Second Husband

Second Husband
Episode 48


__ADS_3

Disebuah ruang tamu yang saat ini seperti ruang tertutup tanpa fentilasi. Sesak dan pengap. Itulah yang tengah dirasakan pria tampan dengan postur tubuh tinggi dan tegap. Dia adalah Hendrik Dargo. Matanya masih menatap nanar seorang pria yang tak lain adalah Jhon, memeluk putrinya seolah dia adalah Ayah kandungnya. Sakit? tentu saja rasanya sangat sakit. Meskipun beberapa waktu lalu dia sempat berpikir untuk tidak lagi memikirkan Ive putrinya, tapi nyatanya pemandangan kecil ini benar-benar membangunkan jiwa seorang Ayah yang kecewa saat anaknya memanggilnya paman dan memanggil pria lain sebagai Ayahnya. Mata Hendrick seketika memerah dengan. bibir yang gemetar karena menahan kesedihan dengan apa yang dia saksikan saat ini.


" Ive? " Panggil Elia yang terengah-engah karena mencari Ive dengan berlari.


" Sayang, maaf ya jadi merepotkan mu lagi. Aku kira Ive ke kamar Neneknya. Tapi tidak tahunya dia mencarimu sampai disini. " Ucap Elia seraya pelan berjalan mendekati Jhon dan Ive. Sadar benar disana ada Hendrick, Elia sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan mantan suaminya serta mantan Ayah mertuanya yang juga ada di sana.


" Tidak apa-apa. " Jhon masih mendekap tubuh Ive yang menangis lebih kencang dari sebelumnya dengan erat. Elia mengeryit bingung karena jelas tadi ia mengingat jika Ive sudah tida lagi mengeluarkan suara tangisnya.


" Ive, tadi kan sudah tidak menangis? kenapa sekarang menangis seperti ini? "


Ive mengulurkan tangan meminta Elia untuk menggendongnya. Elia dengan sigap langsung mengambil Ive dan memeluknya sembari mengelus punggungnya pelan.


" Sayang, Ive kenapa jadi menangis seperti ini? ini kali pertama dia menangis sampai seperti ini. " Elia menatap Jhon karena memang apa yang dia katakan tadi adalah kebenaran. Ive adalah anak yang pendiam dan jarang menangis. Jadi Elia tentu saja merasa kaget melihat Ive menangis seperti habis dipukul.


" Elia, tidak ada apa-apa. Bawa Ive masuk kedalam ya? "


Meski masih tidak puas dan membutuhkan jawaban yang sebenarnya, Elia tidak memiliki pilihan selain mengiyakan titah suaminya yang sudah pasti adalah untuk kebaikannya dan Ive.


" Hei, tuan putri Ayah. Berhentilah menangis ya? Ayah janji akan membawamu ke taman bermain besok bersama dengan Ibu. Ayah akan mengizinkan mu memakan permen disana. Bagaimana? "


Ive perlahan-lahan mengentikan tangisnya meski masih terisak-isak. Gadis kecil cantik itu mengangguk setuju. Sebelum Elia dan Ive pergi, Jhon seperti biasa mencium Ive dan Elia bergantian.

__ADS_1


" Tunggu Ayah ya? Ayah akan menyusul nanti. "


Elia tersenyum lalu meninggalkan Jhon dan Hendrik beserta Ayahnya tanpa niatan sedikitpun untuk menyapa.


Lain dari Jhon yang terlihat bahagia, Hendrick kini tengah kesulitan menahan segala rasa yang seolah siap meledak kapan pun. Padahal dia sudah berusaha membuang Elia dan Ive dari hati dan pikirannya, dia sudah memutuskan untuk fokus kepada Zila dan putra kebanggaan keluarga Dargo yaitu Erlando Dargo. Tapi sialnya begitu sulit untuk dilakukan. Jujur, dia memang memiliki rasa benci kepada Elia. Tapi entah mengapa rasa cinta dari hatinya sulit untuk menghilang. Dengan kata lain, membenci tapi juga mencintai diwaktu bersamaan.


Matanya juga sudah mulai berair mengingat kembali Ive menyebutnya paman. Setelah dua tahun tidak melihat putrinya dengan Elia, ini adalah kali pertama Hendrick melihat putrinya secara langsung. Matanya yang bulat dan dihiasi bulu mata panjang nan lentik, bibirnya yang mungil sama seperti bibir Elia. Sungguh semakin cantik putrinya itu. Hatinya kembali bergetar hebat mengingat wajah putrinya menatap penuh amarah dan memukulinya hanya untuk melindungi Jhon. Pria yang seharusnya dipanggil paman oleh Ive.


Bagaimana bisa seperti ini? putriku, istriku, semuanya menjadi milik Jhon. Bahkan Dargo juga pasti ulah Jhon. Elia, dulu akulah pria yang kau panggil, Sayang. Tapi sekarang? kau bahkan memanggil pria lain degan sebutan Sayang di hadapan ku. Elia, aku tidak berniat untuk lebih mencintai mu. Aku akan sangat membencimu atas semua yang kau lakukan. Kau membiarkan putriku memanggilku paman. Kau akan tahu akibatnya nanti.


Jhon yang sudah duduk sedari tadi hanya bisa menatap dingin ke arah Hedrick yang terus menerus menatap Ive dan Elia yang semakin menjauh dari mereka. Bukan hanya Jhon, Ayahnya Hendrick juga sudah memanggilnya beberapa kali. Tapi pria itu terlalu fokus dengan pemikirannya sehingga telinganya juga kehilangan kemampuan untuk mendengar.


" Apa kalian sudah selesai? " Tanya Jhon dengan tujuan untuk mengentikan tatapan Hendrick yang seolah tengah menandai mangsanya.


" Hendrick? " Panggil lagi Ayahnya Hendrik. Karena masih tak mendapatkan respon, Ayahnya Hendrick memutuskan untuk meraih tangan Hendrick dan menariknya agar kembali duduk seperti sebelumnya.


" Kalau memang sudah selesai, bisa tinggalkan rumah ini? aku sangat lelah. Dan aku juga harus menidurkan Ive. "


Hendrick kini mengepalkan kedua tangannya kuat. Rasanya dia begitu muak mendengar ucapan Jhon barusan.


Kenapa dia bertingkah seolah-olah Ive adalah anak kandungnya? apa dia tidak malu mengakui Ive didepan ayah biologisnya? dasar tidak tahu malu!

__ADS_1


Hendrick membayangkan betapa dekat Ive dan Jhon. Tapi saat melihat Ive tadi, sudah bisa Hendrick pastikan kalau mereka pasti sangat dekat. Sungguh sangat berbeda jauh darinya. Padahal dia selalu bersama putranya Erlan. Diluar negeri saat masa pemulihan juga selalu ditemani Zila dan Erlan. Tapi tidak sekalipun dia pernah menemani Erlan tidur atau menenangkan Erlan seperti Jhon menenangkan Ive tadi. Bukan tanpa alasan, karena budaya Dargo yang membiasakan anak-anak selalu di urus oleh pengasuh hingga mandiri, juga dari Hendrick yang kurang mendekatkan diri dan mencoba mengasuhnya. Alhasil, Erlan juga tidak terlalu dekat dengannya maupun dengan Zila. Memang, Erlan memanggilnya Ayah, tapi pasti anak itu bekum tahu apa hang disebut Ayah ataupun Ibu di usia ini.


" Sampai kapan kalian akan terus diam seperti ini? apa kalian hanya ingin membuang waktu ku saja? "


Hendrick kembali menguasai dirinya setelah mendengar beberapa kalimat yang di ucapakan Jhon. Dia kembali menajamkan tatapannya dengan rasa berani yang lahir dari kepercayaan diri. Hendrick lurus menatap Jhon seolah tidak ada takut di dalam hidupnya.


" Kau harus mengembalikan semua saham yang kau rampok dari kami. "


Jhon terkekeh. Tapi tunggu, Jhon bukan terkekeh dengan tatapan heran. Tapi lebih kepada hinaan atas semua kebodohan yang dilakukan Hendrick dan Ayahnya.


" Kau sinting ya? " Jhon membenahi posisi duduknya dan terlihat lebih santai bagaikan Hendrik beserta Ayahnya tidaklah ada apa-apanya untuk bisa disebut ancaman.


" Jhon, aku akan melalukan semua cara untuk membuktikan bahwa kau adalah penyebab semua ini. "


Jhon menghela nafasnya. Entahlah, rasanya melihat Hendrick begitu menggebu-gebu membuatnya lebih semangat lagi untuk melakukan lebih.


" Silahkan saja. Apa yang sedang kau bicarakan dan apa tujuan mu itu, semoga kau berhasil. "


Setelah mengatakan itu, Jhon menunjuk pintu keluar melalui tatapan matanya. Tentu saja Hendrick dan Ayahnya sudah paham apa maksud bajingan gila itu. Mereka langsung bangkit masih dengan wajah yang kesal menuju pintu utama.


" Dasar bodoh! disaat begini, kau malah ingin mencari bukti tentangku. Hendrick, saat kau melakukan itu nanti, kau pasti tidak bisa fokus kepada Dargo Company. Kau ini waras atau tidak sebenarnya? kenapa kau malah memberiku kelancaran tanpa kau sadari?. " Gumam Jhon sembari menatap punggung sepasang anak dan Ayah itu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2