saat Jas Jhon menutupi tubuhnya. Sungguh, sangat sakit melihat itu semua. Jika boleh jujur, dia pun ingin memeluk tubuh putrinya dan mencium pipinya dan membawanya untuk menghabiskan waktu bersama. Tapi apa daya, kebencian di hatinya beberapa saat lalu seolah membutakan dirinya dan membuatnya kehilangan kesempatan untuk bisa menjadi Ayah yang sebenarnya bagi Ive.


Jhon menatap wajah Hendrick yang seperti mengisyaratkan kerinduan mendalam kepada Ive.


" Berhentilah menatapnya. " Titah Jhon yang merasa kesal dan cemburu. Meskipun tahu jika Hendrick adalah Ayah kandung Ive, rasanya sangat sulit menerima kenyataan itu.


" Jhon, berhentilah untuk mengatakan hal-hal yang seolah-olah, kau adalah Ayah kandungnya. Aku hanya menatapnya, dan kau bereaksi begitu marah. Meskipun aku bukan Ayah yang baik, tapi dia tetap putriku. "


Benar, dalam hak ini Jhon memang tidak memiliki kualifikasi untuk melarang Hendrick. Jhon memilih untuk membiarkan saja Hendrick terus menatap Ive. Tapi semakin lama, tatapan Hendrick semakin sedih, Jhon bisa dengan jelas melihat betapa rindunya Hendrick kepada Ive. Baiklah, dia memilih untuk memberikan kesempatan langka kepada Hendrick.


" Kau bisa melihatnya dari dekat jika kau mau. Tapi pastikan, Ive tidak boleh sampai terbangun. "


Hendrick menatap Jhon untuk memastikan kebenaran dari ucapannya tadi. Hendrick tersenyum meski begitu tipis. Dia bangkit dan perlahan berjalan mendekati Ive. Dia bersimbah menatap wajah anaknya yang begitu cantik.


" Ive,... " Panggil Hendrick lirih, lirih karena takut membangunkan Ive dan karena menahan tangisnya yang seakan pecah.

__ADS_1


" Ive, maafkan Ayah. " Perlahan-lahan tangan Hendrick menyentuh pipi Ive dan mengusapnya pelan. Tak terasa, air mata juga jatuh ke pipinya.


To Be Continued.


__ADS_2