Second Husband

Second Husband
Episode 60


__ADS_3

Elia duduk dipinggiran tempat tidur sembari menunggu Jhon yang masih berada di dalam kamar mandi. Entah lah, mungkin karena suasana hatinya sedang tidak baik, Jhon memilih untuk berlama-lama di kamar mandi. Sejujurnya, Elia juga cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Jhon hari ini. Biasanya, Jhon akan begitu lembut dan santun kepada Ibunya. Tapi tadi dengan mata menatap penuh kemarahan, Jhon membentak Ibunya.


Elia menghela nafasnya karena lelah juga menunggu Jhon yang begitu betah berada di dalam kamar mandi. Perlahan dia bangkit dan mengetuk pintu kamar mandi.


" Sayang? ini sudah cukup lama kau berada di dalam kamar mandi. Bergegaslah, makanan mu juga sudah mulai dingin. "


Tidak mendapatkan jawaban, tapi beberapa saat setelah itu Jhon keluar dari kamar mandi. Dengan jelas Elia bisa melihat mata Jhon yang memerah seperti habis menangis. Tak mau bertanya dulu, Elia justru mengikuti langkah Jhon dan membantunya mengambilkan baju tidur untuk Jhon. Dia juga membantu Jhon mengeringkan rambut setelah Jhon selesai berpakaian.


" Makanlah. " Ucap Elia Sembari menyerahkan sepiring nasi yang sudah hampir dingin itu. Tak menjawab, Jhon langsung meraih piring itu dan mulai memakan nya. Sungguh dia begitu tidak berselera untuk makan, tapi melihat Elia yang selalu melayaninya dengan penuh kasih, Jhon tidak memiliki pilihan selain mengikuti apa yang di perintahkan istrinya.


Setelah selesai makan malamnya, Elia kembali ke dapur untuk mengembalikan piring bekas Jhon.


" Sayang? " Panggil Elia setelah kembali dari dapur.


" Hem? " Jawab Jhon singkat sembari menatap layar ponselnya.


" Apa kau lelah dan ingin segera istirahat? " Jhon nampak berpikir sejenak lalu menatap Elia. Yah, tentu dia bisa melihat bahwa Elia ingin mengatakan sesuatu kepadanya.


" Ada apa? " Tanya Jhon.


Sungguh Elia bisa melihat bahwa sepertinya Jhon tidak ingin membicarakan hal yang akan semakin membuatnya kesal. Perlahan Elia berjalan mendekati Jhon. Duduk di pinggiran tempat tidur tadi dengan posisi agak belakang. Dia melingkarkan kedua lengannya dan memeluk erat tubuh Jhon dari belakang. Elia pikir, jika mengajak bicara Jhon sekarang, pasti dia akan semakin kesal dan merasa jika ia adalah pihak yang bersalah karena terus disalahkan.


" Kau pasti sudah sangat lelah hari ini. Jhon, jika kau merasa semua itu begitu berat, kau bisa membaginya dengan ku. Aku tidak ingin selalu menerima kebahagiaan darimu. Aku ingin, kau berbagi duka mu juga. Mungkin, aku memang terlihat kemah. Tapi percayalah, Jhon. Setelah menjadi istrimu, aku adalah Elia yang tangguh. "


Jhon terdiam dengan hati yang kembali menjadi lemah. Sebenarnya dia sudah memuaskan diri di kamar mandi untuk menangis di bawah guyuran air, tapi tidak disangka, dia ternyata juga bisa dengan mudahnya tersentuh dan tidak bisa lagi menyembunyikan sisi lemahnya. Jhon memegang lengan Elia dengan perasaan kacau balau yang sulit untuk bisa dijelaskan dengan kata-kata yang terdengar sederhana.

__ADS_1


" Jhon, kau tahu tidak? aku sangat mencintai mu. Aku merasa beruntung karena memiliki suami sepertimu. "


Jhon mengubah posisinya agar mereka saling berhadapan. Jhon meraih tubuh Elia dan memeluknya erat. Sungguh dia tidak tahan lagi dengan perasaan tersiksa yang selama ini bersemayam di hatinya. Hingga untuk pertama kali di dalam hidupnya, dia membentak Ibu ya.h sudah susah payah merawat nya dengan pengorbanan yang begitu besar.


" Elia, aku lelah berpura-pura kuat. "


" Aku tahu. " Mereka saling mengeratkan pelukannya.


" Aku lelah menahan rasa sakit ku saat ada yang mengungkit tentang pria itu. Aku marah sampai-sampai aku ingin membunuh semua orang yang menyakiti kita sekeluarga. "


" Tidak apa-apa, Jhon. Bagiku, kau adalah suami dan Ayah terbaik untuk ku dan anak-anak kita. "


" Terimakasih karena sudah hadir dalam hidupku yang penuh rasa sakit ini. "


" Jhon, apa pria yang kau maksud itu Ayah mu? " Tanya Elia yang kini berada di dekapan suaminya.


" Elia, sedari dari kau terus memanggil namaku. Apa kau lupa harus memnmanggil ku apa? "


" Ah, maaf sayang. "


" Iya, pria brengsek itu adalah Ayah ku. Ayah yang memilih untuk pergi tanpa sedikitpun ingin memperjuangkan kami. "


" Jhon, kalau boleh tahu, kenapa kau tidak memakai nama Dargo? "


" Karena itu keputusan ku dan Ibu. "

__ADS_1


" Kenapa? apa yang terjadi? "


Jhon menghela nafas panjangnya.


" Saat pertama kali aku datang ke kediaman Dargo, Kakek dan nenek serta Paman dan Bibi sama sekali tidak menyambut kami. Yang kami dapatkan hanyalah lirikan tajam, tatapan menghina, sindiran, makian, dan dengan terang-terangan mengusir ku dan Ibu hingga berkali-kali. Tapi dengan percaya dirinya, Ayah ku mengatakan kepadaku dan Ibu, kalau dia akan membuat orang tuanya menerima kami dan memperlakukan ku seperti mereka memperlakukan Hendrick. " Jhon menjeda ucapannya.


" Sayang sekali, yang dia lakukan justru hal-hal bodoh dan tidak masuk akal. Mulai dari memaksa Ibuku membantu pelayan untuk memasak, menyiapkan kebutuhan rumah besar Dargo, dan banyak lagi pekerjaan yang harus dilakukan pelayan. Dalihnya hanya satu, Ayah ku berpikir, dengan Ibuku melakukan itu semua, orang tuanya akan setuju. Tapi kau tahu apa hang terjadi? "


" Apa? "


" Mereka justru menganggap Ibuku seperti pelayan. Semakin hari, mereka semakin tidak memanusiakan Ibuku. Dan lagi-lagi, Ayah ku hanya bisa diam dengan dilema bodohnya yang tidak masuk akal itu. Penderitaan tidak hanya sampai disitu saja, karena Hendrick terus saja memusuhi ku. Aku akui, Hendrick adalah anak yang cerdas. Setiap hari dia mendapatkan jutaan sanjungan karena banyaknya prestasi membanggakan yang ia miliki. Sementara aku? bagi mereka aku hanyalah kotoran menjijikkan yang mengganggu. "


" Mereka bodoh sekali! " Maki Elia yang ikut merasa kesal.


" Kau tahu Elia? dari awal aku datang ke Dargo Famili, aku hanya memiliki satu teman saja. Yaitu, Ken. Disekolah, semua orang memusuhi ku karena mereka menganggap, aku anak yang bermimpi untuk menjadi anggota Dargo. Tahun berlalu, semua masih sama saja. Ibu ku semakin tidak dihargai. Bahkan saat Ibuku mengandung Jehan, dia sama sekali tidak mengenal lelah mengerjakan semua pekerjaan rumah. Sementara Ibunya Hendrick yang juga seorang menantu, dua hanya terlihat sibuk pergi ke salon, berbelanja, berpesta dan memamerkan harta nya. Aku dan Ibu begitu tersiksa karena kekejaman mereka dan ketidak tegasan Ayah ku. Kami menderita hingga rasanya ingin mati saja. " Jhon memegangi dadanya yang terasa berdenyut ngeri. Elia yang menyadari itu langsung mengeratkan pekukannya.


" Semua sudah berlalu, sayang. Lihatlah dirimu sekarang. Kau tumbuh menjadi pria yang hebat. Kau tumbuh menjadi pria yang begitu bijaksana. Sayang, " Elia menangkup wajah Jhon.


" Semua sudah berlalu. Lihatlah sekelilingmu. Tidak ada lagi Ibu yang tersiksa, kita semua bahagia karena dirimu. Kau sudah berjuang keras dan sangat baik. Jangan mengingat betapa sakitnya, tapi ingatlah saja apa yang kau dapat saat ini. "


Elia tersenyum sembari menyeka air mata Jhon yang menggenang di pelupuk matanya.


" Kau melakukan segalanya untuk orang-orang yang kau cintai, sayang. Berterimakasih lah kepada dirimu sendiri. Lepaskan semua rasa sakit yang sudah berlalu. Jika kau begitu terpuruk terus menerus, kau sendirilah yang rugi, sayang. Gunakan hatimu untuk mencintai siapa saja yang pantas kau cintai, jangan perdulikan lagi orang yang tidak penting bagi hatimu. "


TBC

__ADS_1


__ADS_2