
" Ayah! " Ive berlari ke arah Jhon dan Elia. Tapi melihat bayi kecil di gendongan Ibunya dia sontak memilih untuk melihat bayi kecil itu. Padahal, dia berlari karena merindukan Jhon.
" Ibu, apa ini adikku? " Tanya Ive. Matanya juga menatap takjub Elson yang kini sedang asyik tertidur.
" Iya, dia adalah adik laki-laki mu. Namanya Elson. " Jawab Elia.
" Wah, Elson lucu sekali. " Ive tersenyum bahagia. Matanya juga masih berbinar saat melihat Elson.
" Selamat datang, cucu Nenek yang tampan. " Ibu Sofia dan yang lain menyusul untuk meyambut Elia dan Elson. Sungguh mereka begitu asik dan sibuk dengan Elson. Begitu juga dengan Ive.
" Ive, apa kau sudah tidak sayang Ayah lagi? kenapa kau tidak memeluk Ayah? " Protes Jhon. Padahal saat melihat Ive memanggil namanya seolah-olah dia merindukan Jhon, itu cukup menghilangkan lelahnya selama beberapa hari dirumah sakit. Tapi lihat sekarang, Ive justru sibuk sekali melihat Elson.
" Ayah, adik Elson lebih lucu dari Ayah. " Jawab Ive lalu kembali menatap Elson.
Elia menahan tawanya mendengar jawaban Ive. Apalagi saat melihat wajah masam Jhon, itu benar-benar sangat lucu.
" Sayang, tenang saja. Kalau Ive tidak menganggap mu lucu, biar aku saja yang menganggap mu lucu. " Goda Elia yang hanya mendapat helaan nafas dari Jhon. Ternyata adanya Elson juga bisa merebut perhatian Ive. Biasanya Ive akan menangis jika seharian tidak bertemu dengannya. Beberapa hari di rumah sakit juga Ive selalu melakukan panggilan Video dan berakhir menangis karena merindukan Jhon. Tapi apa yang terjadi sekarang? di lirik pun tidak oleh Ive.
Setelah beberapa saat, Elson sudah berada di kamar nya dan masih saja tertidur.
" Elia? " Panggil Hendrick yang tentu saja sudah meminta izin kepada Jhon untuk membicarakan sesuatu.
Elia berbalik dan menatap Hendrick.
" Ada apa? " Tanya Elia tanpa ekspresi.
" Bisakah aku bicara sebentar? "
" Apa yang ingin kau bicarakan? "
Hendrick menunduk sesaat untuk mencari keberanian.
" Elia, bolehkah aku mendekatkan diri dengan Ive? "
Elia terdiam sesaat.
__ADS_1
" Tentu saja. Bagaimana pun juga, kau adalah Ayah kandungnya. Tapi, aku tidak akan mengizinkan cara keluarga mu untuk mendidik Ive. Kau boleh bertemu, aku tidak akan melarang nya. Hanya tolong patuhi satu permintaan ku itu. "
Hendrick tersenyum lalu mengangguk. Sungguh dia amat bahagia hingga tidak bisa lagi berkata-kata.
Benar, Elia bisa saja melarangnya karena alasan luka masa lalu. Tapi, dia juga tidak ingin saat Ive dewasa nanti, dia akan menyaksikan keluarga yang berantakan dan tidak jelas siapa Ayah kandungnya. Dia berharap, Ive akan tumbuh besar dan di kelilingi orang-orang yang memiliki jiwa positif dan selalu bahagia.
Dua tahun kemudian.
" Sayang, kau sudah siap? " Tanya Jhon sembari membuka pintu. Matanya takjub melihat betapa cantiknya Elia hari ini. Ya, hari ini adalah hari peringatan pernikahan mereka.
" Iya, aku sudah siap. " Elia berbalik laku tersenyum menatap Jhon.
" Sayang, bisa kita batalkan saja acara ini? " Tanya Jhon.
Elia mengeryit bingung menatap Jhon.
" Kenapa? "
" Karena kau lebih cantik dan menggoda hari ini. Aku jadi tidak berniat lagi dengan pesta ini. "
" Kau sudah menyiapkan ini dari jauh-jauh hari. Bagiamana bisa kita berbuat hal aneh itu? "
Jhon menghela nafas kasarnya. Memang iya sih, jadi untuk sementara, dia akan menahannya dulu.
Jhon dan Elia berjalan sembari bergandengan tangan. Para tamu yang melihat kedatangan mereka langsung bersorak bahagia menyambut pasangan yang sekarang ini di nobatkan sebagai sepasang suami istri yang paling serasi. Elson yang sudah aktivitas itu berlarian kesana kemari bermain bersama Andrew, anak dari Ken dan Jehan yang baru beberapa bulan ini bisa berjalan. Ive yang kini sudah berusia lima tahun juga terlihat sangat cantik. Dia melambaikan tangan kepada Elia dan Jhon.
" Ayah Hendrick, turunkan aku ya? aku ingin bersama Ayah dan Ibu. " Pinta Ive kepada Hendrick. Iya, Hendrick memang sangat menyayangi Ive dan selalu saja ingin menggendongnya setiap saat.
" Baiklah, ingat jangan berlari ya? "
Ive mengangguk lali mencium pipi Hendrick sebelum berjalan mendekati Elia dan Jhon.
" Ayah! " Panggil Ive.
Jhon meraih tubuh Ive dan menggendongnya. Tak lupa, dia juga mencium kedua pipi Ive bergantian. Begitu juga dengan Elia yang memberikan kecupan di kedua pipi putrinya itu.
__ADS_1
Setelah menyambut para tamu undangan, Jhon dengan percaya diri berdiri di podium.
" Halo semuanya, aku berdiri di sini bukan untuk menyabut kalian lagi, tapi aku ingin mengatakan sesuatu kepada Istriku. Ini memang tidak biasa bagiku, tapi aku juga ingin menyampaikan apa yang aku rasakan selama pernikahan ini. " Jhon menatap Elia yang kini tengah menggendong Elson sembari tersenyum dan menatapnya.
" Sayang, terimakasih karena sudah menemani ku dan memberikan warna di hidup ku. Terimakasih untuk kesetiaan dan dedikasi mu sebagai istri yang luar biasa menurut ku. Aku tahu kita sering berselisih paham akhir-akhir ini. Tapi percayalah, aku tetap hanya untuk mu, dan kau hanya untukku. "
Di belakang Jhon ada sebuah layar yang berukuran besar tengah menampilkan moment-moment mereka bersama.
" Elia ku, aku tahu aku bukan laki-laki yamg sempurna. Tapi aku berharap, hanya aku lah satu-satunya orang yang akan terus bersama mu sampai maut memisahkan kita. Jadi, maukah kau terus bersama dengan ku? bersediakah kau menerima ku saat aku sudah tua dan keriput nanti? "
Elia menutup bibirnya sembari menangis haru. Elson yang pintar itu tanggap dan mengelus wajah Ibunya agar berhenti menangis.
" Sayang, apa kau bersedia? " Tanya Jhon.
" Iya. " Elia mengangguk haru.
Jhon tersenyum lalu turun dari podium dan memeluk Elia erat. Heh! doa sampai lupa kalau ada Elson juga di sana. Jagoan kecil itu terus memberontak karena merasa kesal Ayahnya memeluk Ibunya.
" Terimakasih, sayang. " Jhon mengusap pipi Elia lalu mencium bibir nya.
" Ah.....! " Teriak Elson lalu menangis kencang karena Ibunya di cium oleh Ayahnya. Sontak semua tau undangan tertawa karena adegan haru itu berubah lucu saat Elson menangis dan mendorong tubuh Ayahnya untuk menjauh.
Jhon menghela nafasnya. Seperti inilah dia sekarang. Kalau Elson tidak tidur, maka akan sulit baginya untuk bermesraan dengan Elia. Tunggu! jangankan bermesraan, baru saja menyentuh tangan Elia, Elson sudah lebih dulu mengamuk dan menangis dengan histeris.
Sekarang tibalah Elia dan Jhon untuk memotong kue ulang tahun pernikahan mereka. Seperti perayaan ulang tahun biasanya, mereka berdua memejamkan mata untuk berdoa. Setelah itu, barulah mereka meniup lilin dan di lanjutkan dengan potong kue. Setelah kue terpotong, Jhon menyuapkan kue itu kepada Elia. Baru saja ingin membuka mulut, Reaksi Elia justru membuat semua orang bertanya-tanya.
" Huek....! " Elia menutup mulutnya. Matanya menatap Jhon dengan kening yang mengeryit penuh tanya. Begitu juga dengan Jhon yang memiliki persepsi nya sendiri.
TAMAT
Halo kesayangan, apa kabar?
Teruntuk kalian yang membaca cerita ini, terimakasih banyak dan maaf karena jarang sekali membalas komentar. Tapi setip komentar dari Kalian benar-benar membuat ku semangat untuk up setiap harinya.
Sekali lagi terimakasih banyak karena sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita yang masih banyak kekurangan ini.
__ADS_1
Sampai jumpa kesayangan, dan jangan lupa baca cerita ku yang lain ya??