Second Husband

Second Husband
Episode 75


__ADS_3

Dua hari telah terlewati. Jhon yang selama dua hari intens menjaga Elia kini sudah harus berangkat ke kantor dan menyelesaikan pekerjaan yang sudah menunggunya. Ditambah lagi, selama dua hari itu juga, Zila tak henti-hentinya mencoba untuk menemui Jhon. Sepertinya memang dia sudah tidak sabaran. Sama seperti Jhon dan yang lain yang sudah merasa sangat tidak sabar.


Sebuah gedung bertuliskan King Damien corporation. Megah dan terkenal dengan keberuntungannya di dunia bisnis. Sebenarnya, itu sangat berbanding terbalik dengan apa yang selama ini Jhon rasakan. Baginya, tidak ada keberuntungan di dunia ini. Yang ada hanyalah kerja keras, lalu hasil dari kerja keras. Seperti kehidupan yang dia jalani selama ini. Untuk membesarkan nama Damien juga bukan sebuah keberuntungan. Begitu juga mengenai pasangan hidup. Beruntung kah? tidak! jika dia tidak memaksa Elia untuk masuk ke hidupnya, mana mungkin dia akan merasa beruntung.


Jhon menggerakkan kepalanya mematahkan ke kanan dan ke kiri. Pegal sekali rasanya. Padahal dia hanya menghabiskan waktu bersama Elia dengan bersantai. Apa karena terlalu banyak bersantai jadi tubuhnya mudah pegal?


" Ken, bagaimana dengan perempuan itu? apa masih saja ke kantor? " Tanya Jhon kepada Ken yang kini duduk di samping sopir.


" Tentu saja masih. Aku benar-benar tidak menyangka, dia itu sangat gigih rupanya. " Ujar Ken.


" Dia ini sedang menyamakan aku dengan Hendrick atau apa? apa matanya katarak dan tidak bisa melihat dengan jelas? bukankah aku senagaja bersikap dingin saat bertemu dengannya? "


" Masalahnya, wanita itu lebih mementingkan ambisinya dari pada rasa malu. "


Jhon menghela nafas nya. Sebenarnya dia agak miris melihat nasib Zila yang begitu buruk. Sedari remaja sudah mengidap penyakit mental. Belum lagi tubuhnya sudah di kotori oleh banyak sekali pria. Entah dia ingat atau tidak siapa saja yang sudah tidur dengannya. Padahal, kalau orang tuanya mau sedikit lebih dekat dengan Zila dan menyadari ada yang tidak beres dengan anaknya, sudah pasti hal memalukan seperti ini tidak akan terjadi.


Beberapa saat kemudian, Jhon dan Ken sudah berada di kantor. Mereka berjalan beriringan dengan langkah besar dan postur tubuh yang gagah. Tak jarang orang akan terpesona dengan dua pria yang selalu mencuri perhatian.


Ucapan selamat pagi juga mereka terima di sepanjang jalan sampai akhirnya tiba di ruang kerjanya.


" Ken, dokumen yang harus di tanda tangani, kau sudah selesai memeriksanya? " Tanya Jhon seraya mengambil posisi untuk duduk.


" Sudah, Jhon. Beberapa ada yang masih kurang jelas tapi sudah aku kembalikan. "


" Ok, terimakasih. "


" Aku ke ruangan ku sekarang. " Pinta Ken dan langsung di angguki oleh Jhon.


Baru tiga puluh menit Jhon berkutat dengan pekerjaan, suara ketukan pintu membuat fokusnya teralihkan.


" Selamat pagi, Tuan. "


" Ada apa? "


" Wanita yang dari beberapa hari lalu datang, sekarang juga datang lagi. Dia meminta untuk bertemu dengan anda. "


Jhon terdiam sesaat.


" Baiklah, suruh dia ke ruangan ku. "

__ADS_1


" Baik. "


Jhon menghela nafas nya. Benar apa yang dikatakan Ken. Wanita itu benar-benar pantang menyerah rupanya.


" Selamat pagi, Jhon. " Sapa Zila setelah di persilahkan masuk oleh penjaga ruang kerja Jhon.


" Selamat pagi. " Jawab Jhon dengan wajah datarnya.


Zila tersenyum ramah lalu perlahan mulai berjalan mendekati meja kerja Jhon. Dia menarik sebuah kursi agar lebih leluasa untuk duduk. Dengan wajah yang ia buat anggun itu, Zila mulai kembali tersenyum. Dia benar-benar berharap banyak dengan Jhon kali ini.


" Ada apa, Nyonya muda Dargo? " Tanya Jhon.


Zila tersenyum.


" Maaf, Jhon. Sekarang ini aku bukan lagi anggota keluarga Dargo. Aku dan Hendrick akan segera bercerai. "


Tentu saja Jhon sudah tahu, tapi dia juga harus berpura-pura terkejut dengan hal ini.


" Benarkah? wah, sayang sekali. Padahal anda terlihat sangat baik dan cantik. Apa yang membuat hubungan anda memburuk? "


Zila yang mendengar kalimat pujian dari Jhon sontak merasa sangat bahagia. Bukan hanya baik, tapi dia juga tampak cantik di mata Jhon. Elia kembali tersenyum. Sungguh dia sangat bahagia mendengarnya, Bahkan sampai mengira kalau Jhon selama ini bersikap dingin padanya karena dia adalah istrinya Hendrick. Tapi setelah dia mengatakan akan bercerai, Jhon langsung terlihat ramah dan menatapnya penuh kekaguman.


Jhon sejenak mengeraskan rahangnya. Sungguh dia tidak rela nama istri nya di sebut oleh Zila.


" Dia, baik-baik saja. "


" Aku dengar, dia sedang mengandung? " Tanya Zila.


" Iya begitulah. "


" Em, apa kau baik-baik saja? "


Jhon mengeryit kan kening karena memang tidak paham apa yang di maksud Zila.


" Maksudnya? "


" Em, wanita hamil kan rentan dalam bahaya kalau melakukan hubungan suami istri. Apa kau baik-baik saja dengan itu? bahkan kau harus menunggu sampai usia kandungannya cukup kuat loh. "


Hah! aku bahkan hampir setiap malam melakukanya. Apanya yang bahaya? kalau meniduri mu baru bahaya.

__ADS_1


" Iya, mau bagaimana lagi? ini kan sebuah resiko. " Ujar Jhon.


Zila kembali tersenyum. Dia menatap intens Jhon. Dengan alasan panas, Zila mulai menurunkan dua kancing baju bagian dadanya. Ini cukup membuat Jhon bingung sebenarnya. Bukan bingung karena merasa terpancing, tapi bingung bagaimana caranya berpura-pura tergoda dengan Zila. Karena masih belum tahu caranya, Jhon hanya diam dan tak menunjukkan ekspresi apapun.


" Jhon? " Zila menyentuh tangan Jhon dengan tatapan menggoda yang hampir saja membuat Jhon marah. Tapi untunglah, pria itu masih bisa mengendalikan diri dan menahan tangannya untuk sementara waktu saja di sentuh oleh Zila.


" Iya? "


" Em, bagaimana kalau aku membantu mu? " Tanya Zila sembari mengeratkan tangannya yang mulai mencengkram tangan Jhon.


" Membantu apa? "


" Membantu memuaskan mu. Kau janji, kau tidak akan kecewa oleh ku. "


Aku sudah sangat puas dengan istriku. Jujur saja, melihat mu apalagi kau sampai menyentuh ku seperti ini, aku sudah sangat mual.


" Bagaimana, Jhon? " Zila mulai bangkit dari duduknya. Dia duduk di hadapan Jhon dan menyudutkan punggungnya di meja kerja Jhon. Ya Tuhan, Jhon rasanya ingin sekali mencekik leher Zila sampai mati. Tapi janjinya dengan Rendra juga tidak bisa ia sembarangi.


" Kalau ka masih meragukan ku, kita lakukan percobaan disini bagaimana? "


Jhon bangkit dari posisinya dan menjauh dari Zila. Sungguh dia tidak tahan kalau harus berlama-lama dekat dengan Zila.


" Ada apa, Jhon? " Tanya Zila bingung.


" Tidak ada. Aku bukanya tidak mau. Hanya saja, kantor bukan tempat untuk melakukan hal seperti itu. "


Zila tersenyum dan berjalan mendekati Jhon.


" Lalu, apa kita perlu bertemu di suatu tempat? "


" Iya, itu ide bagus. Kau tentukan saja dimana kita akan bertemu. "


Zila tersenyum dengan begitu antusias.


" Baiklah, aku akan menunggu mu di hotel Rose Silver. Bagaimana? "


" Iya. "


" Ok, aku akan kesana sekarang. "

__ADS_1


TBC


__ADS_2