Second Husband

Second Husband
Episode 38


__ADS_3

Satu minggu berlalu, hubungan Jehan dengan Elia juga semakin menyenangkan dan tak terlihat adanya bibit percekcokan di antara mereka. Apalagi saat ini Jehan sangat menyukai Ive. Dia sampai tak ingat daratan saat membeli baju untuk Ive. Dia amat senang mendandani Ive dengan baju-baju yang ia belikan. Setiap Ive selesai mandi, dia akan datang ke kamar lalu memakai kan pakaian untuk Ive plus setelah yang sudah ia selaraskan. Mulai dari bando dan sepatu. Semuanya akan satu warna dengan baju yang Ive gunakan. Dan semua ini membuat Elia semakin kehilangan waktu untuk bersama Ive. Kadang dia harus berebut dengan Jehan dan Ibu mertuanya untuk menggendong Ive. Yang ada Elia hanya diminta untuk mengalah dan menyuruhnya untuk melahirkan Ive yang baru.


" Ada apa? " Tanya Jhon yang merasa kalau Elia lebih banyak diam di kamar.


Elia tersenyum lalu menggeleng.


" Tidak ada. "


" Kenapa kau begitu pendiam akhir-akhir ini? " Tanya Jhon yang kini sudah berada di balik punggung Elia dan memeluknya dari belakang.


" Lalu aku harus apa? Kau tahu kan? Ive sudah menjadi rebutan. Jehan, Ibu dan Yana. Hari ini saja aku hanya kebagian satu jam untuk bersama Ive. Selebihnya dikuasai oleh Jehan. Aku ingin diam-diam mengambil Ive, tapi Jehan mengunci kamarnya. " Elia tersenyum mengingat Jehan yang begitu khawatir dia mengambil Ive dari kamarnya sampai harus di kunci rapat pintu kamarnya.


" Apa kau begitu kesepian? " Jhon kini mulai mengecup punggung Elia.


" Tidak juga sih, hanya saja waktu bersantai ku terlalu banyak. " Jhon kembali tersenyum lalu mengeratkan pelukannya.


" Begitu ya? aku punya solusi kalau begitu. " Jhon mengubah posisi Elia menjadi menghadapnya. Dia mulai menyergap bibir Elia.


" Tunggu! " Ucap Elia setelah berhasil menjauhkan bibir mereka.


" Kau mau apa? " Tanya Elia.


" Membuat Satu lagi Ive. Dengan begitu, kau tidak akan kesepian dan waktu bersantai mu akan berkurang kan? "


Elia menggeleng heran menatap manik mata Jhon yang kini selalu terlihat hangat saat menatapnya.


" Itu terlalu cepat, Jhon. "


Jhon menghela nafasnya.


" Baiklah, kalau begitu anggap saja ini sedang mengisi waktu luang mu. "

__ADS_1


Dua jam kemudian.


Elia yang sudah sedari tadi bersiap membuat Jhon mengeryit bingung sembari menatap Elia yang berjalan ke sana ke mari. Dia bahkan semakin bingung saat melihat Elia begitu cantik dengan dress berwarna maroon dan riasan tipis yang jarang sekali ia gunakan.


" Elia, mau kemana? "


Elia yang tengah meraih mini bag nya tertegun lalu menatap manik mata Jhon yang nampak sekali kebingungan.


" Bukanya aku sudah memberi tahu mu? " Elia balik bertanya sembari mengingat-ingat.


" Tidak ada. Justru aku bertanya. "


Elia yang merasa bersalah langsung berjalan mendekati Jhon yang masih duduk di tempat tidur.


" Maaf, Jhon. Aku lupa, aku pikir aku sudah meminta izin dari mu. Maafkan aku. "


" Memang kau mau kemana? "


Jhon menghela nafas kasarnya.


" Kau mau berurusan lagi dengan keluarga Dargo? adik Hendrick itu benar-benar seperti Ayah dan Ibunya. Bisa saja mereka akan menyakiti kalian nanti. "


Elia beringsut kedalam pelukan Jhon. Sungguh dia begitu bahagia karena Jhon benar-benar mengkhawatirkannya setiap waktu. Meski tidak pernah mengucapkan ungkapan cinta, tapi keperdulian Jhon cukup membuktikan bagaimana perasaan Jhon kepadanya.


" Jhon, kau sendiri yang mengatakan bahwa aku harus lebih kuat. Hal seperti ini tidak akan membuatku gentar. Apalagi, ada suamiku yang selalu menjaga ku kan? " Elia mengangkat kepalanya untuk menatap Jhon yang kini tengah menyembunyikan pipi yang tengah bersemu merah.


" Baiklah, kau boleh pergi. Jangan lupa hubungi aku kalau terjadi sesuatu. " Elia kembali menjatuhkan wajahnya di dada Jhon. Tentu Jhon tidak menolak dan sangat nyaman dengan posisi ini. Dia mengusap rambut Elia pelan sembari mengingat saat pertama kali melihat Elia.


Saat itu kau begitu berani meskipun kau menyembunyikan ketakutan dan kesedihan yang sangat besar. Jujur saja, aku merasa begitu terpukau melihat wajah cantik mu saat itu. Tapi aku merasa begitu membenci wajah sedih mu saat itu. Syukurlah, sekarang kau baik-baik saja. Teruslah seperti ini Elia. Aku menyukai senyum manis mu, cara bicaramu yang sekarang seperti alarm, kau yang begitu tidak segan memeluk dan selalu melalukan semua kewajiban mu dengan suka rela.


" Baiklah, aku ke kamar Jehan sekarang ya? " Elia mengurai pelukannya dan beranjak untuk meninggalkan Jhon. Jhon yang merasa terganggu karena sedang mengingat masa-masa itu, dia kembali menjatuhkan tubuh Elia kedalam pelukannya. Dia meraih dagu Elia dan memberikan kecupan singkat di bibirnya.

__ADS_1


" Jangan macam-macam disana. Kau dan Jehan sepantaran. Sudah pasti disana juga akan banyak pria yang sepantaran dengan mu. Jaga mata mu dan, "


" Aku tidak akan tergoda apalagi berselingkuh. Kau adalah pria tertampan yang ada di dunia ini. " Elia menggerakkan tangannya membentuk bulatan untuk menggambarkan bumi.


" Berlebihan sekali. " Jhon memalingkan wajah dan menyembunyikan senyumnya yang sulit untuk ditahan.


" Pergilah. "


Elia mengangguk meninggalkan sebuah kecupan di pipi Jhon.


Setelah menemui Jehan, Elia dan Jehan langsung pergi menuju tempat tujuannya. Bukan tanpa pertimbangan Jehan mengajak Elia. Karena tahu disana ada Siska yang pasti akan mengolok-ngoloknya seperti biasa, kali ini Jehan akan memberikan tamparan yang akan membuat Siska malu dan tida berani lagi macam-macam dengannya ataupun dengan Elia.


Sekitar satu jam mereka berada didalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah restauran mewah yang memiliki party room untuk pelanggan VVIP. Maklum saja, semua teman-teman fakultasnya, termasuk Siska adalah kalangan menengah ke atas. Mengadakan acara ditempat seperti ini adalah hal yang lumrah bagi mereka.


" Wuah, lihat siapa yang datang? " Siska berucap sembari menatap Elia dan Jehan dengan tatapan sinis.


" Jehan? " Salah satu teman mendekat dan memeluknya untuk melepas rindu. Jehan mencoba tak menghiraukan Siska dan menyambut sahabatnya yang datang menghampiri.


" Mantan kakak ipar, apa kabar? " Tanya Siska dengan senyum yang terlihat mengejek.


Elia yang sebenarnya ingin sekali memukul wajah menjijikan itu mencoba untuk menahan diri dan tersenyum.


" Seperti yang kau lihat, mantan adik iparku yang antagonis. "


Siska kehilangan senyum mengejeknya lalu kembali menatap tajam Elia. Semetara Jehan, gadis itu tersenyum karena pertarungan sengit ini akan segera di mulai.


" Sebenarnya aku masih tidak menyangka. Kau pasti sangat gila harta ya? kau bercerai dari kakak ku dan menikahi sepupu ku. " Siska kembali tersenyum licik menata Elia.


Elia tersenyum dingin lalu berjalan mendekat ke arah Siska.


" Jangan memulai pertengkaran sekarang. Kau mau mengacaukan acara ulang tahun sahabat mu? "

__ADS_1


TBC


__ADS_2