Second Husband

Second Husband
Episode 61


__ADS_3

Setelah pembicaraan nya dengan Elia, kini Jhon merasa lebih baik dan akhirnya bisa legowo menerima semua yang sudah terjadi. Memang tidak mudah memaafkan apa yang sudah dilakukan Dargo famili kepada keluarganya, tapi dibanding terus memikirkan hal itu, lebih baik dia mengikuti apa yang disarankan Elia. Fokus kepada dan siapa orang yang penting untuk ia cintai, dan membuang jauh orang-orang yang tidak perlu mendapatkan simpati nya. Jhon yang belum bisa tidur terus menerus menatap wajah Elia yang tengah tertidur pulas. Tanpa sadar bibirnya tertarik membuat senyum terbit di bibirnya. Sungguh dia merasa begitu beruntung karena adanya Elia disisinya. Apalagi, ada calon bayi mereka yang akan segera lahir. Jhon semakin tak bisa menghentikan bibirnya untuk tidak tersenyum. Membayangkan. bagaimana anak kedua lahir nanti, sudah cukup membuatnya bahagia. Tawa mereka, tangis mereka, dan sudah pasti akan pertengkaran kecil antara Ive dan adiknya nanti.


Jhon menurunkan tangannya menuju ke perut Elia yang masih sangat rata itu. Jhon kembali tersenyum dan mulai menggerakkan tangannya mengusap pelan perut Elia. Jujur ada perasaan kesal juga dihatinya. Kenapa dia harus menunggu sampai sembilan bulan untuk bertemu anak nya? menyebalkan! batin Jhon menggerutu.


" Kau belum juga tidur? " Tanya Elia yang sepertinya terganggu oleh tangan Jhon yang terus mengusap perutnya.


" Maaf, aku tidak tahu kenapa tangan ku sulit untuk berhenti. "


Elia tersenyum lalu meletakan lagi tangan Jhon diperutnya. Dia juga merubah posisi tidurnya agar lebih menempel tubuhnya dengan Jhon. Sejujurnya, Elia sangatlah menyukai aroma tubuh Jhon. Tidak tahu kenapa, mungkin saja ini yang dinamakan bawaan bayi.


" Aku benar-benar tidak menyangka, wanita hamil sungguh membuat laki-laki banyak beruntung. "


Elia mengeryit, mengangkat kepalanya untuk menatap Jhon dengan tatapan penuh tanya.


" Apa maksudnya? "


" Kau jadi semakin suka menempel padaku. " Elia tersenyum dan tak berniat menjawabnya. Dia justru lebih memilih meletakkan wajahnya di dada Jhon dan menghirup aroma tubuh Jhon yang seharian ini membuatnya sangat rindu.


" Elia, apa kau menginginkannya? " Tanya Jhon, entah bagaimana ekspresinya, Elia tidak bisa melihat nya.


" Apa? "


" Apa lagi? kita sudah seperti ini, memanag apa lagi? "


Elia menghela nafasnya. Sudahlah, Jhon memang selalu seperti ini. Tidak boleh melihat Elia bersantai di tempat tidurnya.


Pagi hari nya.


Jhon bersama Elia berjalan menuju meja makan. Sudah ada Ibu Sofia dan Jehan disana. Pemandangan yang tidak biasa juga terjadi pagi ini. Entah sejak kapan, Ken juga berada di sana. Elia tersenyum lucu melihat pipi Jehan yang memerah. Yah, mungkin karena dia merasa malu dengan ada nya Ken. Tapi pria yang didamping Jehan itu sama sekali tak terbaca ekspresinya.


Setelah sampai di meja makan, yang pertama kali Jhon lakukan adalah memeluk Ibunya yang sudah duduk disana.

__ADS_1


" Maaf, Ibu. " Ucap Jhon lalu mengecup pipi Ibunya. Sungguh ini menjadi pemandangan yang begitu mengharukan. Ibu Sofia juga terlihat begitu tersentuh dengan apa yang dilakukan Jhon. Maklum saja, ini adalah kali pertama Jhon membentaknya, jadi dia merasa begitu sedih. Tapi untunglah, Jhon sudah menjadi seperti seharunya. Jhon yang selalu lembut dan memperlakukan Ibunya penuh cinta.


" Maafkan Ibu juga. Ibu bersalah karena tidak memahami perasaan mu. " Jhon semakin mengeratkan pelukannya. Sungguh dia begitu menyesal karena telah membentaknya semalam. Wanita yang melindunginya sedari kecil, wanita yang menanggung banyak luka, dan dengan kasarnya dia menambahkan luka itu semalam.


Setelah adegan mengharukan itu, dan sarapan juga sudah selesai, Jhon dan Ken hendak menuju kantor, tapi dering ponsel pagi hari ini membuatnya harus absen dulu ke kantor.


" Ada apa, Jhon? " Tanya Ken ya h sukses membuat semua orang tercengang mendengar cara Ken memanggil Jhon.


" Nenek jatuh sakit. " Jawab Jhon setelah sambungan teleponnya terputus.


" Kau akan pergi kesana? " Tanya Ken.


" Sepertinya, iya. "


" Baiklah, pergi saja. Urusan kantor, biar aku yang menyelesaikannya. " Ucap Ken yang mendapat anggukan dari Jhon.


" Kalau begitu, aku pamit dulu. " Ucap Ken kepada seluruh anggota keluarga.


" Kalau tidak mau, biar aku saja deh. " Ujar Elia yang tentu saja langsung mendapatkan tatapan tajam dari Jehan dan Jhon.


" Jangan repot-repot, Nona. Aku bisa sendiri. " Ujar Ken sebelum melangkahkan kaki.


" A aku mau mengantarmu, Ken. " Ucap Jehan malu-malu.


Setelah kepergian Ken dan Jehan, Jhon dan Elia juga langsung bersiap-siap untuk melihat keadaan nenek.


" Ibu mau ikut? " Tanya Elia.


" Tidak, nak. Ibu dirumah saja. Biarkan Ibu dan Yana yang menjaga Ive dirumah. " Elia mengangguk paham.


***

__ADS_1


Elia dan Jhon bergandengan tangan begitu keluar dari mobil yang sudah terparkir di pelataran rumah mewah milik keluarga Dargo. Elia merasa sedikit aneh dengan keadaan rumah mewah yang biasanya selalu ramai. Tapi entahlah, hari ini begitu sepi. Bahkan, pelayan rumah yang biasanya berlalu lalang, kini hanya satu atau dua orang saja yang terlihat. Halaman rumah yang begitu lebar dan terurus, kini terlihat sedikit tak terurus. Bunga-bunga nya juga banyak yang layu, rumput-rumput liar juga banyak yang tumbuh. Jika saja itu dirumah Damien, Ibu Sofia pasti akan menghabiskan seharian waktunya untuk mengurus kebun nya.


" Silahkan masuk, Tuan dan Nyonya Damien. " Sapa salah satu pelayan sembari membungkuk hormat. Sungguh berbeda dengan kali terakhir Elia datang kerumah besar Dargo. Susananya benar-benar tidak sama. Sepi, entah kemana banyaknya pengawal dan petugas keamanan yang mencapai puluhan. Sejauh ini, Elia hanya melihat dua orang saja dari mereka.


" Sayang, kenapa sangat sepi ya? rumah sebesar ini, kalau sepi ternyata menyeramkan juga ya? " Tanya Elia yang memang itulah yang ia rasakan.


Jhon mengubah posisi tangannya memeluk dan melingkarkan tangan agar membuat Elia tidak berpikir macam-macam.


" Hanya perasaan mu saja, jangan terlalu di dramatisir. Aku ada di sini, jadi tenanglah. "


" Sayang, aku jadi ingin buang air kecil. " Rintih Elia. Tapi sungguh, keadaan rumah mewah itu sangat sepi hingga terlihat menakutkan baginya.


Jhon menghela nafasnya.


" Baiklah, ayo aku antar ke kamar mandi dulu sebelum menemui, Nenek. "


" Perhatikan langkah kakimu. Jangan asal melangkah, kau harus selalu ingat kalau sedang hamil. "


" Iya aku tahu. "


Tak jauh dari mereka, ternyata sepasang mata tengah memperhatikan mereka. Orang itu adalah Zila.


" Jadi Elia sedang hamil? dasar kurang ajar! dia benar-benar beruntung sekali. Pokoknya, aku tidak boleh kehilangan kesempatan ini. "


" Selamat pagi? " Sapa Zila seraya menghampiri Jhon yang masih setia menunggu Elia di depan kamar mandi.


" Pagi. " Balas Jhon dengan tatapan dinginnya.


Jujur, Zila sebenarnya sangat tertekan dengan cara Jhon menatapnya. Seolah-olah dia begitu jijik dan memaksanya untuk menjauh dari nya. Tapi, dia tidak bisa secepat itu menyerah, Jhon adalah pria tampan dengan banyak harta, menaklukannya tentu saja bukan ha yang mudah.


" Apa anda mau meminum teh dulu? kebetulan, saya bisa meracik beberapa jenis teh herbal. Anda bisa mencobanya jika anda mau. " Ucap Zila lalu tersenyum manis setelahnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2