Second Husband

Second Husband
Episode 62


__ADS_3

Jhon terdiam dengan tatapan dingin yang semakin tidak bisa ia kontrol. Seperti masa bodoh atau memang sifat Zila yang acuh tak acuh, tak mau berhenti mengoceh meskipun Jhon sama sekali tidak merespon ucapannya.


" Tuan, ngomong-ngomong, anda juga bersekolah di salah satu sekolah favorit di luar negeri ya? sungguh, saya benar-benar merasa sangat takjub dengan prestasi yang ada dapatkan. "


Sungguh Jhon benar-benar kesal mendengarkan ocehan Zila yang tidak paham dengan apa yang di ucapkan wanita itu sedari tadi. Sebentar dia tertawa, lalu tersenyum, terus bertanya lalu menjawabnya sendiri, sungguh Jhon sudah tidak tahan lagi dengan ini. Untuk menghentikan ocehan Zila, Jhon membalikkan tubuhnya untuk mengetuk pintu kamar mandi.


" Sayang, apa masih lama? "


Tak lama dari itu, Elia langsung keluar dari kamar mandi. Sejenak dia melihat ke arah Zila yang nampak sekali tidak menyukai kehadirannya. Tapi terserahlah, dia bukan datang untuk Zila.


" Ada apa, sayang? " Tanya Elia sembari bergelayut manja di lengan suaminya.


" Kita harus cepat, waktu ku sudah banyak terbuang di sini. " Elia tersenyum lalu mengangguk. Tak mau banyak bosa-basi lagi, Jhon dan Elia langsung melangkahkan kaki menuju kamar nenek. Mereka sama sekali tidak menghiraukan Zila yang terus saja menatap mereka dengan tatapan tidak suka.


" Apa dia mengajak mu bicara? " Tanya Elia seraya kakinya melangkah.


" Sepertinya begitu. " Jawab Jhon singkat.


" Apa yang dia bicarakan? "


" Aku tidak mendengarnya, jadi tidak tahu. "


Elia tersenyum. Paham tentu dengan sifat dingin suaminya kepada orang asing sulit untuk di hilangkan.


Setelah beberapa saat, sampailah Elia dan Jhon di kamar Nenek. Sebelum masuk kedalam, Jhon mengetuk pintunya beberapa kali.


" Tuan, dan Nyonya Damien? " Sapa salah satu pelayan yang ikut membantu nenek di dalam kamarnya.


" Silahkan masuk, Tuan dan Nyonya. Nyonya besar sudah menunggu fi dalam. " Ucap pelayan itu lalu pergi setelahnya.

__ADS_1


Jhon dan Elia masuk kedalam kamar yang begitu luas itu. Bukan hanya ada Nenek, tapi juga Hendrick, orang tuanya dan juga kakek. Seketika Elia merasa gugup melihat mereka semua berkumpul dan menatap ke arah nya dan Jhon. Dia kembali mengingat beberapa tahun lalu saat mereka semua memperlakukan Elia dengan sangat buruk. Tidak! rasanya sakit itu tidak bisa hilang sepenuhnya meskipun kini ia sudah berada di lingkungan yang jauh lebih baik.


Jhon yang menyadari tubuh istrinya gemetar dengan sigap meraih pinggang Elia lalu mengerat kan posisi tubuh mereka.


" Ada aku. Kau percaya pada ku kan? "


Elia menoleh dan mengangkat pandangannya untuk menatap Jhon. Perlahan ia mulai tenang. Bibirnya juga bisa tersenyum sekarang.


" Selamat pagi, Jhon dan Elia? " Sapa nenek dengan suara beratnya. Wanita renta itu mencoba tersenyum meski terhalang oleh alat bantu pernapasan.


" Selamat pagi, nenek. " Jawab Jhon lalu menuntun tubuh istrinya mendekat ke arah nenek.


" Kalian tidak membawa Ive? " Tanya nenek.


" Tidak nek. Dia sangat antusias dengan mainan barunya hari ini. Kami sudah berpamitan sampai beberapa kali, tapi dia sama sekali tidak menghiraukannya. " Jawab Jhon.


Nenek nampak lesu mendengar penuturan Jhon. Jujur, rasa sayangnya kepada Ive begitu besar. Bahkan dia selalu berusaha untuk mengunjungi keluarga Damien dengan tubuh renta nya hanya untuk melihat Ive.


Elia, apakah benar-benar tidak ada lagi aku di hatimu? kau terlihat begitu bahagia bersama Jhon. Aku ingin ikut bahagia, tapi rasa nya sangat sakit.


" Nenek, bagaimana keadaan Nenek? " Tanya Jhon seraya meraih tangan nenek dan mengusap punggung tangan nenek yang gemetar karena usia.


" Baik. Nenek baik-baik saja. " Ucap nenek yang terdengar begitu berat nada suaranya.


Nenek mengalihkan pandangan ke arah Elia. Nenek menahan diri agar tak menangis di hadapan seluruh anggota keluarga yang kini melihat nya. Pedih dan sakit rasanya mengingat Elia yang dulu diperlakukan buruk oleh keluarganya. Jika bisa, nenek ingin sekali bangkit lalu bersimpuh memohon maaf atas kesalahan yang sudah dilakukan semua anggota keluarganya. Sayang, sungguh sangat sayang. Tubuh renta nya benar-benar tak memiliki kekuatan untuk melakukannya.


" Elia,... " Panggil Nenek lirih.


" Iya. " Jawab Elia tanpa mau mendekat ke Nenek. Tidak tahu mengapa dia begitu tidak berbekas kasih. Tapi benar sulit mengubah kebiasaannya. Semenjak menikah dengan Hendrick, tidak ada satu pun dari keluarga Hendrick yang begitu ingin dekat darinya. Entah juga sudah berapa ratus kali dia di abaikan dan disahkan dari keluarga itu. Lalu bagaimana bisa dia begitu dekat dengan tiba-tiba dan menjalin kasih antar keluarga?

__ADS_1


" Elia, maaf.... Maaf untuk apa yang sudah kami lakukan kepadamu. " Pinta nenek. Mendengar ucapan nenek yang sekuat tenaga dia ucapkan, Elia mulai tersentuh hatinya.


" Semua sudah baik-baik saja, Nenek. Tuhan sudah menggantinya dengan yang lebih baik untukku. " Jawab Elia. Senyum di bibirnya kini terlihat lebih tulus dari pada sebelumnya.


" Syukurlah,.... Jhon dan keluarganya adalah orang-orang yang baik. Kau pantas menjadi keluarga nya. Nenek berdoa, semoga kau selaku bahagia, Elia. "


" Terimakasih, Nenek. "


Orang tua Hendrick yang ada disana hanya bisa menatap dingin dan kesal. Tidak tahu trik apa yang Elia gunakan, tapi kehidupannya benar-benar sempurna sekarang ini.


Zila yang sedari tadi berada di dekat pintu juga hanya bisa menahan kesal. Dia merasa jauh lebih baik dari Elia. Jadi menurutnya, dialah yang pantas untuk posisi Elia saat ini.


Jhon, aku akan mendapatkan mu. Aku akan menjebak mu, sama seperti aku menjebak Hendrick dulu.


" Nek, kenapa nenek tidak dirawat dirumah sakit saja? " Tanya Jhon yang penasaran. Di dalam hatinya bertanya, apakah Dargo sampai semakin itu hingga tidak bisa membawa nenek kerumah sakit royal suit langganan keluarga Dargo?


Nenek menggeleng lalu perlahan meraih kembali tangan Jhon. Jhon tentu saja langsung menerima tangan nenek.


" Rumah sakit manapun tidak akan ada gunanya lagi, Jhon. Nenek sudah sangat tua. Di dunia ini kan tidak ada yang bisa menghindari kematian. "


Jhon terdiam kelu. Memang benar, semua yang hidup pasti akan mati. Jhon mengarahkan pandangannya ke arah Elia. Dia meraih tangan Elia dengan satu tangannya laku menggenggam erat.


Tuhan, tolong jangan ambil nyawa kami secepat mungkin. Tolong biarkan kami berbahagia sampai bisa melihat anak-anak kami dewasa, dan izinkan kami sama-sama menyaksikan mereka memiliki keluarga dan memberikan cucu untuk kami.


" Oh iya, nek. Aku memiliki kabar bahagia. " Ucap Jhon yang langsung membuat wajah Nenek terlihat antusias.


" Apa? "


" Ive akan segera memiliki adik. "

__ADS_1


TBC...


__ADS_2