Second Husband

Second Husband
Episode 45


__ADS_3

Elia menatap manik mata Jhon yang begitu tegas menatapnya. Sejujurnya Elia tidak merasa takut dengan tatapan itu, tapi lebih merasa bingung. Bingung dengan hatinya yang tiba-tiba berubah menjadi gentar. Padahal beberapa waktu lalu dia begitu merasa yakin dan kuat seolah badai besar tida akan mungkin menggoyahkan hati dan keyakinannya. Perasaan tidak biasa saat melihat Jhon yang begitu mendendam, seolah mengoyak hatinya yang sekuat batu hingga retak dan kehilangan kekuatannya.


" Elia, Sekali lagi aku tanya. Apa ya g sedang kau pikirkan? apakah kau benar-benar mengkhawatirkan Hendrick sekarang? "


Elia kini mengeryit heran menatap Jhon. Hendrick? manusia itu bahkan sudah tidak memiliki arti bagi dirinya. Laku untuk apa dia harus mengkhawatirkan Hendrick? dibanding mengkhawatirkan Hendrick, bukankah lebih penting untuk mengkhawatirkan Jhon?


" Kenapa kau beranggapan kalau aku mengkhawatirkan Hendrick? "


" Karena kau berubah ekspresi saat aku sedang membicarakan kehancuran Hendrick dan Dargo. "


Elia terdiam sesaat sembari menatap lekat manik mata Jhon yang tak teralihkan tatapan matanya dari nya. Elia mengepalkan tangannya kuat untuk mencari kekuatan agar bisa menyampaikan apa yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Tatapannya sempat turun dan menunduk lalu kembali menatap Jhon tegas.


" Aku takut melihat mu yang seperti ini. Amarah dan dendam yang begitu besar, dan membuatmu terlihat jauh berbeda dari sebelumnya. Jhon, aku takut melihat mu yang seperti ini. Dargo bisa saja membalikkan keadaan dan membuat mu dalam masalah besar, dan aku, "


" Apa? "


" Jika aku membuat kesalahan, apakah kau akan menghukum ku seperti itu? " Kini Elia tidak mampu menatap mata Jhon yang masih saja tak beralih pandang darinya.


Jhon mengusap dahinya yang berkeringat lalu menghela nafas. Dia meraih tangan Elia dan menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukannya.


" Dengar, aku menikahi mu bukan hanya untuk main-main. Kau salah jika kau berpikir seperti itu. Aku tidak akan menyakiti mu, karena aku tahu, kau tidak akan melakukan hal semacam itu. Elia, aku mengenal mu dengan sangat baik. Jangan mengkhawatirkan hal yang tidak perlu. "


Elia memejamkan mata dengan buliran tetesan bening mengalir seraya matanya yang mulai terpejam. Rasa takut yang tadi menghantuinya kini sirna hanya dengan satu tindakan yang Jhon lakukan. Penting baginya untuk memastikan masa depan Ive agar jauh dari orang-orang yang saling membenci agar Ive tumbuh dengan kasih sayang dan tidak terdoktrin oleh kebencian dari orang tuanya.


" Maaf, Jhon. " Elia mengangkat tangannya dan memeluk erat tubuh Jhon. Rasanya perasaan nyaman kini telah membalutnya dan tidak lagi mengkhawatirkan hal-hal negatif.


" Dari pagi kau terus memanggil namaku. Apa kau lupa harus memanggil ku apa? untuk kesalahan mu yang ini, aku akan menghukum mu. "


Elia tersenyum tapi tak menunjukkannya kepada Jhon. Dia masih betah membenamkan wajahnya di dada Jhon yang terasa hangat dan nyaman.


" Ayo. " Ajak Jhon.


Elia mengeryit bingung lalu mengangkat wajahnya untuk menatap Jhon dengan tatapan penuh tanya.


" Kemana? "

__ADS_1


Jhon menundukkan kepalanya untuk berbisik ditelinga Elia.


" Ke tempat tidur. "


Tidak menghiraukan tatapan Elia yang terlihat keberatan, Jhon langsung mengangkat tubuh Elia dan membaringkannya di tempat tidur.


" Ini adalah kesalahan besar, kau tidak boleh menolaknya. Kau mengerti? "


" Aku memang tidak pernah menolak kan? "


Jhon tersenyum lalu memulai aksinya.


***


Di sebuah gedung perkantoran bertuliskan Dargo Company, seluruh staf kini tengah memeriksa banyaknya keanehan yang terjadi selama dua tahun tanpa mereka sadari.


" Bodoh! kenapa bisa seperti ini?! " Hendrick melemparkan setumpuk dokumen yang sudah dua tahun tidak pernah ia lihat langsung. Lembaran-lembaran kertas itu bertebaran di lantai yang memang sudah tidak karuan dari pagi.


" Kenapa kalian tidak menyadari ini semua?! apa otak kalian tidak berfungsi lagi?! apa selama tidak ada aku kalian hanya berbaring di kantor dan tidak melakukan apapun?! "


Suara pintu diketuk lalu masuk lah salah satu ahli ITE yang bekerja di Dargo Company.


" Ada apa? " Tanya Hendrick.


" Saya sudah menemukan kemana saham ditransferkan, Tuan. "


" Siapa? "


" Rendra Indraguna. "


Hendrick mengeryit, tangannya mengepak kuat, rahangnya juga mengeras dengan tatapan tajam penuh kemarahan.


" Sialan! apa dia menjalin kerja sama dan menanam saham begitu besar untuk ini? untuk mengikis sedikit demi sedikit saham Dargo? "


" Sepertinya itu tujuan utama nya Tuan. "

__ADS_1


" Rapat dewan direksi akan dimulai sepuluh menit lagi, Tuan. "


" Aku akan pergi sebentar lagi. Dan, coba teliti lagi. Apakah Jhon Damien ada hubungannya dengan ini atau tidak? "


" Baik, Tuan. "


Setelah semua pegawai pergi, Hendrick mendudukkan dirinya dengan perasaan kacau. Ini benar-benar diluar dugaannya. Bagiamana tidak? laporan yang dikirim kepadanya begitu jauh berbeda dengan dokumen salinan yang ada di perusahaan.


" Kalau ini sampai ada hubungannya dengan mu, Jhon. Aku benar-benar tidak akan memaafkan dan tidak akan pernah melepaskan mu, Jhon. Sampai kau mati pun, aku akan tetap mengejar mu bahkan sampai ke neraka aku akan tetap menemukan mu. "


Hendrick bangkit lalu berjalan meninggalkan ruangannya untuk menuju keruang rapat. Jujur saja, ini untuk pertama kali baginya menghadapi situasi yang begitu kacau. Debaran jantungnya yang terus menderu dan seluruh tubuh yang berkeringat dingin, tapi tetaplah ada harapan bagi seorang Hendrick agar bisa menyelesaikan masalah besar ini dan mengembalikan nasib Dargo Company yang sudah diambang kehancuran.


***


Jhon tersenyum menatap layar laptop yang kini ada di meja kerja pribadinya. Setelah kegiatannya bersama Elia beberapa jam lalu, dia memutuskan untuk absen ke kantor dan menunggu kabar terkini dari Dargo. Dan sepertinya semua itu berjalan dengan baik sesuai dengan harapan. Meski ini belum sepenuhnya mengantarkan Dargo kedalam lubang dasar kehancuran, tapi setidaknya ini cukup untuk menghancurkan kekuatan Dargo.


" Bagaimana? " Tanya Jhon setelah menerima panggilan masuk dari Rendra.


Menyenangkan, tapi kita tidak bisa mendepak Hendrick karena Dargo masih memiliki lima belas persen saham yang tersisa.


" Tidak apa-apa. Biarkan dia tenang beberapa waktu dulu. Karena kalau kita langsung menghabiskannya, namaku pasti akan terseret. "


Aku mengerti, lalu bagaimana dengan saham yang sudah masuk ke rekening ku?


" Diam dan jangan lakukan apapun sampai ada perintah dariku. "


Baik, tapi sekarang aku harus menjadi bulan-bulanan Dargo.


" Itu memang resikonya kan? kau sudah memiliki kartu pelindung. Gunakan itu dan jangan sampai kalah. "


Ok. Akan aku lakukan semua perintah mu dengan baik.


" Ingat satu hal. Jangan sampai tergoda oleh wanita. Jaga baik-baik isi resleting mu. Karena kalau sampai kau melakukan kesalahan, kau sendiri yang akan hancur. Kau mengerti? "


Rendra terdengar menghela nafas, tapi dia juga mengiyakan titah Jhon dengan segera.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2