Second Husband

Second Husband
Episode 63


__ADS_3

Bugh....! Brak.....!


Hendrick melemparkan semua barang-barang di ruang kerja pribadinya. Sungguh ini sangat menyakitkan. Jika hancur, maka pasti sudah menjadi debu. Mendengar ucapan Jhon tadi, rasanya hatinya seperti tertusuk puluhan belati tajam. Sakit, perih, nyeri, dan seolah menghisap seluruh energi yang ia miliki. Bahkan, untuk bernafas saja rasanya sangat sulit. Hendrick mendudukkan tubuhnya memandangi barang-barang yang sudah tidak beraturan. Buku-buku yang tadinya tersusun rapih dilemari, kini berserakan di lantai bak timbunan sampah. vas bunga dan beberapa barang tang biasa memenuhi meja kerjanya juga sudah terpental entah kemana. Sungguh sangat menyakitkan rasanya menerima kenyataan yang begitu pahit ini. Sekarang dia hanya melihat Elia yang tersenyum manis tapi bukan untuknya. Elia yang memanggil Sayang tapi bukan kepada dirinya. Begitu juga dengan putrinya. Putri yang begitu cantik yang seharusnya memanggilnya Ayah, justru memanggilnya paman.


Hendrick mengusap wajah nya kasar. Air mata juga tak henti menetes dari mata indahnya. Punggung tangan yang berdarah akibat benturan juga tak lagi ia hiraukan. Menyesal? jika ada kata di atas itu, maka itulah yang dirasakan oleh Hendrick.


" Kalau saja, kalau saja aku lebih memikirkan Elia, kalau saja aku tidak terjebak oleh Zila, kalau saja aku mengabaikan orang tuaku, kalau saja aku memiliki pendirian yang teguh. "


Hendrick semakin terisak sembari memegangi kepalnya. Jujur, dia tidak pernah mencintai wanita manapun selain Elia. Jika dia mempertahankan Zila, karena hanya Zila satu-satunya wanita yang di inginkan oleh orang tuanya. Ditambah lagi, kehamilan Zila dan tidak bersedianya Elia membagi Nya bersama Zila.


" Elia, aku tahu, di hatimu sama sekali tida ada nama ku lagi. Aku sudah membuat begitu banyak kesalahan. Memimpikan mu kembali kepadaku, bahkan sudah sangat tabu. Elia, perasaan ku tetap sama meskipun aku pernah membenci mu beberapa saat yang lalu. "


Hendrick mengingat sesuatu dan mengeluarkan sebuah photo dari dalam laci kerjanya. Bibir Hendrick tertarik tersenyum dengan mata yang kembali meneteskan air mata. Hendrick menyentuh wajah dari photo itu, mebgusapnya pelan.


" Ive, apakah Ayah memiliki kesempatan untuk dekat dengan mu? apakah kau akan memanggil ku Ayah walaupun hanya sekali? Ive, saat kau dewasa nanti, Ayah tidak akan menyalahkan mu jika kau sangat membenci Ayah. Ayah janji, Ayah akan menerima kebencian mu dengan lapang dada, nak. "


Photo kedua kembali Hendrick keluarkan. Dia semakin sesegukan melihat Photo Elia dan dirinya saat pergi keluar negeri di saat bulan madu mereka. Elia sangat cantik dengan senyum indah yang mengembang di bibirnya. Sama seperti Elia, Hendrick juga merasakan hak yang sama. Dia benar-benar masih tidak percaya kalau dia sudah menikah dengan Elia saat itu. Maklum saja, Elia sangat populer dikalangan mahasiswa yang berada satu universitas. Hendrick bahkan rela mondar mandir ke kampus Elia untuk mendapatkan hatinya. Dan siapa sangka, segala yang ia lakukan ternyata mampu meluluhkan hati Elia yang hampir tidak pernah ada yang berhasil mendekatinya. Tapi, semua kebahagiaan itu hancur lebur karena satu tindakan bodoh yang ia lakukan.


***


Setelah banyak berbincang dengan nenek, Jhon meminta izin untuk pulang. Selain hari sudah siang, Elia juga terlihat tidak nyaman terus menerus berada di sana.


" Aku dengar, kau merebut investor Hendrick? " Tanya Kakek setelah berada di luar kamar nenek. Bukan hanya kakek, tapi kedua orang tua Hendrick, Zila dan Siska ya g entah kapan tiba juga berada di sana.


Jhon menyunggingkan senyum dinginnya. Tatapannya sesaat begitu meremehkan saat menatap sekumpulan Dargo.


" Merebut? bagaimana bisa, seorang pembisnis yang katanya handal mengatakan hal semacam ini? "


" Jaga bicaramu! dia adalah kakek mu! " Bentak Ayahnya Hendrick.

__ADS_1


" Oh, anda lupa ya? kata-kata pertama yang keluar dari Tuan besar Dargo adalah, Pergi! kau bukan cucuku! aku tidak akan menerima cucu yang lahir dari wanita rendahan. "


" Jaga bicara mu, Jhon! " Kesal Ibunya Hendrick.


" Dengar, para Nyonya dan Tuan Dargo. Jika aku mau, aku bisa menghancurkan sisa Dargo ini dengan beberapa kata. " Ancam Jhon yang terlihat tidak main-main.


" Dasar tidak tahu berterimakasih! kau bisa hidup baik seperti sekarang, itu juga karena berkat Dargo! " Jawab Ibunya Hendrick.


Jhon menatap tajam manik mata Ibunya Hendrick.


" Kau ingin bukti? "


" Sayang, ayo kita pulang. Tidak perlu menghiraukan ucapan mereka. " Ajak Elia yang merasa khawatir melihat kemarahan di wajah suaminya.


" Dasar wanita jal*ng! kau pikir kau siapa? " Kesal Siska.


Merasa sangat kesal, Jhon langsung mengambil ponsel dari sakunya.


" Sayang! " Elia menangkup wajah suaminya.


Sontak semua orang menjadi kaget dan menatap khawatir.


" Dengar, jangan mudah terprovokasi. Hanya ingat saja nenek. Kalau sampai kau melakukan itu, bagaimana dengan nenek? "


" Mereka sendiri yang menginginkan ini. "


Elia menggeleng.


" Suamiku, adalah orang yang hebat. Aku percaya itu. Tapi sayang, hal yang lebih hebat adalah memaafkan meski kau belum menerima permintaan maaf. Biarkan saja mereka berpikir buruk. Kau tahu siapa yang akan rugi? tentu saja mereka sendiri. Mereka hanya akan menghabiskan waktunya untuk mencari-cari kesalahan orang lain. " Elia tersenyum menatap manik mata Jhon yang kini sudah mulai mereda emosinya. Elia mengambil ponsel yang masih ada di genggaman Jhon.

__ADS_1


" Ken, yang tadi itu hanya bercanda. Jangan di anggap serius ya? baiklah, terimakasih. "


Jhon menatap seluruh anggota Dargo yang kini hanya bisa diam seolah menahan makiannya di dalam hati.


" Jika bukan karena Ibu dan istriku, aku jamin, apa yang aku ucapkan tadi, akan menjadi kenyataan hanya dengan satu jam. "


" Kalau begitu, kembalikan Investor Hendrick. " Pinta Ibunya Hendrick. Iya meminta dengan nada ketus mungkin adalah hal biasa baginya.


" Cara meminta mu sungguh menakjubkan, Nyonya. " Ujar Jhon.


" Hentikan! " Bentak Hendrick yang tidak sengaja mendengar permintaan Ibunya barusan. Kompak semua orang menatap ke arah Hendrick.


Hendrick berjalan mendekat dengan tatapan yang marah. Tak lagi ia perdulikan penampilannya yang acak-acakan. Bahkan darah yang menetes dari tangannya juga tak ia rasakan.


" Hentikan, Ibu. Sudah cukup! ini bukan soal merebut. Tapi ini semua karena aku yang tidak kompeten. "


" Tapi nak, "


" Sampai kapan Ibu? sampai kapan Ibu akan terus menganggap Ibu lah yang paling benar. Sudah cukup dan jangan membuka mulut Ibu. "


" Hendrick! " Bentak Ayahnya Hendrick.


" Ayah juga cukup! mulai dari hari ini, aku tidak akan mendengar kata-kata Ayah, Ibu ataupun juga kakek. Kalian semua mengantar ku kedalam penderitaan. Masalah Investor itu bukan kesalahan Jhon. Jadi berhentilah berpikir macam-macam. "


Hendrick menatap Elia dan Jhon.


" Kalian pergilah. Kalian hanya akan merasakan tekanan batin disini. "


Tak mau menjawab, Jhon langsung meraih tangan Elia dan membawanya pergi dengan hati-hati.

__ADS_1


TBC


__ADS_2