Second Husband

Second Husband
Episode 66


__ADS_3

Brak....!


Semua barang dikamar Hendrick dan Zila luluh lantah tak beraturan. Seprei yang sudah lepas dari tempat tidur, bantal dan guling sudah berhamburan entah kemana, bahkan isi dari bantal juga ada yang berterbangan memenuhi seisi kamar. Marah, lalu makian yang Hendrick berikan kepada Zila entah sudah berapa banyak tak terhitung lagi. Marah, kecewa, kesal, semua menjadi satu bagaikan jutaan anak panah yang melesat menghujam hatinya.


Beberapa saat yang lalu. Sarapan pagi seperti biasa sedang berlangsung di kediaman Dargo. Pagi ini berjalan seperti biasa kecuali, nenek yang memang tidak ikut bergabung karena kesehatannya yang belum membaik.


" Tuan, maaf mengganggu kegiatan anda. Ini ada paket yang ditujukan untuk Tuan Hendrick. "


" Kau tidak lihat kalau kami sedang sarapan. Letakkan saja di sana! " Titah Ibu Sela yang tak lain adalah Ibunya Hendrick.


" Berikan padaku. " Pinta Hendrick sebelum pelayan itu mengikuti titah Ibunya.


" Ini, Tuan. " Pelayan itu menyerahkan amplop berwarna coklat kepada Hendrick. Setelah menerima amplop itu, Hendrick mengeryit bingung karena tidak dapat menemukan nama si pengirim paket tersebut. Tak mau membuang waktu karena penasaran, Hendrick langsung saja membuka amplop berwarna coklat yang tengah ia pegang. Satu persatu Hendrick mulai mengamati photo-photo itu dengan seksama. Lain dari Hendrick yang semakin terlihat marah, anggota keluarga yang lainya justru mengeryit bingung.


" Ada apa Nak? apa Jhon membuat ulah lagi? " Tanya Ibunya Hendrick.


Tidak menjawab, Hendrick justru kembali memasukkan isi dari amplop itu.


" Zila, ikut aku! " Titah Hendrick yang sudah mulai bangkit dan lebih duku menuju kamarnya.


Zila menghela nafas nya. Jujur saja, wanita itu kini sudah semakin kesal dengan Hendrick. Selain uang belanja bulanan menurun drastis, Hendrick juga sudah lama tidak menyentuhnya. Tapi akhir-akhir ini sering sekali marah-marah tidak jelas dan meminta Zila melakukan banyak hal untuknya. Mulai dari belajar memasak, lalu mengurus Erlan sendiri agar tida bergantung dengan pengasuh. Memang terdengar sangat biasa bagi seorang Ibu rumah tangga, tapi itu justru hak paling berat bagi Zila. Dia lahir, tumbuh dan besar di keluarga yang mapan. Jangan memasak, memegang penggorengan saja dia tidak pernah melakukannya. Bahkan tak jarang Zila selalu memerintah pelayan rumahnya untuk mengambilkan semua yang dia inginkan dari dapur. Apalagi harus sampai mengurus anak? bahkan dia adalah anak tunggal yang tidak pernah merasakan punya kakak atau adik. Melahirkan Erlan saja sudah termasuk ke beruntungan. Batin Zila bergerundel.


" Ada apa, sayang? " Tanya Zila saat sudah mulai masuk kedalam kamar.


Plak.....!


Hendrick melemparkan amplop itu ke dada Zila dengan wajah merah menahan rasa marahnya.


" Ini apa, sayang? " Tanya Zila bingung.

__ADS_1


" Buka saja dan lihatlah sendiri. " Titah Hendrick tanpa mau menatap Zila yang berdiri di balik punggungnya.


Dengan perasaan bingung, Zila hanya bisa mengikuti apa yang di perintahkan Hendrick.


" Ini? "


" Kau sudah melihatnya kan? sekarang kau tahu apa yang harus kau lakukan? " Tanya Hendrick sembari membalikkan tubuh dan menatap Zila tajam.


" Sayang, dengar. Photo ini semua palsu sayang. Ini semua rekayasa. " Zila mencoba membohongi Hendrick dengan wajah melasnya seperti biasa ketika hampir terbongkar rahasianya.


" Zila, berhentilah untuk berbohong. Aku tidak buta untuk membedakan mana yang asli atau palsu. " Hendrick menggelengkan kepala heran. Heran dengan dirinya sendiri yang begitu buta dan bodoh. Hanya demi mengikuti kemauan orang tuanya, dia telah membuang berlian dan memungut batu Kolar yang tajam dan menyakitkan.


" Tidak! jangan salah paham, sayang. Aku bukan orang yang seperti itu. "


Hendrick meraih vas bunga lalu melemparnya ke sembarang arah. Zila sempat menutup wajahnya karena takut terkena dirinya, tapi sepertinya Hendrick tetaplah Hendrik yang tidak akan melukai nya.


" Tidak, itu semua bohong! ini tidak benar, sayang! aku akan menjelaskan semuanya. "


" Bagaimana kau akan menjelaskan? kau bisa menghitung kan? ada sepuluh lembar photo mesum mu dengan sepuluh pria berbeda. Zila, apa kau monster? aku benar-benar merasa jijik dengan mu. "


Zila mengepalkan tangannya kuat. Tentu dia tida merasa bersalah, tapi dia merasa jika semua itu adalah hal yang biasa meski sahabatnya mengatakan jika apa yang dia lakukan adalah tidak benar. Tapi rasa haus akan bersetubuh dengan laki-laki membuatnya sulit berhenti. Bukanya tida pernah pergi ke psikiater, dia sudah pernah melakukan itu beberapa kali. Tapi pada akhirnya, dia malah tergoda dengan Dokter yang menanganinya. Lama kelamaan Zila berpikir bahwa apa yang sudah ia alami adalah sebuah kelebihan. Kenapa? karena bagi dirinya, dia akan terasa sangat menarik saat banyak pria yang mengajaknya tidur bersama.


" Lalu kenapa kalau memang iya? apa kesalahan ku? " Tanya Zila dengan tatapan berani seolah tidak takut sama sekali dengan Hendrick.


" Kau?! " Hendrick menahan dirinya agar tidak memukul Zila. Karena dia mengingat bagaimana dia melukai Elia dan itu menjadi pengalaman paling menyakitkan sekaligus ia benci hingga saat ini. Hendrick memilih untuk menarik selimut sprei, lalu melemparkan guling dan banyak ke sembarang arah.


" Dasar wanita gila! kau benar-benar menjijikkan. " Ucap lagi Hendrick dengan nafas terengah-engah. Dadanya juga naik turun mengiringi tarikan nafasnya yang tidak stabil.


Zila tersenyum dingin mendengar makian Hendrick.

__ADS_1


" Memangnya apa salah ku? "


Hendrick yang tidak bisa lagi mengontrol emosinya, berjalan ke arah Zila laku mencekik lehernya dengan satu tangan.


" Apa kau tidak punya rasa malu? haha?! "


" Tidak sayang. Uhuk..uhuk... " Ucap Zila sembari tersengal-sengal.


Hendrick melepaskan tangannya karena wajah Zila telah memerah. Menyadari jika Hendrick semakin terpancing emosi, Zila akhirnya memutuskan untuk menggunakan nama Elia sebagai senjata ampun seperti biasanya. Dia berjalan mendekati Hendrik, bersimpuh, laku memegang kedua kaki Hendrick.


" Sayang, aku terpaksa melakukan itu. Elia selalu mengancam ku. Saat itu aku tidak sengaja menabrak orang dengan mobil baruku. Elia mengetahui itu dan membuat ya menjadi senjata untuk mengancam ku. Dia sengaja menghancurkan ku, sayang. Aku juga tidak mau menjadi seperti ini. "


Plak.....!


Bukanya mendapat simpati dari Hendrick seperti biasanya, Zila justru mendapatkan tamparan keras di pipi mulusnya. Hendrick dengan kasar menepis tangan Zila lalu menatap tajam.


" Kau pikir, aku masih bisa kau bodohi seperti kemarin? Zila, kau benar-benar membuat ku menyesal. Bagaimana bisa? bagaimana bisa aku lebih mempercayai mu hanya karena kau lahir dari keluarga berada? bagaimana bisa aku membuang istri sebaik Elia. Hanya karena rasa empati ku padamu, aku kehilangan anak dan istriku. Aku bahkan tidak bisa mendengar putriku memanggil ku Ayah! kenapa?! kenapa kau harus hadir didalam hidup ku?!! " Tanya Hendrick dengan nada membentak. Sungguh dia sangat marah. Marah kepada dirinya sendiri dan juga dengan Zila.


" Hubungi keluarga mu. Minta mereka untuk menjemput mu. " Titah Hendrick.


***


" Saat ini, pasti ada pertunjukan bagus di kediaman Dargo. " Gumam Jhon kepada Ken.


" Sayang sekali, kita tidak ada disana ya Jhon? " Ujar Ken.


" Tenang saja, Ken. Itu belum seberapa. Akan ada kejutan yang lebih menghebohkan lagi. Karena pekerjaan seperti ini, Rendra adalah ahlinya. Mari kita lihat saja bagaimana pertunjukan ini mencapai puncaknya nanti. " Ucap Jhon lalu menyenderkan tubuhnya di senderan kursi kerjanya.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2