
Di kediaman Dargo. Hari ini ada Jhon, Elia, danIve yang datang kesana. Tidak ada pesta, tapi mereka datang sesuai dengan permintaan Nenek. Wanita tua itu terlihat sudah sangat lemah. Selang infus, oksigen, bahkan pemantau detak jantung terpasang di tubuhnya. Nenek perlahan membuka mulutnya saat Jhon dan Elia datang ke kamarnya. Iya Nenek di rawat di rumah karena menolak dengan keras untuk di bawa kerumah sakit. Dia merasa sudah tidak mungkin untuk lama bertahan dengan tubuh yang sudah renta itu.
" Jhon,.... " Panggil Nenek lirih bahkan hampir tak terdengar. Bukan hanya ada Jhon, Elia dan Ive. Tapi disana juga ada orang tua Hendrick, Siska dan juga Hendrick serta Kakek.
Jhon yang merasa terpanggil namanya berjalan mendekati Nenek, lalu meraih tangannya lembut dan menggenggamnya.
" Iya Nek. Aku ada di sini. "
" Tolong Nenek. Tolong cari dimana Ayah mu. Tolong, Jhon. Nenek tidak bisa pergi sebelum bertemu Ayah mu. Nenek tidak kuat kalau harus berlama-lama lagi. " Pinta Nenek dengan suara yang tersendat-sendat dan nafas yang tidak teratur. Jhon terdiam sesaat. Bisa saja dia mencari dimana Ayah kandungnya, tapi dia sendiri belum siap untuk bertemu dengannya apalagi harus bicara dengannya.
" Jhon,.... " Panggil lagi Nenek dengan tatapan yang memohon hingga air matanya terjatuh. Sebagai seorang Ibu, mati sebelum melihat anak-anaknya benar-benar terasa seperti hukuman. Apalagi yang terjadi dengan Nenek adalah karena kesalahan keluarga besar dan juga dirinya sendri yang membuat putranya memilih untuk pergi.
Tidak punya pilihan lain, Jhon hanya bisa mengangguk setuju. Melihat kondisi Nenek benar-benar membuatnya tak tega. Maka menyingkirkan sesaat ke marahan nya dan juga ke egoisan nya juga tidak masalah. Karena takutnya ini adalah permintaan Nenek yang terakhir kalinya juga, maka Jhon harus benar-benar serius kali ini.
" Aku akan mencari nya sampai ketemu, Nek. Maka tunggulah beberapa saat lagi. Jangan menyerah dan yakin lah kalau dia akan datang kembali untuk Nenek. " Ucap Jhon lalu tersenyum tipis setelahnya.
Elia juga tersenyum melihat Jhon yang begitu pengertian. Dibalik sikap dingin yang terkesan angkuh, di sanalah sifat lembut Jhon tersimpan. Pria yang mudah sekali tersentuh, dan juga pengertian. Tentulah ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Elia.
" Terimakasih. " Ucap Nenek lirih.
" Nanti saja saat sudah bertemu dengannya. " Jhon kembali tersenyum lembut.
Setelah bertemu dengan Nenek, Jhon dan Elia serta Ive memohon diri untuk pamit. Tadinya Elia sungguh merasa aneh dengan sikap keluarga Dargo. Entah mengapa dia merasa jika anggota keluarga Dargo sangat berbeda dari beberapa waktu saat mereka datang untuk menjenguk Nenek. Tidak ada lagi mata tajam yang menatapnya. Tidak ada lagi sindiran-sindiran dari mantan mertuanya. Sedari tadi mereka hanya menunduk dan tak terlihat ingin menghinanya seperti dulu. Hendrick yang sudah beberapa waktu ini terlihat begitu pendiam, kini juga semakin menjadi pendiam. Saat Elia, Jhon dan Ive datang, matanya hanya tertuju kepada Ive dan terus tersenyum tipis saat Ive berceloteh kesana kemari tidak tahu apa saja yang dia katakan.
" Kenapa kau melamun? " Tanya Jhon yang menyadari jika sedari tadi istrinya hanya melamun.
" Aku hanya heran dengan keluarga Dargo. Apa mereka sudah lelah memusuhi ku? apa Nenek sakit dan membuat mereka bertobat? atau apa sih? "
Jhon tersenyum sesaat menatap Elia laku kembali fokus mengemudi.
__ADS_1
" Mungkin mereka sudah tobat. Memaki orang terus menerus kan juga membuang energi. "
Elia menghela nafas. Tentu saja masih sangat aneh baginya. Walau bagaimanapun, dia sangat paham bagaimana sifat dan karakter keluarga Dargo yang tidak mungkin mengenal kata tobat. Tapi sudahlah, bukan urusannya lagi dan sudah tidak penting untuk dipikirkan olehnya. Untuk membuang rasa bosan karena Ive juga sedang tidur di kursi belakang, Elia mengeluarkan ponselnya untuk melihat aktivitas media sosialnya. Sesekali Elia tersenyum karena melihat beberapa unggahan yang lucu. Tapi saat tak sengaja melihat unggahan Zila, matanya mulai menajam dengan kening yang mengeryit seperti sedang menyelidik.
" Sayang, bukankah ini jam tangan mu? " Tanya Elia sembari menunjukkan photo jam tangan miliknya yang tertinggal di hotel.
" Iya. "
" Kenapa bisa bersama Zila? kau tidak lihat apa keterangan dari unggahannya itu? "
" Apa? " Tanya Jhon berpura-pura tidak tahu.
" Dia bilang, jam tangan pria baru ku tertinggal. " Elia masih mengeryit bingung menatap Jhon.
" Lalu? "
" Lalu apa lagi? memang kau tidak tahu berapa harga jam tangan mu? kenapa kau memberikannya untuk Zila? " Kesal Elia.
" Elia, apa kau sama sekali tidak berpikir? bagaimana bisa jam tangan itu bersama Zila? "
Elia menggeleng karena memang tidak tahu.
" Apa kau tidak takut aku berselingkuh dengan Zila? "
" Tentu saja tidak! "
Jhon kembali menghela nafas lalu menggeleng heran.
" Elia, apa kau ini sama sekali tidak mencinta ku? kenapa bisa kau tidak memiliki rasa cemburu? "
__ADS_1
" Kau adalah Jhon. Bagaimana bisa aku meragukan mu. Aku tahu, kau tidak akan mengkhianati ku. Meskipun entah kau mencintaiku atau tidak, aku tahu kau tidak akan berselingkuh dari ku. " Jhon tersenyum tipis lalu meraih tangan Elia dan menggenggamnya.
Aku sangat mencintai mu. Tapi tidak tahu bagaimana caranya mengatakan padamu. Setiap kali aku melihat mu, aku selalu ingin mengatakan bahwa aku mencintai mu. Tapi kepercayaan diriku selalu menghilang begitu saja.
Sesampainya dirumah, Jhon dan Elia kembali ke kamar. Beberapa saat kemudian, Jhon yang sudah banyak mendapatkan telepon dari Ken buru-buru ke ruang kerja pribadinya karena tidak ingin mengganggu Elia yang baru saja mulai tertidur.
Sesampainya di ruang kerja Jhon langsung menghubungi Ken untuk menanyakan apa yang terjadi.
Jhon?
" Bagaimana hari ini? "
Urusan kantor baik. Ada beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tangan mu. Malam nanti aku akan mampir membawanya. Hari ini juga Zila datang ke kantor.
Jhon tersenyum.
" Bagaimana reaksinya? "
Sepertinya dia percaya jika itu adalah dirimu. Dia juga sudah mulai menimbulkan rumor dengan memposting jam tangan mu yang sengaja Rendra tinggal di hotel.
" Bagus. Biarkan saja dia menggiring opini. Kita lihat, seberapa banyak orang yang akan memperhatikan nya. "
Baik. Jam tangan yang sama seperti milik mu hanya ada beberapa unit di negara ini. Daftar pembelinya juga mudah untuk dicari. Pasti akan sangat mudah menemukan jika itu kau.
" Iya. Berarti semua berjalan dengan baik. Biarkan saja, sebanyak apa orang bersimpati, karena pada akhirnya mereka juga akan menghina Zila. Terus pantau dia dan jangan biarkan dia melakukan kesalahan. Dan, jangan biarkan orang bisa mengakses media sosial istriku. Meskipun istriku sudah menguncinya, tapi untuk berjaga-jaga akan lebih baik. "
Baik. Aku akan melakukan sesuai perintah.
" Ok, terimakasih. " Jhon menutup sambungan teleponnya.
__ADS_1
" Zila, kau adalah orang yang selalu menyakiti istriku selama bertahun-tahun. Aku tidak akan membiarkan mu hidup dengan mudah setelah ini. Nikmati saja dua hari terakhir penuh khayalan mu. "
TBC