
Malam ini, adalah malam yang sudah di janjikan Ken untuk mengajak Jehan makan malam. Pria itu sungguh gugup. Tentu karena dia tidak memiliki pengalaman tentunya. Dia terus mencoba untuk tersenyum agar tidak terlihat kaku. Tidak! itu semua tidak berhasil. Ini adalah salahnya karena jarang sekali tersenyum. Dia kembali mengingat japan dia tersenyum bahagia. Tentu saja dia mendesah kesal. Kenapa? karena dia bisa tersenyum bahagia saat Dargo kehilangan sumber mata uangnya. Apa harus dia menjahati Dargo dulu baru pergi makan malam? Ditambah lagi, dia sama sekali tidak paham bagaimana Jehan. Yang dia tahu, Jehan adalah adalah adik dari Bos nya. Dia kan tida pernah mengurusi Jehan? dia juga jarang sekali bertemu Jehan karena gadis cantik itu begitu betah tinggal di luar negeri.
" Sudahlah, lupakan saja. Jemput Nona Jehan dulu baru pikirkan bagaimana caranya berekspresi di perjalanan. "
Empat puluh menit jarak yang sudah Ken tempuh untuk sampai di kediaman Damien. Tapi ini sungguh di luar dugaan. Karena Jehan ternyata sudah berdiri di depan rumah dengan penampilan yang luar biasa cantik.
" Sialan! sejak kapan Nona Jehan sangat cantik seperti ini? " Gumam Ken sebelum keluar dari mobilnya.
" Selamat malam, No, maksudnya Jehan. "
Ken pikir, Jehan pasti akan marah karena dia tidak sopan. Tapi mau bagaimana lagi? ini adalah perintah dari Jhon. Dan syukurlah, Ken bisa bernafas lega karena Jehan justru tersenyum bahagia.
Tidak marah ya?
" Selamat malam, kak Ken. " Balas Jehan lembut. Jujur, Ken tidak menyadari jika Jehan sangatlah cantik dan memiliki suara yang lembut dan indah. Mungkin saja, karena dia sama sekali tidak pernah memperhatikan Jehan dengan seksama sebelumnya.
" No, maksudnya Jehan. Aku masuk ke dalam sebentar untuk meminta izin kepada Nyonya dan Jhon. "
" Tidak perlu! mereka sudah tahu kok. "
Ken tanpa sadar tersenyum tanpa harus dipaksakan.
Ya Tuhan, ini kali pertama aku melihat Ken tersenyum seperti ini. Gila! dia itu manis sekali.
" Walaupun begitu, penting untuk memberi tahu, Jehan. Aku membawa anak gadis orang, bukan barang kan? " Jehan tersenyum lalu mengangguk.
Jehan memutuskan untuk menunggu di luar karena merasa malu dengan Ibunya. Maklum saja, Ibunya sedari pagi tidak ada henti-henti meledek nya. Ken kembali ke luar setelah mendapatkan izin dari Ibu Sofia. Sementara Jhon, Pria itu tida terlihat batang hidungnya sama sekali. Tapi Ibu Sofia bilang, Jhon sedang menetaskan telurnya. Sungguh aneh! tapi Ken mengangguk seolah-olah paham apa yang sedang di bicarakan calon Ibu mertuanya itu.
" Mari, Jehan. " Ken memberikan tangan kanannya agar Jehan lebih leluasa untuk berjalan. Jehan tersenyum menatap Ken. Dia mengingat kembali momen pertama kali dia bertemu dengan Ken. Saat usianya lima tahun dan Ken sudah berusia tiga belas tahun. Jehan begitu terpana melihat wajah tampan Ken. Ditambah lagi, dia begitu sopan dan terlihat sangat cerdas. Seperti sekarang ini. Ken memberikan tangan kanannya saat ia akan keluar dari mobil.
Kau mengingatkan ku tentang itu, Ken. Saat usia ku lima tahun, aku sudah jatuh cinta padamu. Tapi melihat mu yang begitu ambisius, lama kelamaan aku menjadi ragu. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak pernah berhenti mencintaimu hingga sekarang.
Setelah berada di sebuah restauran, Ken dan Jehan sudah memesan makanan dan minuman mereka masing-masing. Sembari menunggu, Ken dan Jehan memutuskan untuk saling mendekatkan diri dengan menceritakan beberapa kisah tentang diri mereka.
__ADS_1
" Jehan? " Jehan menatap ke arah orang yang membaginya lalu menatap jengah.
" Siska? "
" Kau berkencan dengan Ken? laki-laki bermodal wajah tapi tidak memiliki apapun. Menyedihkan sekali. " Sindir Siska yang kini merasa bangga karena dia tengah menggandeng seorang pria kaya yang tampan.
" Lebih tepatnya, sebentar lagi kita kan menikah. "
Siska membuka mulutnya setengah tersenyum mengejek.
" Kau yakin? apa kau tidak takut kelaparan? "
" Tidak. Aku tahu Ken dengan baik. Dia bukan pria yang akan membuat ku kelaparan. "
" Jehan, biarkan saja. " Celah Ken.
" Tidak, Ken. Aku tidak bisa menerima saat kau di hina. "
" Benarkah? kau pasti benar-benar memiliki cinta buta ya? "
" Bukan aku, tapi kau! "
" Aku? kau tidak lihat? pacar ku adalah pewaris salah satu perusahaan properti terkenal. " Bukanya bangga, pria itu justru menunduk tak berani mengangkat wajahnya.
" Haha.... kau yakin? "
" Tentu saja. Kau iri? "
Jehan menghela nafasnya terlebih dulu.
" Iri? tidak mungkin. Asal kau tahu, pacar mu itu sudah mengejar-ngejar ku dari beberapa tahun lalu. Dan asal kau tahu juga, dia bukanlah anak dari pemilik perusahaan properti. Tapi dia anak dari seorang pemilik toko baju di dekat kampus ku dulu. "
Siska terkejut dan langsung menatap pacarnya yang hanya bisa tertunduk.
__ADS_1
" Apa benar yang dikatakan Jehan? jawab! "
" I iya. "
" Dasar tidak tahu malu! berani-beraninya menipu ku! kau tidak tahu siapa aku hah?! "
" Kau ini kenapa sombong sekali?! memang kau siapa? keluarga mu juga sudah bangkrut! memang apa yang mau kau banggakan sekarang?! aku memang berbohong padamu, tapi setidaknya aku benar-benar menyayangi mu. Konyol! wanita sepertimu tidak pantas mendapatkan ketulusan. Hanya karena aku bilang aku orang kaya, baru kau mau melihat ku. " Balas pria itu.
" Pergilah! lanjutkan pertengkaran kalian di tempat lain. " Titah Ken tanpa mau menatap ke arah Siska.
" Cih! dasar gila! " Maki Jehan lirih setelah Siska pergi.
" Tenanglah, Jehan. semua orang mempergatikan mu sedari tadi. " Jehan tersenyum malu dan mencoba untuk tidak terlalu memperdulikan nya.
***
" Bagaimana kelanjutannya? " Tanya Jhon dari sambungan teleponnya.
Semua berjalan dengan baik. Kenapa kau mengurungkan niat mu?
" Ibu dan Istriku tidak setuju akan hal itu. Mulai sekarang, biarkan saja Hendrick merintis usahanya. "
Baiklah kalau begitu. Lalu bagaimana dengan Zila?
" Kirimkan kejutan kecil untuk Dargo famili besok. "
Baik.
Jhon meletakkan ponselnya lalu menyenderkan tubuhnya di senderan kursi. Dia kembali mengingat betapa tidak tahu malunya Zila tadi sore.
Mungkin begitu juga caramu menjerat Hendrick dulu. Benar-benar profesional sekali dalam menggoda pria. Sayang, wanita sepertimu tidak membuat ku berselera sama sekali.
Setelah menyelesaikan semua urusannya, Jhon kembali ke kamar dan langsung berbaring dia sebelah Elia yang sudah tertidur. Seperti biasa, Jhon akan memandangi wajah Elia sebelum tertidur. Dia akan mulai untuk tersenyum karena mengingat pertemuan pertama kali bersama Elia. Lalu momen mereka perlahan-lahan saling dekat. Dan yang lebih membuat Jhon bahagia adalah pengakuan cinta dari Elia. Saat bersama Lusiana, wanita itu lah yang mengungkapkan rasa cintanya. Tapi rasanya begitu berbeda saat Elia mengatakan itu. Ada perasaan aneh yang seolah menginginkan untuk mendengar itu setiap hari.
__ADS_1
Elia, sebentar lagi orang yang sudah menyakitimu selama bertahun-tahun akan mendapatkan balasannya. Aku harap, tidak akan ada lagi orang yang akan menyakiti mu.
TBC