Second Husband

Second Husband
Episode 81


__ADS_3

Zila menatap layar kaca yang kini menampilkan banyak sekali photo-photonya bersama beberapa pria. Sungguh dia sampai tidak ingat siapa nama pria yang ada di beberapa photo itu. Tapi di bandingkan dengan memikirkan itu, saat ini dia tengah memikirkan bagaimana menyelamatkan namanya terdahulu. Sungguh sangat tidak sesuai dengan harapan yang selama ini berada di imajinasi nya. Jhon juga tanpa enggan melihatnya seperti jijik. Meski masih belum terlalu paham, kini dia bisa sedikit mengendus adanya keanehan. Sepertinya semua yang terjadi ini begitu tidak mungkin kalau harus di sebut kebetulan. Pasti sudah direncanakan dari jauh-jauh hari. Karena kalau hanya dadakan, mana mungkin sampai sebanyak itu bukti yang di miliki oleh Jhon.


" Bohong! semua bukti ini palsu! aku tidak begitu! ini pasti sudah di rencanakan. Dia pasti menjebak ku. " Tunjuk Zila kepada Jhon. Wanita menatap tajam Jhon dengan alis yang mengeryit hingga hampir menyatu. Tapi sayang, Jhon bukanlah orang yang bisa di ancam. Apalagi, orang yang mengancamnya adalah Zila. Wanita busuk yang sama sekali tidak memiliki kekuatan. Memang, keluarga Zila adalah orang berada. Tapi tentu mereka hanyalah sebutir debu yang tidak memiliki arti bagi Jhon.


" Nona, jika kau merasa aku bohong dan pria yang malam itu adalah aku, apa kau yakin? kau saja bisa tidur dengan banyak pria tanpa tahu namanya. " Jhon tersenyum dingin sembari menatap Zila.


" Tidak! kau pasti sudah menjebak ku kan? " Zila kembali menunjuk Jhon. Kini yang ia pikirkan adalah bagaimana menyelamatkan nama baiknya. Urusan dengan Jhon tentu akan dia pikirkan setelah ini. Bagaimana pun, dua juga tidak bisa membiarkan Jhon begitu saja. Jhon memiliki potensi besar untuk berkembang, jadi penting sekali untuknya bersama dengan Jhon dalam ikatan pernikahan.


" Benarkah? lalu apa yang sekarang di tampilkan oleh layar itu? " Jhon tersenyum menatap layar kaca yang tengah menayangkan beberapa bukti rekaman kamera pengawas dan bukti beberapa photo Zila yang sedang menyabotase barang bukti. Di sana juga ada beberapa bukti Zila menyuap petugas dan rekaman saat dia membuli seseorang di kampus nya dulu. Bukti kejahatan besar juga terpampang disana. Zila yang menabrak seseorang, tapi Elia lah yang dijadikan kambing hitam oleh Zila dan keluarganya. Bukti kecurangan Zila dalam beberapa kompetisi yang harusnya di menangkan oleh Elia juga terpampang di sana secara bergantian. Entah sepanjang apa daftar kejahatan yang sudah Zila lakukan.


" Tidak! ini semua bohong! ini semua palsu. " Kilah Zila yang tentu saja tidak akan mengakuinya.


Jhon tersenyum miring.


"Kalau begitu, kenapa tidak melaporkanya saja ke polisi. Biarkan polisi menyelidiki ini. Asli atau palsu, polisi tidak sebodoh itu. "


Zila nampak kebingungan, dia bahkan tidak bisa memfokuskan matanya yang terus melirik ke kanan dan ke kiri seraya otaknya bekerja keras untuk mencari alasan yang masuk akal. Sial! tidak bisa! dia sama sekali tidak bisa melakukan apapun dan tidak bisa mengatakan apapun sekarang. Zila dengan cepat bangkit dari posisinya dan berniat untuk pergi.

__ADS_1


" Anda ingin pergi Nona? " Tanya Jhon.


Zila membeku sesaat. Benar, kalau dia pergi, itu berati mengakuinya semuanya. Tapi kalau dia tidak pergi, itu juga tidak akan bak untuknya.


" Aku pergi, bukan karena aku mengakui ini semua. Aku pergi untuk melapor kepada pihak berwajib. "


Jhon berdiri begitu juga dengan pembawa acara yang kini kebingungan tidak tahu harus mengatakan apa. Dengan langkah yang terkesan gagah, Jhon berjalan mendekati Zila. Dia menatap Zila lalu tersenyum miring.


" Tidak perlu repot. Aku adalah orang yang paling tanggap dan pengertian. Sekarang sudah ada polisi di luar. Pergilah dan temui dia. Katakan saja kalau bukti ini palsu. Setelah itu, mari kita lihat. Siapa yang berani mengatakan kalau aku memberikan bukti palsu. "


Zila kebingungan dan berpikir keras bagaimana dia bisa lolos dari polisi yang sudah menunggunya di luar. Dia memang tidak terlalu dekat dengan Jhon, tapi jelas sekali terlihat kalau Jhon tidak sedang berbohong. Tidak mau membuang waktu, Zila berlari mencari pintu keluar yang tidak ada polisi. Tapi sayang, usahanya sia-sia saja karena semua pintu sudah di kepung oleh polisi.


" Tuan, kenapa anda melakukan ini? " Taya Pembawa acara itu yang sangat jelas terlihat begitu syok.


Jhon menghela nafas lalu menunjuk photo wajah Elia yang saat itu sedang di ancam oleh Zila.


" Dia adalah istriku. Dan dia menjadi korban kejahatan wanita itu selama ini. Aku juga sudah cukup menahan diri selama dua tahun lebih. Bukankah aku terlalu baik hati? "

__ADS_1


Pembawa acara itu menelan salivanya. Selain dia kaget, hawa dingin dari Jhon benar-benar mengintimidasi nya.


***


Elia, Jehan, dan Ibu Sofia yang sedang menonton acara itu kini tengah menangis haru. Mereka merasa bahagia karena semua tuduhan terhadapnya akan segera menghilang. Terlebih Elia, wanita itu sangking bahagianya hingga tidak bisa mengatakan apapun dan hanya sibuk menangis. Jujur, dia sendiri sudah tidak mau memikirkan ini lagi dan membiarkan saja orang-orang yang menuduhnya dan mencela nya atas perbuatan yang tidak ia lakukan. Tapi Jhon, pria terbaik di dunia bagi Elia itu melakukan segala cara untuk nya. Memperjuangkan hak nya untuk mendapatkan kebenaran yang terpendam selama ini.


Jhon, terimakasih untuk semua yang kau berikan untukku.


***


Di kediaman Dargo.


Seluruh anggota yang juga melihat acara itu, hanya bisa menghela nafas penuh penyesalan. Benar, mereka mulai menyadari kesalahan yang mereka lakukan. Kepercayaan tentang uang dan kasta ternyata bukanlah sebuah jaminan untuk melahirkan anak yang memiliki kualitas baik. Penyesalan terdalam juga kini Hendrick rasakan. Sudah cukup selama ini karena tahu seperti apa Zila sebenarnya. Dan sekarang dia harus melihat semua kebenaran yang terjadi dan di alami oleh wanita yang sampai saat ini masih tersimpan di hatinya. Hendrick mengepalkan tangannya lalu berjalan menuju kamar.


" Elia..." Gumamnya sembari menatap kosong ke arah depan. Rasanya dia semakin tidak bisa menatap Elia dengan wajah tegak mulai sekarang, tapi jujur di dalam hatinya masih begitu ingin dekat dengan Elia walau hanya sebatas hubungan keluarga.


Hendrick menjalankan tangannya ke arah laci dan mengeluarkan sebuah photo. Photo yang dia ambil secara diam-dian saat Ive datang ke rumah nya. Gadis cantik yang tak lain adalah putrinya. Wajah yang begitu mirip dengannya itu bahkan sudah ikut menderita karena dirinya.

__ADS_1


" Ive, apakah Ayah benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk menjadi Ayah mu? apakah kita akan terus menjadi jauh? apakah kau akan membenci Ayah saat kau dewasa nanti? " Hendrick memeluk bingkai Photo itu erat sembari menangis. Memnag benar, penyesalan akan datang di akhir cerita, tapi setidaknya masih tersimpan harapan agar semua nya menjadi sedikit membaik agar tidak terlalu terluka.


TBC


__ADS_2