Second Husband

Second Husband
Episode 54


__ADS_3

Mendengar pembicaraan Jhon dan Ken melalui sambungan telepon, Elia yang penasaran akhirnya memutuskan untuk bertanya.


" Sayang. "


" Em? " Jhon membalikkan tubuhnya me arah Elia. Sadar jarak mereka lumayan jauh, Jhon bergegas mendekati Elia dan duduk di sampingnya.


" Ada apa? "


" Boleh bertanya sesuatu? "


" Tentang apa? "


" Tentang Ken. "


Jhon terdiam sesaat lalu mengangguk.


" Apa? "


" Sebenarnya, aku penasaran sekali dengan Ken. Dimana dia tinggal, dan yang lainya. "


Jhon mengeryit menatap Elia. Penasaran? entah lah, rasanya tiba-tiba dia merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Elia itu.


" Kenapa kau penasaran? "


" Hanya penasaran saja. "


Jhon menatap Elia dengan tatapan menyelidik.


" Apa kau menyukai, Ken? "


Elia terperangah menatap Jhon. Tentu saja dia tidak percaya mendengar pertanyaan Jhon yang aneh ini. Memang Ken itu tampan, tapi tentulah bagi Elia Jhon itu sudah yang paling tampan.


" Jhon, walaupun ada laki-laki tertampan di dunia, aku hanya akan menyukai mu seorang. "


Jhon mdmalingkan wajahnya dan tersenyum. Rasanya benar-benar bahagia mendengar Elia mengatakan itu. Tidak tahu bagaimana cara Elia memperlakukan Hendrick di masa lalu. Yang paling penting adalah Elia yang sekarang ini adalah istri yang selalu bisa membuatnya bahagia.


" Jadi, dari mana kau ingin tahu tentang Ken? " Tanya Jhon setelah menguasai dirinya lagi.


" Em, mulai dari kalian bertemu, boleh? " Jhon mengangguk setuju.

__ADS_1


" Saat usiaku lima tahun, Ayah dan Ibu membawaku ke Dargo Famili. Saat itulah aku bertemu dengan Ken. Ken adalah anak dari Sopir kelurga Dargo, Ibunya bekerja di kediaman Dargo sebagai pelayan. Karena Ken adalah anak satu-satunya dan jauh dari nenek dan kakeknya, orang tua Ken membawanya tinggal di kediaman Dargo. Hendrick sangat tidak menyukai Ken karena Ken memiliki kemampuan dan kecerdasan yang di bilang sebanding dengannya. Karena itulah, Hendrick sangat membenci Ken dan terus saja mencari gara-gara. Baik disekolah ataupun di kediaman Dargo. "


" Jadi, Ken juga satu sekolah dengan Hendrick? "


Jhon mengangguk.


" Iya. Hendrick bersekolah disana karena uang sekaligus kemampuannya. Sedangkan Ken, dia bisa bersekolah di sekolah ternama itu karena prestasi dan beasiswa yang ia dapatkan. Sayangnya aku tidak seberuntung seperti mereka, aku tidak memiliki kepintaran seperti mereka berdua. Semua berjalan seperti biasa hingga kami berusia enam belas tahun. Hari dimana sebuah kejadian yang menghancurkan kebahagian Ken dan keluarganya. "


" Apa? apa yang terjadi? " Tanya Elia yang semakin penasaran.


Jhon menghela nafas kasarnya.


" Elia, kalau kau bersemangat begitu, aku malah jadi malas. " Kesal Jhon karena merasa iri dengan Ken yang lebih menarik di mata Elia.


" Kalau kau tidak mau cerita, ya sudah. Besok aku akan bertanya langsung dengan Ken. "


" Tidak boleh! "


" Kenapa? "


Pasti membutuhkan waktu lama kalau menceritakan masa lalunya, Ken. Lebih baik aku saja yang menceritakannya.


" Kau tahu Elia? pedagang kaki lima itu sudah renta. Dia tewas di tempat. Dan yang lebih menyedihkannya lagi, kejadian itu disaksikan oleh cucunya yang kira-kira baru berusia empat atau lima tahunan. "


Elia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Sungguh dia tidak menyangka kalau Hendrick memiliki masa lalu yang begitu mengerikan. Di usia enam belas tahun dia sudah menjadi pembunuh meski itu tanpa sengaja.


" Lalu bagaimana setelahnya? apa Hendrick di hukum? apa cucu nya baik-baik saja? "


" Hendrick sama sekali tidak di hukum."


" Apa?! kenapa?! bagaimana hukum bisa tidak adil begitu?! " Protes Elia dengan tatapan yang kesal.


" Karena Dargo meminta Ayahnya Ken untuk menggantikan Hendrick sebagai tersangka. "


Elia menggeleng tidak percaya. Sungguh sangat menyeramkan keluarga Dargo itu. Bahkan dengan mudahnya mempermainkan hukum sesuka hati mereka hanya karena mereka merasa memiliki uang yang banyak.


" Kenapa Ayahnya Ken setuju? apa dia di bayar? "


" Ibunya Ken kebetulan terkena penyakit Liver. Saat itu dia membutuhkan banyak uang. Tentu saja ini digunakan Dargo sebagai kesempatan emas. Selain Ayahnya Ken adalah orang yang biasa membawa mobil itu, dia memang adalah satu-satunya orang yang paling masuk akal untuk dijadikan tumbalnya."

__ADS_1


" Dasar Kelurga gila! " Maki Elia yang benar-benar terlihat kesal.


Jhon meraih tangan Elia dan menggenggamnya erat. Walaupun yang diceritakan adalah tentang Ken, Jhon merasa tengah mengingat masa-masa menyakitkan yang ia alami dirumah itu bersama dengan Ken. Gambaran-gambaran perlakuan anggota keluarga Dargo begitu menyayat hatinya. Mulai dari tatapan sinis, kata-kata kasar yang seolah memperolok nya. Entahlah, rasanya begitu sakit hingga Jhon mendendam begitu lama.


" Jhon, eh sayang, kau baik-baik saja? " Elia menatap wajah Jhon yang terlihat tidak biasa. Meski pun Jhon tidak mengatakannya, tapi Elia seperti melihat luka yang amat dalam. Entah seberapa besar luka itu. Elia tahu bahwa menceritakan masa lalu Ken adalah sama dengan mengingatkan Jhon kepada masa lalunya.


" Sayang.... " Elia menyusupkan kedua lengannya lalu memeluk Jhon. Dia memang tidak bisa mengobati luka yang Jhon alami, tapi setidaknya dia bisa mencoba untuk menguatkan Pria yang dari luar terlihat begitu gagah dan kuat. Tapi jika di lihat dari dalam, dia juga sama seperti orang pada umunya yang bisa merasakan sakit dan trauma karena masa lalunya.


Jhon merengkuh tubuh Elia yang kini mendekap dan membenamkan wajah di dadanya. Entah keberuntungan dari mana bisa memilik Elia di dalam hidupnya. Untuk yang pertama kalinya Jhon benar-benar merasa bahwa dia begitu beruntung karena ada Elia yang bisa tahu apa yang dia rasakan tanpa harus mengungkapkan.


" Elia, akhir-akhir ini kau semakin suka menggoda ku ya? " Jhon mengecup pucuk kepala Elia dan kembali mempererat pelukannya.


Merasa bahwa tubuh Jhon begitu wangi, Elia terus mengendus lalu berhenti dibagian ketiak Jhon. Dia menghela nafas lega karena ternyata bagian ketiak Jhon benar-benar membuatnya merasa lebih baik.


" Apa yang kau lakukan, Elia? " Jhon yang kebingungan hanya bisa bertanya dan melihat Elia yang begitu betah berada di ketiaknya.


" Tidak tahu, aroma tubuh mu memang benar-benar segar. Tapi saat berada di bagian ketiak, aku merasa ada sesuatu di dalam tubuhku yang lega. "


Jhon menggeleng heran tapi dia membiarkan saja apa yang dilakukan Elia. Tapi lama kelamaan, hembusan nafas Elia seolah meresap ke kulitnya dan membuat desiran hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Untuk beberapa saat Jhon mencoba untuk menahan diri, tapi sungguh itu tidaklah mudah.


" Elia, aku tidak tahan lagi kalau begini. " Jhon mengubah posisi mereka hanya dengan satu gerakan. Kini, Elia sudah berada dibawah kungkungan Jhon.


" Jhon, kenapa kau mudah sekali terprovokasi? "


" Karena kau adalah istriku, jika kau wanita lain, mana mungkin aku akan terprovokasi? "


Jhon sudah akan melakukan aksinya, tapi tanpa sengaja dia melihat jam digital yang juga mencantumkan tanggal disana.


" Elia, bukankah seharusnya kau sedang datang bulan? " Tanya Jhon.


" Memang sekarang tanggal berapa? "


" Dua puluh dua. Biasanya kau datang bulan sekitar tanggal tujuh belas kan? apa kau sedang datang bulan? "


" Belum. Kau kan tahu sendiri tadi pagi. "


Elia dan Jhon saling menatap dengan dugaan yang sama.


TBC

__ADS_1


__ADS_2