
Seperti yang sudah direncanakan. Zila pergi ke hotel yang sudah di sepakati dengan Jhon. Bukan Zila namanya jika tidak memakai cara seperti seorang wanita murahan. Sebelum dia datang ke hotel, dia sudah mempersiapkan segalanya. Mulai dari lingerie, obat perangsang karena dia tidak ingin gagal, kamera tersembunyi juga sudah ia pasang secara diam-diam untuk ia gunakan nanti. Zila juga sudah menyiapkan sebotol anggur di sana.
" Elia, lihatlah. Pria setampan dan sehebat Jhon saja bisa tergoda oleh ku. Kau hanya lumayan cantik, tapi kau bodoh karena tidak bisa mempertahankan nya. "
Zila tersenyum bahagia sembari memandangi tubuhnya yang sudah menggunakan lingerie. Memang tubuh Zila lumayan menarik juga. Dada dan bokongnya benar-benar mendukung untuk memuaskan laki-laki. Tapi sayang, semua kelebihan yang ia miliki malah di salah artikan dan menjadikan Zila bagai monster sekarang ini.
Tiga jam sudah berlalu, tapi Jhon masih juga belum datang. Zila yang semakin gundah akhirnya memutuskan untuk menghubungi Jhon. Enam panggilan masih lah belum mendapat jawaban, dan pada saat panggilan telepon yang ketujuh, akhirnya Jhon menerima panggilan itu.
Iya?
" Jhon, apa masih lama? aku sudah tiga jam menunggu mu. " Ujar Zila berucap manja.
Maaf, aku sedang ada meeting tadi. Mungkin aku bisa sampai di sana saat malam. Bagaimana?
" Oh, tidak apa-apa Jhon. Aku akan menunggu mu. Sampai bertemu lagi, sayang. " Zila tersenyum saat panggilan teleponnya berakhir.
" Kasihan sekali kamu, Elia. Sebentar lagi, aku lah yang akan menjadi Nyonya Damien. Kau dan juga putri menyebalkan mu itu harus enyah dari sana. " Zila cekikikan membayangkan betapa indahnya jika hari itu tiba nanti.
***
" Wanita ini benar-benar membuat ku merinding. " Ucap Jhon yang di tanggapi lucu oleh Rendra dan Ken.
" Aku rasa, dia pasti sudah menyiapkan semua nya dengan matang. " Ujar Rendra.
__ADS_1
" Tentu saja. Bukankah kita semua tahu? dia sudah sangat profesional. " Ujar Ken.
" Aku benar-benar heran dengan mu. Kenapa kau sangat menginginkan tubuh wanita itu? " Tanya Jhon heran sembari menatap Rendra bingung.
Rendra tersenyum lalu menghela nafasnya.
" Aku hanya penasaran bagaimana rasanya dia sekarang? "
" Apa dia begitu membuat kecanduan? " Tanya Jhon dengan tatapan aneh yang lebih menjurus ke jijik.
" Tidak juga sih, bagian itu nya ya biasa saja. Tapi cara dia saat berhubungan badan itu sangat luar biasa. Aku tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga tapi aku bisa merasa puas. " Jawab Rendra berterus terang.
" Dasar gila! " Maki Jhon.
Saat malam hari, seperti janji Zila dan Jhon, kali ini Jhon dulu lah yang menghubungi Zila.
" Zila, aku baru saja bertemu dengan sahabat lama. Saat ini aku agak mabuk. Apa tidak apa-apa aku datang dengan keadaan begini? "
Tidak apa-apa Jhon. Datanglah, aku sudah menunggu mu.
" Baiklah, tolong matikan lampunya ya? aku tidak percaya diri dengan penampilan ku kalau lampunya menyala. "
Iya. Tentu saja. Yang penting kau datang aku sudah sangat bahagia.
__ADS_1
" Baiklah. Aku kesana sekarang. " Jhon mengakhiri panggilan teleponnya.
" Ini. " Jhon menyerahkan jam tangan yang ia gunakan dan juga botol parfum yang ia gunakan hari ini kepada Rendra.
" Ok. " Rendra tersenyum menerima semua barang dari Jhon. Dia juga sudah di mendandani dirinya agar lebih mirip dengan Jhon. Mulai dari potongan rambut, dan juga setelan jas yang Jhon gunakan saat ini. Ditambah lagi jam tangan dan juga parfum, tentu saja akan semakin mirip dengan Jhon.
Setelah empat puluh menit di perjalanan, kini Rendra telah tiba di sebuah hotel yang sudah dijanjikan dengan Zila. Rendra kembali melajukan langkah setelah memarkirkan mobilnya. Setelah sampai di depan pintu kamar Zila, Rendra memakai kaca mata hitam nya untuk berjaga-jaga. Sekali dia menekan bel, ternyata sudah di bukakan pintu oleh Zila. Rendra mengeryit karena tak mendapati Zila disana karena hanya pintunya saja yang dibuka. Apa dia sedang di jebak? batin Rendra menebak-nebak. Tapi dari pada diam dan mematung, Rendra akhirnya memilih untuk masuk saja kedalam.
" Jhon? " Panggil Zila yang ternyata ada di balik pintu. Rendra tak bersuara dan hanya bisa memandangi tubuh Zila yang terbalut lingerie transparan. Tidak munafik, melihat tubuh Zila tentulah dia merasa terpancing. Tapi dia juga tidak bisa begitu saja menunjukkannya karena kepribadian Jhon bukanlah orang yang seperti itu.
Zila melajukan langkahnya di tengah ruangan yang samar-samar karena lampu utama sudah di matikan. Jujur, ini juga membuat Zila lebih percaya diri karena bisa menutupi stretmarck yang timbul karena mengandung Erlan.
" Jhon, aku sudah lama menunggu mu. Aku juga sudah lama menantikan ini, Jhon. " Zila kini sudah mendekati tubuh Rendra lalu mengusap dadanya lembut. Rendra yang memang sangat mudah terprovokasi kini sedang kalang kabut menahan diri dari godaan Zila. Kalai dia bertingkah layaknya diri sendiri, Zila pasti akan curiga nantinya. Rendra menjauhkan tangan Zila darinya untuk menunjukkan teknik tarik ulur.
" Jhon, jangan terlalu kaku. Tidak ada Elia atau siapapun selain kita berdua. Ayolah, Jhon. Aku janji ini hanya akan menjadi rahasia kita. " Bujuk Zila.
Rendra kembali menjauhkan tangan Zila yang sudah mulai memegang pipinya. Juju, awalnya Zila merasa agak berbeda dari Jhon. Tapi saat mengendus parfum dan juga merasakan jam tangan yang sama dengan tadi pagi serta penolak kan Jhon yang seperti biasa, Zila semakin yakin jika itu adalah Jhon.
" Jhon, lihatlah. Aku melakukan ini hanya untuk mu, Jhon. " Zila meraih kedua tangan Rendra lalu meletakkan di bagian dada nya. Tidak sampai disitu, Zila juga menuntun tangan Rendra untuk meremas bagian itu. Untuk yang kali ini, Rendra benar-benar tidak bisa mengelak. Dia membiarkan saja Zila melakukan apapun karena dia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Setelah cukup lama di bagian dada, Zila menurunkan sebelah tangan Rendra kebagian intinya. Dia menuntun tangan Rendra untuk mengusap-usap bagian itu. Luar biasa! ini baru kali pertamanya bagi Rendra di ajari ha seperti ini seperti anak TK. Kalau saja tidak dalam penyamaran, sudah pasti Rendra akan beraksi sedari tadi.
Zila mulai menggelinjang saat bagian intinya terus diusap pelan menggunakan sedikit tekanan. Sungguh dia begitu bahagia dan merasakan perbedaan saat melakukan dengan Hendrick.
" Em, iya begitu Jhon. " Lenguh Zila saat tangan Rendra dengan lancar memainkan titik inti sensitif milik Zila.
__ADS_1
Merasa tidak nyaman melakukan pemanasan dengan berdiri, Zila menuntut Rendra menuju tempat tidur yang sudah ia siapkan. Padahal tadinya dia ingin mencekokki Jhon obat perangsang, tapi sepertinya sudah tidak perlu lagi karena Jhon yang sebenarnya Rendra sepertinya sudah mulai terpancing oleh apa yang dia lakukan tadi.
TBC