Second Husband

Second Husband
Episode 59


__ADS_3

Setelah menemui Jhon dan Ive, Hendrick kembali ke kediaman Dargo yang masih berdiri kokoh. Perlahan dia mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi yang berada di ruang kerja pribadinya. Pilu dan hampa. Itulah yang sebenarnya selama ini ia rasakan setelah kehilangan Elia. Hati yang kekeh seolah membantah bahwa cinta itu masih tersisa, kini begitu terasa menyisakan luka yang seolah terus menusuknya hingga begitu parah. Benar, beberapa waktu lalu, rasa benci kepada Elia timbul setelah mendapatkan penolakan darinya. Ditambah Ive yang memanggilnya paman, dan justru memanggil Jhon dengan sebutan Ayah. Sakit? tentu saja hatinya sakit. Dia memang bukan pria yang memiliki keteguhan, dan itu dia sadari benar adanya. Tapi saat kembali mengingat Elia meninggalkannya dan menikahi Jhon, sungguh hatinya sangat sakit. Rasa cinta yang sudah meresap sampai ke inti hatinya sungguh sulit untuk dihilangkan. Bahkan, kenangan-kenangan saat bersama mantan istrinya begitu jelas di dalam ingatannya. Lalu bagaimana? bagaimana dia bisa hidup dengan keadaan seperti ini? sampai kapan dia hanya bisa mengenang masa indah bersama Elia dan mencoba memenanginya sekuat tenaga? tidak! sejujurnya tidak sedikitpun Hendrick berhasil membenci wanita pertama yang membuat jantungnya berdegup kencang hanya karena senyumannya.


Jhon mengeluarkan ponselnya. Perlahan jarinya menggeser layar dan membuka galery photo yang masih tersimpan.


" Elia.... " Panggilnya lirih sembari mengusap wajah Elia yang berada di layar ponselnya. Entah mengapa hatinya begitu tak berprinsip sekarang ini. Rasa-rasanya dia menyesali apa yang terjadi meski tidak paham apa alasannya. Tapi hanya satu yang bisa ia ingat dengan jelas. Kenangan bersama Elia.


" Elia, apakah semua benar-benar harus berjalan seperti ini? aku rindu tatapan penuh cinta darimu. Aku rindu senyummu yang membuat jantungku berdegup kencang. Aku rindu kau memangilku, sayang. Aku rindu wanita yang akan bangun pagi dan menyiapkan sarapan untukku. Aku merindukan aroma tubuhmu yang sangat wangi. Aku merindukan bibirnya yang suka sekali mengingatkan ku untuk makan siang. " Hendrick mengusap wajahnya dengan sebelah tangannya.


" Seadanya mesin waktu itu ada, aku benar-benar tidak akan membiarkan semua ini terjadi, Elia. Aku tidak akan pernah menghianati mu. Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitimu. Dengan begitu, kita pasti akan membesarkan anak kita bersama kan? "


Hendrick mengusap wajahnya untuk menyingkirkan keringat serta air mata yang membasahi wajahnya. Sadar, sekeras atau sebesar apapun penyesalannya, tidak akan merubah apapun yang sudah terjadi. Elia tidak akan mungkin kembali padanya, dan dia sendiri tetap akan terjebak dengan perasaan yang setiap hari membuat hatinya berkecamuk tak jelas.


" Sayang,... " Panggil seseorang dibalik pintu sembari mengetuk pintu. Tentulah Hendrick tahu jika itu adalah suara Zila. Wanita yang tiga tahun terakhir Menganti posisi Elia di dalam hidupnya. Bukan hanya sekali dua kali, tapi Zila memanggilnya hingga berkali-kali. Entah harus mencari alasan apa lagi kali ini. Dia sudah paham benar bagaimana Zila yang gila akan hubungan badan. Dan ini juga adalah salah satu alasan Hendrick merasa tidak nyaman dengan Zila. Wanita itu seperti tidak mengenal dan terus meminta untuk melakukan hubungan suami istri. Beberapa hari terakhir ini, Hendrick memang dengan sengaja menjauhi Zila dengan berbagai macam alasan.


" Zila, tolong pergilah. Aku sedang dalam suasana hati ya g kurang bagus. "


" Apa kau sengaja menghindari ku? " Tanya lagi Zila dari balik pintu. Untunglah, Hendrick selalu mengunci rapat pintu ruang kerjanya saat berada di dalam sana.


" Iya. Aku memang menghindari mu. Banyak sekali yang terjadi akhir-akhir ini. Tolong jangan mengganggu ku dulu. "


Zila meninggalkan ruang kerja Hendrick dengan perasaan kesal. Sungguh, dia benar-benar merasa kesal. Padahal dia sudah banyak bersabar beberapa hari ini, dia juga sudah menerima jika uang belanjanya berkurang delapan puluh persen. Lalu mau sampai kapan dia akan terus bersabar? Zila menghentikan langkah kakinya saat tak sengaja matanya melihat ke arah samping kiri. Tempat dimana photo keluarga lengkap Dargo di pajang. Di sana juga ada sebuah photo berukuran kecil. Tapi sepertinya Zila Sangat paham siapa photo itu. Iya, itu adalah photo Jhon dan Nenek. Di lihat dari wajah muda dan Nenek, kemungkinan itu adalah Jhon saat berusia belasan tahun.


" Sepertinya, aku harus merebut keberuntungan Elia. Laki-laki seperti Jhon, seharusnya mendapatkan wanita yang sederajat kan? " Zila menyunggingkan senyum smirknya.

__ADS_1


***


Setelah kepulangan Jhon dan Ive, Ibu Sofia mengajak Jhon untuk berbicara.


" Ada apa, Bu? " Tanya Jhon.


" Duduklah, ada banyak hal yang ingin Ibu bicarakan. "


Sesuai keinginan Ibunya, Jhon akhirnya duduk di dekat Ibunya untuk mendengarkan apa yang ingin dikatakan Ibunya.


" Jhon, kali ini Ibu benar-benar harus menghentikan mu. "


Jhon mengeryit bingung sembari menatap Ibunya penuh tanya.


Ibu Sofia menatap Jhon dengan tatapan memohon.


" Tolong hentikan, Jhon. "


" Apa? apa yang harus dihentikan? "


" Bakas dendam mu. Sudah cukup nak, mereka sudah kehilangan Dargo Company. Jangan mengusiknya lagi. "


Jhon terdiam. Rasanya dia benar-benar tidak rela kalau harus membiarkan semua ini begitu saja. Hinaan, cacian, pukulan, dan tragedi demi tragedi menyakitkan telah membuatnya hidup dengan begitu menyedihkan. Kenapa hanya satu tindakan sudah dikatakan cukup? apalagi saat mengingat perilaku buruk yang didapatkan Elia, rasa benci itu seolah menggerogoti belas kasihnya untuk keluarga dari Ayahnya itu.

__ADS_1


" Ibu, bagaimana bisa Ibu mengatakan ini? kenapa begitu mudah Ibu berbelas kasih? apa Ibu pikir, mereka akan berubah setelah kehilangan Dargo Company? " Jhon tersenyum dengar artian meremehkan.


" Mereka tidak akan berubah semudah itu, Ibu. "


" Ibu tahu, nak. Kau hanya perlu hidup dengan baik dan bahagia. Apalagi kau lebih sukses dibanding Dargo Company, hal itu saja sudah cukup membuat mereka menunduk, nak. "


" Tidak, Ibu. Sebelum Dargo hancur, aku tidak akan berhenti. "


Ibu menghela nafas keluhnya. Sungguh, di tidak ingin melihat kehancuran dan berujung permusuhan lagi. Sudah cukup dia melihat pertengkaran selama menjadi menantu di keluarga Dargo. Rasanya dia hanya ingin hidup dengan damai penuh cinta kasih.


" Jhon, Ibu mohon. Tolong hentikan ini, nak. Anggap saja kau melakukan semua ini demi Ayah mu. "


Jhon mengeraskan rahang menahan marah.


" Jangan menyebut pria itu lagi! " Bentak Jhon yang masih tidak mau mengingat apapun tentang pria yang tak lain adalah Ayah kandungnya.


Ibu mulai menahan tangisnya. Sebenarnya dia paham bagaimana rasa sakit yang di rasakan anak sulungnya. Tapi ini semua juga demi kebaikan keluarga mereka. Paham, tentu saja Ibu sangat paham bagaimana marah nya Jhon kepada Ayahnya yang dia anggap tidak bertanggung jawab itu.


Elia yang mendengar pembicaraan itu semua, perlahan mulai mendekat menghampiri Ibu Sofia dan Jhon. Dia memang tidak sengaja melintasi ruang keluarga, karena penasaran, Elia akhirnya mendengarkan pembicaraan Ibu mertua dan suaminya.


" Ibu, istirahat saja ya? ini sudah malam. " Ucap Elia lembut. Dia juga mengguk beberapa kali saat Ini menatapnya. Tentu saja Ibu paham maksud Elia dan mengikuti apa yang disarankan oleh Elia.


" Sayang, kita ke kamar ya? ini sudah malam. Kau harus mandi agar tubuh mu segar. Setelah itu, aku akan menyiapkan makan malam untuk mu. " Elia mengulurkan tangannya di hadapan Jhon. Awalnya Jhon sangat kesal, tapi melihat uluran tangan Elia, entah mengapa hatinya sedikit tergerak dan akhirnya memilih untuk ikut bersama Elia ke kamar mereka.

__ADS_1


TBC


__ADS_2