Second Husband

Second Husband
Episode 43


__ADS_3

Masih dikediaman Dargo. Pesta mewah juga masih berlangsung meriah. Kali ini Hendrick dan Zila tengah menyambut dan mengobrol dengan beberapa rekan bisnisnya. Dan ini adalah kesempatan bagi Jhon untuk mendekati Rendra. Jhon mengajak Elia untuk ikut dengan nya agar tak terlalu mencurigakan.


" Elia, kita ke sana ya? ada yang ingin aku tanyakan dengan Rendra. Tapi aku juga tidak bisa mengobrol dengannya secara langsung. Tetaplah bersamaku dan berpura-pura saja kita sedang mengobrol ya? "


" Tentu saja, sayang ku. " Elia tersenyum manis seolah tengah menggoda suaminya. Dan tentulah itu membuat Jhon tak bisa menahan senyum.


" Mulut mu semakin manis saja ya? " Jhon mencubit hidung Elia pelan, lalu mengecup dahi Elia. Entah sejak kapan mereka begitu tidak mengenal tempat saat bermesraan. Padahal, dulu Jhon sangat lah menjaga dirinya dari hal-hal seperti ini. Dia paling pantang menunjukkan sikap lembut kepada pasangan. Tapi semua itu seolah sirna entah kemana. Jhon masa bodoh dan begitu menikmati momen-momen seperti ini.


" Kau sangat cantik hari ini. Sebenarnya aku ingin cepat pulang, tapi mau bagaimana lagi? sepertinya aku harus menahannya sedikit lagi. " Elia terkekeh mendengar ucapan Jhon dan itu membuatnya gemas ingin mencium bibir manis yang sekarang sudah sangat pintar menggombal itu. Tapi sayang, Ive malah memukul wajah Ibunya karena merasa jika Ibunya akan mengambil milik nya.


" Tidak boleh! Ayah milik Ive. " Bentak Ive yang justru mengundang gelak tawa dari beberapa orang yang melihat dan mendengarnya secara langsung.


" Sepertinya Ibu mu sudah sulit menahan diri, sayang. " Ucap Jhon kepada Ive. Dan sialnya, Ive justru nyengir lalu mengangguk setuju.


" Kau sedang meracuni putriku ya? " Protes Elia.


" Putri kita. Jangan hanya mengakuinya seorang diri. " Elia terdiam sesaat lalu langsung mengecup pipi Jhon dan menekannya. Ive yang mulai kesal karena lagi-lagi Ibunya mencium Ayahnya, gadis kecil itu menarik rambut Elia dengan wajah merengut kesal.


" Ah! sakit sayang! " Elia mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Ive yang mencengkram rambutnya kuat.


" Sayang, lepaskan ya? lihatlah Ibu kesakitan. Nanti kalau Ibu menangis bagaimana? " Mendengar saran Ayahnya, Ive baru mau melepaskan rambut Ibunya.


"Masih sakit? " Tanya Jhon sembari lalu mengusap kepala Elia pelan. Tapi lagi-lagi Ive merasa kesal lalu menarik tangan Jhon dan memindahkannya untuk mengusap kepalanya saja.


Elia dan Jhon kompak tertawa bahagia dengan tingkah Ive yang begitu cemburuan. Jhon yang tidak mau lagi melihat bibir Ive yang merengut, akhirnya memberikan banyak kecupan di wajahnya. Dan semua itu berhasil. Ive kembali tertawa dan kembali bersemangat.


" Ayo. " Aja Jhon yang pada awalnya berniat mendekati Rendra.


Hendrick yang sedari tadi memperhatikan Jhon, Elia dan Ive, kini semakin besar kebencian di hatinya. Rasanya dia benar-benar tidak rela melihat kedekatan Ive dan Jhon yang bahkan hanyalah seorang paman baginya.


Jhon, Aku akan merebut kembali putriku dan menjadikannya senjata untuk menghancurkan mu . Dan kau Elia, aku akan membuat mu bertekuk lutut padaku. Lalu, setelah aku puas bermain dengan mu, kau akan ku tendang ke hadapan Jhon sialan itu.

__ADS_1


Di sudut lain, Jhon, Elia dan Ive kini sudah berada di dekat Rendra. Jhon sengaja tidak mau berhadapan langsung dengan Rendra demi menghindari kecurigaan saat Dargo runtuh nantinya.


" Bagaimana kesiapannya, Tuan Rendra? "


Rendra yang sudah menyadari jika Jhon dan keluarganya berada dibalik punggungnya, dia melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan keadaan.


" Sembilan puluh persen, semuanya sudah Ready. Hanya tinggal menunggu Hendrick besok. Dia adalah pria yang cerdas. Aku rasa, besok dia pasti akan langsung menyadarinya. Maklum saja, setelah dua tahun ini adalah kali pertama dia langsung datang ke kantor. Dia pasti akan mengecek keadaan perusahaan secara detail. "


" Jangan bilang, sekarang kau mulai ketakutan. " Ejek Jhon.


" Kenapa harus takut saat mendapatkan ikan besar? lagi pula, kau bukan orang sembrono yang akan membiarkan semuanya hancur begitu saja kan? "


Jhon tersenyum menatap Elia yang hanya bisa ikut tersenyum agar orang mengira Jhon tengah berbicara dengannya.


" Baguslah. Mari kita persiapkan diri untuk kejutan esok hari. Dan kau, cek kembali semua transaksi mu. Jangan tinggalkan jejak kotor sedikitpun. Kau tahu harus bagaimana setelah itu kan? "


" Tentu saja. Ken sudah banyak membantuku. Persiapan dan antisipasinya sudah sangat berlapis-lapis. Huh..! aku sangat iri dengan mu. Bagaimana bisa kau memiliki orang yang begitu cerdik seperti, Ken. "


" Karena aku selalu menggunakan otak. Tidak sepertimu yang selalu menggunakan benda di balik resleting mu. "


Rendra yang baru saja menenggak anggur justru menyembur keluar karena ucapan Jhon yang begitu benar adanya.


Elia tersenyum menahan diri yang sudah sangat ingin tertawa karena ucapan absurd suaminya itu.


" Baiklah, ku tunggu kabar bahagianya besok pagi. "


" Siap. "


Jhon mengangguk lalu kembali meraih jemari Elia dan menuju Nenek yang sedari tadi melambaikan tangan kepada Ive.


" Sayang, bicaramu tadi terlalu frontal loh. " Ujar Elia sembari mengikuti langkah kaku suaminya.

__ADS_1


" Tapi memang begitulah dia. Dulu dia mewarisi perusahaan besar. Tapi karena hobinya yang tidak jauh dari wanita, lama kelamaan dia jatuh karena dibohongi oleh wanita. "


" Miris sekali. Pria tampan mengerikan juga ya? "


Jhon mengernyit lalu menghentikan langkah kakinya untuk menatap Elia.


" Aku kan tidak begitu. "


Elia tersenyum lalu memeluk erat lengan Jhon.


" Aku tahu, kau tidak begitu. Aku harap sampai kapan pun, kau tidak akan pernah menjadi seperti itu. "


Jhon menggenggam tangan Elia erat. Meski dia yakin tidak akan menjadi seperti Rendra, tapi melihat mimik Elia yang begitu terlihat takut jika itu terjadi, Jhon jadi merasa takut seandainya hal gila itu tanpa sadar dia lakukan dan menyakiti Elia yang memang memiliki pengalaman buruk tentang perselingkuhan.


" Ive? " Nenek berjalan pelan mendekati Ive yang juga melambaikan tangan terus menerus kepada Nenek.


" Nenek buyut. " Tunjuk Ive sembari menunjuk Nenek yang tengah berjalan ke arahnya.


" Kau mau makan sesuatu? mau Nenek buyut ambilkan? "


Ive menggeleng pelan. Memang seperti itulah Ive. Dia tidak akan mau memakan makanan yang bukan diberikan oleh anggota keluarga Damien. Bukan tanpa alasan, semua itu dilakukan untuk menjaga keselamatan Ive sendiri.


" Mau bersama Nenek buyut? " Ive mengangguk dan merentangkan tangannya.


" Tidak Ive. Nenek buyut tidak bisa menggendong Ive. " Elia mencegah karena melihat keadaan Nenek yang memang sudah begitu renta.


" Tidak apa-apa, Elia. Nenek akan duduk di kursi Roda. Tolong letakan Ive dipangkuan Nenek ya? " Ucapan Nenek akhirnya mendapat anggukan dari Elia.


Setelah Ive berada di pangkuan Nenek, Elia dan Jhon kini tersenyum melihat kedekatan mereka. Selama dua tahun terakhir, hanya Nenek lah satu-satunya orang yang selalu meminta untuk bertemu Ive. Bahkan bisa dibilang dia lebih menyayangi Ive dibanding Erlan atau Anak dari Zila.


Jhon menatap Nenek yang kini terlihat begitu bahagia. Tapi didalam hatinya juga merasa begitu bersalah karena sebentar lagi Dargo hanya akan menjadi nama saja tanpa kekuatan apapun.

__ADS_1


Maaf Nenek. Tapi aku perlu menghukum orang-orang yang sudah menyakiti keluarga ku.


TBC


__ADS_2