
Setelah berada di kamar Nenek, Ayah berjalan pelan dengan perasaan sedih yang mrlanda hatinya. Sungguh hatinya iba melihat wajah tirus Ibunya yang sudah lama tidak ia lihat. Perlahan Ayah menggerakkan jemari tangannya yang gemetar untuk meraih tangan Nenek. Mereka saling menatap juga sama-sama menangis. Ayah menangis karena semua hal yang terjadi di dalam hidupnya hingga ia memilih meninggalkan semua orang yang dia sayangi. Nenek menangis juga karena penyesalan yang tidak bisa ia sebutkan seberapa banyak. Jika saja tubuh renta nya bisa bangun, sudah pasti dia akan bangun dan memeluk anak sulungnya itu.
" Nak? " Panggil Nenek lirih dengan suara bergetar dan lemah. Iya, wanita tua itu sudah begitu lama menahan rasa sakitnya hanya untuk melihat putra sulungnya kembali sebelum dia pergi. Perlahan Nenek menggerakkan jemarinya dan menggenggam erat tangan Ayah yang juga masih menggenggamnya.
" Ibu, mari kita kerumah sakit. " Ajak Ayah karena merasa jika di rawat di rumah tidaklah tepat.
Nenek menggeleng pelan dengan air mata yang berjatuhan melalui sisi matanya.
" Ibu sudah tidak akan sanggup berlama-lama lagi. "
Ayah sesegukan hingga tak bisa menahan air matanya yang seakan tumpah begitu saja membanjiri pipinya.
" Terimakasih, karena sudah kembali dan memenuhi keinginan Ibu. "
Nenek menatap Jehan, Ibu Sofia, Elia, Jhon dan Ive satu persatu. Bibirnya bergetar menahan sakit dan juga kesedihan karena sepertinya dia sudah berada di penghujung waktu di dunia ini.
" Maafkan aku, maaf kan semua kesalahan ku. "
Tak lama setelah mengatakan itu, Nenek mulai kesulitan bernafas. Matanya juga terangkat ke atas dengan dada yang tertarik mengikuti irama nafasnya.
" Ibu! " Panggil Ayah.
Beberapa bulan setelah kematian Nenek. Kediaman Dargo kini sudah mengalami kemajuan berkat kerja sama Ayah dan juga Hendrick. Walaupun masih jauh dari kata sukses, setidaknya mereka akan merangkak perlahan-lahan untuk menuju ke arah sana. Orang tua Hendrick juga hanya bisa berdiam diri di rumah karena tidak ada hak yang bisa dilakukan. Sekarang, semua keuangan berada di bawah kendali Ayah dan juga Hendrick. Tentu saja orang tua Hendrick tidak bisa menuntut apapun dan hanya bisa diam menerima berapapun uang yang di berikan oleh Hendrick dan Ayah.
Di kediaman Damien.
Ibu Sofia kini menjadi orang yang paling bahagia karena cucu nya akan segera lahir. Iya, anak dari Elia dan Jhon akan lahir beberapa hari lagi kalau mengikuti prediksi Dokter. Jehan juga yang perutnya sudah mulai membesar hanya bisa melihat betapa antusias nya dia ketika berbelanja barang-barang kebutuhan cucu nya yang akan segera lahir. Tapi, tetap saja milik Ive jauh lebih banyak. Kenapa? karena anak Elia dan anak Jehan di prediksi berjenis kelamin laki-laki. Tentu saja tidak banyak pakaian lucu seperti pakaian Ive. Gadis kecil yang kini sudah berusia tiga tahun itu seperti pemilik gudang baju. Bahkan karena terlalu banyak bajunya, Jhon sampai membuat kamar baru untuk Ive yang jauh lebih luas dari kamar sebelumnya.
" Ayo cepat senyum! " Titah Ibu yang kini amanat senang menjadikan Elia dan Jehan sebagai model jepretannya. Tidak tahu mengapa, Ibu Sofia sangat senang dengan photo mereka saat perut mereka membesar seperti itu Dia bahkan sampai menggantungnya di ruang keluarga dengan ukuran yang sangat besar.
" Sialan! pipi ku tembem sekali. " Gerutu Jehan. Maklum saja, saat usia kehamilannya memasuki usia enam bulan, berat badannya sudah naik drastis hingga dua puluh dua kilogram. Sementara Elia, meskipun bertambah berat badannya juga tidak sebanyak itu. Jadi tentulah pipinya tidak tembem seperti Jehan.
" Jangan menggerutu. Kalau Ibu dengar, dia akan mengomel. " Ucap Elia yang sudah hafal benar bagaimana Ibu Sofia sekarang ini. Dia benar-benar seperti terbawa suasana Ibu hamil karena mudah sekali kesal.
Setelah selesai berphoto, Elia dan Jehan berjalan menuju teras belakang untuk menemui Ive dan Yana yang tengah bermain di sana.
__ADS_1
" Hei, Tuan putri Ibu. " Sapa Elia sembari melambaikan tangannya.
" Ibu! " Ive berlari ke arah Elia dan memeluk kedua kaki Ibunya.
" Ive, kita makan siang dulu ya? Ibu sudah menyiapkannya untuk mu. Elia menggandeng tangan Ive untuk membawanya masuk ke dalam rumah.
" Kaka ipar, aku disini saja ya? " Ucap Jehan.
" Iya. Yana kau juga istirahat saja dulu. Makan Ive biar aku saja yang urus. "
" Baik, Nyonya. "
Elia kembali melangkahkan kaki untuk menuju meja makan. Tapi, di tengah perjalanan tiba-tiba dia merasa ada yang tidak beres dengan beritanya. Seperti ada sesuatu yang terjadi. Elia menurunkan pandangannya, dan betapa panik nya dia karena kedua kakinya basah oleh air ketuban. Tapi sejenak dia mencoba untuk menenangkan diri lalu berjalan pelan dan sangat hati-hati. Elia menarik nafas pelan lalu duduk di kursi makan.
" Ive, boleh Ibu minta tolong? " Tanya Elia lalu tersenyum karena tidak ingin membuat putrinya takut ataupun panik.
" Apa, Bu? "
" Tolong panggil Nenek ya? Nenek ada di teras depan. "
" Ada apa nak? " Tanya Ibu Sofia seraya berjalan mendekati Elia.
" Ibu, sepertinya aku harus segera melahirkan. Air ketubannya sudah pecah. "
" Apa?! " Ibu Sofia yang panik kebingungan ingin melakukan apa. Di malah bolak balik tidak tahu apa yang dia cari.
" Ive, pergilah dan minta tolong Bibi Yana untuk membantu mu makan siang ya? "
Ibu Sofia akhirnya mendapati lagi konsentrasinya. Dia meminta sopir untuk bersiap lalu menghubungi Jhon segera setelah itu.
Setelah mempertimbangkan matang-matang, akhirnya Elia dan Jhon memutuskan untuk mengikuti saran Dokter untuk operasi sesar seperti saat Ive lahir dulu karena Elia masih belum merasakan kontraksi. Disinilah peran Jhon benar-benar totalitas. Dia dengan sabar telaten melakukan apa yang seharusnya di lakukan oleh seorang suami. Mulai dari pengecekkan tekanan darah, dan beberapa prosedur lain sebelum operasi di laksanakan.
" Elia, jangan takut ya? aku ada disini. Aku akan menemani mu sampai operasi nya selesai. " Elia mengangguk . Jujur, meskipun dia sudah pernah mengalami nya saat melahirkan Ive, rasanya juga masih sama. Dia takut hingga telapak tangannya begitu dingin.
Empat puluh lima menit kemudian.
__ADS_1
Suara tangisan bayi terdengar nyaring. Suara itu mampu membuat Elia tersenyum sembari menangis haru. Untuk kedua kalinya dia melewati proses seperti ini. Dia juga memiliki anak lagi sekarang. Anak bersama dengan pria yang begitu luar biasa. Pria yang saat ini sedang menyembunyikan wajahnya dan diam-diam menangis.
" Sayang, kau menangis ya? " Tanya Elia lirih. ( Jangan tanya kok bisa lagi operasi sesar masih bisa ngomong ya? 😂)
Jhon menyeka air matanya. Dia mendekatkan wajah nya lalu mencium kening Elia.
" Elia, terimakasih untuk semua perjuangan mu. Terimakasih karena sudah melahirkan anak kita. Aku mencintai mu, Elia. "
Sungguh, ini adalah kata-kata indah yang ingin sekali Elia dengar dari Jhon saat pria itu sadar alias tidak kelepasan. Begitu bahagia hingga ia tanpa sadar mentikkan air mata harunya.
" Jhon? " Ucap Elia lirih.
" Jangan mengatakan apapun. Meskipun hanya separuh tubuh mu yang di bius, kau juga pasti merasa lemah sekarang. Kau hanya perlu tahu ini. Aku mencintai mu, dan aku juga tahu kau mencintai ku. "
" Apa boleh gantian dengan bayinya? " Tanya Dokter yang sedari tadi memperhatikan mereka yang begitu mesra.
" Bayinya juga memerlukan Ibunya sekarang? " Dokter itu tersenyum sembari menunjukkan bayi Elia di tangannya.
Jhon tersenyum lalu mengangguk. Sungguh ini adalah hal yang paling luar biasa di dalam hidupnya. Jhon tersenyum bahagia melihat putra nya berada di dada Elia. Nampaknya jagoan kecil itu begitu nyaman berada di tubuh Ibunya. Dia langsung saja berhenti menangis.
Tiga hari setelah kelahiran si jagoan yang kini di beri nama, King Elson Damien. Hari ini Elia dan Elson sudah di perbolehkan pulang ke rumah.
" Ya ampun. " Ucap Elia yang terkejut melihat mewahnya cara keluarganya menyambut Elson dan Elia. Di sana juga ada Ayah dan Hendrick yang ikut menyambut Elson dan Elia.
" Mereka benar-benar menghabiskan banyak uang untuk ini. " Gumam Elia lagi.
" Ayo, sayang. " Ajak Jhon sembari melajukan kursi roda Elia. Sementara Elson, jagoan kecil itu berada di gendongan Ibunya.
" Sayang? " Elia memutar pandangannya menatap Jhon. Iya, takutnya Jhon hanya kelepasan saja.
" Tidak perlu melihat ku seperti itu. Mulai sekarang, aku akan memanggil mu begitu. " Ucap Jhon lalu melajukan kursi roda yang tengah di duduki Elia.
Elia tersenyum bahagia. Lahirnya Elson benar-benar membuat Ayahnya menjadi lebih jujur dan tidak enggan lagi sekarang.
TBC
__ADS_1