Second Husband

Second Husband
Episode 56


__ADS_3

Jhon menghentikan laju mobilnya sesaat. Entah bagaimana dia akan menghadapi Lusiana nantinya. Wanita yang dulu pergi disaat dia berada di titik cinta mati. Lusiana adalah gadis yang manja dan keras kepala. Jhon paham benar jika nanti pasti akan mengusik rumah tangganya.


" Kenapa dia harus kembali? " Gumam Jhon lalu menghela nafas setelahnya. Mungkin, rasa cinta dihatinya masih membekas. Tapi dia juga tidak bisa membagi satu hati untuk dua wanita secara bersamaan. Sekarang ini, Elia sudah mendarah daging bagi dirinya. Tapi jujur, bayangan Lusiana juga masih tetap ada di pikirannya.


Jhon kembali menghela nafasnya. Benar, untuk apa dia merenung tak berguna seperti ini? jalani saja hidup yang memang sudah ada. Batin Jhon bergumam setelah mengingat wajah Elia dan Ive. Benar, mereka adalah masa depan bagi Jhon.


" Apa-apaan kau ini Jhon? kenapa dengan bodohnya masih dilema? ingat! kau adalah Jhon, bukan Hendrick. "


Jhon kembali melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesampainya dirumah, dia langsung berjalan masuk ke kamar setelah memastikan jika sudah membersihkan kedua tangannya sebelum masuk ke dalam rumah.


" Elia? " Panggil Jhon pelan karena lampu utama sudah mati. Perlahan dia berjalan mendekati Elia yang sudah tertidur. Jhon tersenyum lalu mengusap wajah cantik istrinya itu.


" Baiklah, besok pagi saja. " Jhon meletakkan kantung kecil yang berisi beberapa alat uji kehamilan di atas nakas. Dia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum tidur. Segera setelah selesai mandi, Jhon langsung membaringkan tubuhnya disamping Elia, dan tentunya, dia juga sudah menggunakan baju untuk tidurnya.


Tadinya, Jhon ingin langsung memejamkan matanya, tapi suara ponsel yang menandakan pesan masuk terus saja terdengar. Jhon akhirnya terpaksa melihat siapa yang mengirimnya pesan, padahal sekarang ini sudah mulai larut malam. Satu persatu Jhon membuka pesan itu. Dia mengeryit membacanya. Lagi, Lusiana mengirimnya banyak pesan. Persisi seperti yang Jhon pikirkan. Tidak membalas, Jhon lebih memilih untuk menghapus semua pesan yang masuk kedalam ponselnya. Baginya, menjaga perasaan Elia adalah hal yang paling benar dan tepat untuk dilakukan.


Karena tak mendapatkan balasan, Lusiana malah semakin menjadi. Dia terus saja mengirimkan pesan kepada Jhon hingga entah sudah berapa puluh, oh! mungkin juga sudah terbilang ratusan pesan tapi masih juga ya mendapatkan jawabannya.


Baru Jhon akan tertidur, lagi-lagi getar ponsel yang menandakan pesan masuk membuatnya terganggu. Jhon kembali meraih ponselnya lalu menghapus beberapa pesan yang baru saja Lusiana kirimkan.


Elia yang tadinya tertidur dengan memunggungi Jhon, kini mengubah posisinya. Dia memeluk Jhon dan dengan mata terpejam dia mencari letak ketiak Jhon.


" Ah,... wanginya enak sekali. " Gumam Elia tanpa sadar. Jhon sedari tadi hanya bisa terus memperhatikan tingkah Elia dan tanpa henti juga dia tersenyum. Entah apa juga yang membuat istri cantiknya itu sangat menyukai ketiaknya.


Suara getar ponsel lagi terdengar. Tapi bukan pesan masuk, melainkan panggilan masuk. Jhon yang tadinya masih menatap Elia, sontak melihat ke arah ponsel sesaat. Hanya beberapa detik saja, karena setelah itu dia kembali melihat ke arah Elia yang tengah berbicara.


" Sayang, berisik. " Protes Elia lalu mengeratkan pelukannya.


" Maaf, tidurlah lagi. " Jhon tanpa sengaja, tadi telah menekan tombol panggilan agar terhubung. Tentulah Lusiana mendengar itu semua dan langsung mematikannya karena tidak sanggup kalau harus mendengar yang lebih dari itu.

__ADS_1


Jhon tanpa melihat lagi ponselnya, memilih untuk langsung menonaktifkan ponselnya. Ini sudah larut dan waktunya untuk tidur. Jhon memerosotkan tubuhnya, membenahi selimut yang menutupi tubuh Elia, memeluk nya dan perlahan-lahan mulai tertidur.


Ke esokkan paginya. Elia terbangun dan tak sengaja melihat kantung apotik di atas nakas. Dia yang penasaran langsung saja membukanya. Dan yah, benar saja. Dia lupa kalau semalam Jhon pergi.


Jadi semalam dia pergi untuk membeli ini?


Elia tersenyum setelah menoleh ke arah suaminya yang masih terpejam dengan nyenyak. Perlahan doa bangkit menuju kamar mandi dan tidak lupa dua alat penguji kehamilan ia bawa untuk ia kenakan nanti.


Dengan jantung yang berdebar kuat, Elia mulai mencelupkan sekaligus dua alat penguji kehamilan. Dia langsung menutup kedua matanya setelah dua alat penguji kehamilan berada di posisi yang benar. Elai menghitung di dalam hati lalu perlahan-lahan membuka matanya.


" Ini? "


Elia menatap dua alat penguji kehamilan itu dengan seksama. Lama kelamaan, semakin jelas berapa Haris disana. Dan juga, semakin jelas juga senyum Elia yang kini telah mengembang sempurna.


" Sayang! " Panggil Elia sembari menggoyangkan tubuh Jhon.


" Em? " Panggil Jhon yang terlihat masih enggan membuka matanya.


" Em? " Jawab lagi Jhon.


Elia menghela nafasnya.


" Kau mau tahu hasilnya tidak? aku sudah memakai alat penguji kehamilannya. "


Sontak Jhon langsung terbangun dengan nata yang terbuka lebar. Ditatapnya Elia dengan serius kali ini.


" Ini. " Elia memberikan alat penguji kehamilan kepada Jhon. Jhon tentu saja menerimanya dan melihatnya. Tapi mana dia mengerti apa artinya? Jadilah Jhon yang hanya bisa kembali menatap Elia dengan tatapan penuh tanya.


" Ini, apa maksudnya? "

__ADS_1


Elia kembali tersenyum lalu memeluk Jhon.


" Kita akan punya bayi lagi. "


" Lagi? jadi kau hamil? " Tanya Jhon dengan wajah yang masih tidak percaya. Mungkin karena bangun tidur dan dikejutkan dengan kabar bahagia, Jhon justru kebingungan harus bagaimana.


Elia melerai pekukannya untuk menatap Jhon. Tentulah dia merasa aneh karena Jhon hanya diam dengan tatapan bingung. Sama sekali tidak memperlihatkan kebahagiaan yang seperti dia ucapkan semalam.


" Jhon, apa kau tidak bahagia? "


Jhon kini menatap Elia meski tatapan itu masihlah bingung.


" Jadi maksud mu, kita akan punya anak lagi? "


" Eh? " Elia malah jadi ikut bingung karena Jhon terlihat seperti orang yang tengah linglung.


" Iya. Kita akan punya anak lagi. "


Perlahan wajah Jhon berubah menjadi bahagia. Dia bahkan tanpa sadar tersenyum lebar dan memeluk Elia dengan perasaan bahagia.


" Elia, terimakasih. Terimakasih karena sudah mau mengandung anakku. "


Elia melingkarkan lengannya memeluk Jhon yang tengah memeluk erat tubuhnya. Sungguh ini diluar dugaan mereka. Dulu, Elia berpikir jika akan menghabiskan seluruh waktunya bersama Hendrick dan anak-anak mereka. Begitu pula dengan Jhon. Pria itu berpikir bahwa akan menghabiskan waktu untuk bekerja dan bersenang-senang bersama Lusiana tanpa adanya anak yang dia pikir akan sangat mengganggu. Dan waktu telah menyulap mereka menjadi seperti sekarang ini.


Jhon menangkup wajah Elia dan memberikan kecupan di mata, dahi, hidung, pipi dan bibir. Dia benar-benar bahagia hingga tanpa sadar mengucapkan apa yang selama ini malu untuk ia ungkapkan.


" Terimakasih, Elia. Aku sangat bahagia dan aku juga sangat mencintai mu. "


Elia kini tersenyum lebar dan hanya bisa diam menerima perlakuan manis dari suaminya itu.

__ADS_1


Tadi itu aku salah dengar atau tidak ya?


TBC


__ADS_2