
Hari ini adalah jari ke tiga suasana kacau di sebuah perusahaan ternama Company. Desas-desus tentang kebangkrutan Dargo juga mulai terdengar bising di masyarakat luas. Bukan karena para pekerjanya yang membuka masalah ini ke publik, tapi Hendrick dan Ayahnya lah yang tanpa mereka sadari, mereka sudah memancing banyak orang untuk mencurigai pergerakan mereka. Seharian penuh dia mencari keterlibatan Jhon dalam masalah pelik ini. Tapi sangat disayangkan, setitik saja tidak ada bukti yang bisa ditujukan kepada Jhon ataupun rekan setia kerjanya.
Hendrick duduk di kursi kebesaran yang sudah dua tahun ia tinggalkan, dan sekarang harus kembali ia tinggalkan lagi dan tidak tahu apa bisa duduk disana lagi atau tidak. Mengusap wajahnya dengan kasar, hanya itulah yang bisa dilakukan Hendrick sembari mengenang masa-masa jayanya saat dengan bangga ia menduduki kursi itu. Kursi yang mengantarkannya menjadi seorang pembisnis muda dengan keterampilan dan kecakapan dalam melakukan pergerakan yang hampir tidak pernah meleset.
Hilang dan sirna seperti butiran debu yang terhempas terbawa angin dengan tujuan yang tidak jelas. Mungkin, saat ini adalah saat terpuruk didalam hidupnya. Entah bagaimana dia bisa menghadapi kakek dan neneknya yang dulu dengan bangga mengantarkannya sampai ke kursi penguasa Dargo Company. Status yang disandangnya sedari kecil sebagai pewaris tunggal Dargo, adalah hal yang paling membahagiakan juga membanggakan baginya. Dia dengan mudah disegani, mendapatkan banyak kehormatan dan tidak ada yang berani berbuat macam-macam dengannya. Lalu sekarang? bagaimana? membayangkan nama Dargo yang tidak lagi memiliki kekuatan, seakan dia tidak akan bisa menghadapi hidup yang sudah pasti akan begitu berat baginya.
" Bagaimana aku akan hidup sekarang? kami memang masih memiliki sedikit saham yang tersisa, tapi untuk menutupi kerugian perusahaan yang tidak terdeteksi saja sudah bisa dipastikan habis tak tersisa. "
Hendrick menoleh ke arah samping dimana ponselnya tergeletak disana. Sejenak Hendrick menyempatkan diri untuk melihat notifikasi dari ponselnya yang sudah menumpuk begitu banyak. Ratusan pesan dan banyaknya panggilan hanya bisa ia tanggapi dengan hela nafas yang tak mengerti apa maksudnya.
" Tuan? " Panggil asisten Hendrick setelah beberapa kali mengetuk pintu tapi tak mendapatkan jawaban. Dengan keberanian yang sudah mantap ia kumpulkan, akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam dan mengecek bagaimana keadaan Tuannya.
" Ada apa? " Tanya Hendrick dengan tatapan kosongnya.
" Maaf mengganggu anda Tuan. Tapi ini sudah waktunya kita pergi. "
Hendrick terdiam tapi tengah mengepalkan tangannya kuat.
" Aku tahu. Bereskan tempat ini. "
Asisten Hendrick mulai menjalankan perintah. Dia memasukkan satu demi satu barang-barang Hendrick. Mulai dari peralatan tulis, lalu nama yang melekat pada sebuah benda kaca persegi panjang yang bertuliskan Hendrick Dargo. Pikirannya menjadi semakin tak karuan saat benda itu dimasukkan ke dalam sebuah kardus bersamaan dengan barang miliknya yang lain.
__ADS_1
Kenapa jadi seperti ini? kenapa aku tidak menemukan jejak Jhon? padahal kalau aku menemukan sedikit saja jejaknya Jhon, aku pasti bisa menuntutnya dan memperbaiki keuangan Dargo yang kacau balau ini.
***
Hari ini Rendra, Ken dan Jhon sepakat untuk menghentikan sesaat misi mereka. Bukan tanpa alasan, semua ini demi keamanan mereka bersama. Hendrick pasti tidak akan tinggal diam. Untuk beberapa hari ke depan, dia akan melakukan segala cara untuk membuktikan bahwa kehancuran Dargo Company adalah kesengajaan atau kerja sama dari beberapa pihak yang ingin menghancurkan Dargo Company. Bukan takut, tapi mereka benar-benar ingin membuat semua bukti bersih tanpa ada yang tersisa. Walau sebenarnya, tidak ada kejahatan yang sempurna. Maka dari itu, pencegahan harus dilakukan sebaik mungkin. Apabila ditemukan adanya bukti yang tertinggal, Jhon dan Ken tentu saja sudah menyiapkan alibi yang masuk akal dan sulit untuk disangkal.
" Tuan, apa ada pekerjaan yang bisa saya bantu? " Tanya Ken karena sudah bisa mematikan jika semua pekerjaannya telah selesai untuk hari ini.
Jhon tersenyum menatap Ken yang sama sekali tidak mengenal lelah. Selama dua tahun lebih dia bekerja siang malam dan mengerahkan semua kemampuan yang ia miliki untuk membantu Jhon menghancurkan Dargo.
" Ken, dua tahun terakhir ini kau sangat kelelahan bukan? ambilah cuti sebanyak yang kau inginkan. Akan ku urus pekerjaan di kantor bersama yang lain. "
Ken terdiam dengan senyum kelu yang terbit dari bibirnya.
Jhon menghela nafas dan menegakkan posisi duduknya. Jhon tahu benar bagaimana perasaan Ken. Pria yang setia bersamanya selama ini. Jatuh bangun bersama dalam membangun perusahaan, saling menguatkan satu sama lain, tidak mengenal siang ataupun malam, tidak pernah mengeluh dan tegak berdiri disebelah Jhon. Awalnya Jhon sudah memberikan jabatan tinggi di perusahannya, tapi pria itu selalu menolak. Diam-diam Jhon memberikan dua puluh persen saham kepada Ken beberapa tahun yang lalu sebagai bentuk buah dari sebagian usaha dan kesetiaan yang dia berikan untuk Jhon.
" Tentu untuk dirimu sendiri, Ken. "
Ken terdiam dan lagi-lagi tersenyum kelu.
" Saya lebih bahagia saat bisa terus bersama anda dan melindungi anda, Tuan. "
__ADS_1
Seperti itulah Ken. Pria tiga puluh tahun yang seumuran dengan Jhon. Luka mendalam yang pernah diberikan Dargo membuatnya menjadi pria kuat, cerdas, tanggap, dan cekatan. Sebenarnya, dengan kemampuan Ken, pria itu juga bisa membangun perusahaan untuknya sendiri. Tapi sebuah rasa nyaman dan dan kebanggaan adalah selalu bisa menjaga Jhon dan keluarganya dengan baik.
" Ken, kau yakin? tapi aku tahu tubuhmu butuh istirahat, Ken. "
Ken menggeleng dengan raut wajah yang terlihat begitu yakin.
" Tuan, berkat anda saya bisa hidup sampai sekarang. Berkat anda saya masih bisa melihat kehancuran Dargo yang tidak pernah saya bayangkan walaupun dalam mimpi saya. Tapi bersama dengan anda, saya merasa yakin dan kuat setiap saat. Jadi jangan meminta saya untuk menjauh dari anda walaupun hanya sebentar, Tuan. "
Jhon menghela nafas panjangnya mendengar ucapan Ken.
" Kau masih saja sama seperti dulu. Kau memiliki dedikasi yang tinggi. Kau meyakiniku seolah-olah aku Tuhan. Dengar, Ken. Aku bisa saja menghianati mu suatu hari nanti kan? "
Ken kembali tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari Jhon.
" Saya tidak pernah menyamakan anda dengan Tuhan, Tuan. Tapi saya menyamakan anda sebagai nyawa saya yang harus saya jaga sebaik mungkin. Dan saya sangat tahu, Jhon Damien, tidak akan menghianati seorang ku. "
Jhon masih tersenyum menatap Ken yang begitu manis saat berkata-kata meski wajahnya seperti tentara yang mau perang.
Jehan, aku selalu memikirkan ini selama beberapa tahun terakhir. Tidak ada laki-laki yang pantas menjadi adik ipar ku selain dia. Pria berjiwa kesatria tapi begitu rapuh tentang hati. Ken, aku yakin, bahwa Jehan ku akan mampu menghangatkan hatimu.
" Baiklah, kita tida perlu membuang banyak waktu di sini. Pekerjaan sudah selesai dan waktunya untuk pulang. "
__ADS_1
TBC