
Pagi hari yang cerah secerah hati Elia dan Jhon. Sepasang suami istri yang tengah dimabuk cinta itu masih enggan untuk bangkit dari tempat tidur. Apalagi hangat tubuh yang saling memeluk terasa begitu hangat dan menyenangkan. Elia dan Jhon tak henti-hentinya saling menatap dengan tubuh yang masih saling memeluk. Seperti inilah sepasang insan yang tengah saling jatuh cinta itu. Mereka tak henti-hentinya saling melempar senyum sebelum merasa puas untuk saling memandang.
" Jhon, ini kan sudah pukul tujuh pagi. Apa kau masih ingin begini terus menerus? "
Jhon memindahkan tangannya tangannya untuk menyentuh wajah Elia. Dia mencium mesra bibir Elia lalu menatap lekat wajah cantik Elia setelahnya. Jhon kembali tersenyum saat Elia juga tersenyum menatapnya. Entah mengapa juga dia merasa sangat betah bahkan lebih dari biasanya. Memandangi wajah Elia memang mampu membuat suasana hatinya terasa begitu damai. Melihat senyumnya, tatapan penuh kasihnya, semua tentang Elia seolah indah baginya.
" Jhon? "
" Em? "
" Bangun dan mandilah sana. Ini sudah pukul tujuh. " Ucap Lagi Elia karena biasanya Jhon sudah rapi di jam segini.
" Tidak ada yang begitu penting hari ini. Aku akan datang lebih siang sembari menunggu kabar dari Rendra. " Jhon kembali merengkuh tubuh Elia dan mendekapnya erat.
" Ayo tidur sebentar lagi. Lagi pula Ive bersama Yana kan? " Elia tersenyum lalu mengangguk.
" Jhon! "
" Em? "
" Kau bilang mau tidur lagi kan? kenapa tangan mu tidak bisa diam dan tiba-tiba ada disana? " Protes Elia karena tangan Jhon tidak bisa diam meski matanya terpejam.
" Maksudku, membuat yang ada dibawah sana tertidur. " Ucap Jhon dan langsung mengubah posisinya untuk mengukung Elia.
" Kau sangat licik dan mesum. " Ucap Elia.
" Tapi aku tahu kau menyukainya. " Elia hanya bisa tersenyum dan mulai menikmati sentuhan demi sentuhan yang Jhon berikan kepadanya.
Hari sudah beranjak siang, dan sekarang inilah Jhon dan Elia baru keluar dari kamar. Jika saja Elia tidak mengeluh lapar, Jhon pasti masih ingin menahannya lebih lama.
" Jhon, kau mau ini? " Tanya Elia sembari menyodorkan ikan bakar untuk Jhon. "
" Iya, nasinya sedikit saja. "
Elia menyendok kan nasi beserta sayuran laku ikan bakar yang sudah disiapkan oleh pelayan. Tidak ada Ibu Sofia ataupun Jehan, karena ini sudah lewat sarapan dan bahkan hampir mendekati makan siang. Tentulah ini membuat Jehan dan Yana bertanya-tanya karena begitu penasaran.
" Yana, mereka jam segini baru keluar kamar memang mereka sedang melakukan apa? " Tanya Jehan setengah berbisik sembari menatap Elia dan Jhon dari kejauhan.
" Nona Jehan, Nona ini benar-benar polos atau pura-pura sih? masa Nona tidak tahu? "
__ADS_1
Jehan mengeryit bingung lalu menatap Yana yang tengah menyuapi buah untuk Ive.
" Aku sih bukanya tidak punya dugaan, tapi aku kan juga butuh kepastian. " Ucapan Jehan sontak membuat Yana terkekeh geli.
" Kepastian apa Nona? "
" Kepastian kalau dugaan ku itu benar. "
Yana kembali menahan tawa mendengar jawaban Jehan, apalagi saat melihat ekspresi gadis cantik itu, rasanya Jehan memang begitu lugu.
" Nona Elia adalah wanita yang sangat cantik. Siapa laki-laki yang akan membiarkannya menganggur begitu saja? dan Tuan kan juga sangat tampan dan terlihat gagah. Sudah pasti mereka sulit menahan diri, Non. "
Jehan menelan salivanya sendiri mendengar ucapan Yana. Yana memang seorang janda tanpa anak. Tentulah dia lebih paham tentang yang beginian kan?
***
Setelah selesai menikmati makanannya, Jhon yang tadinya ingin menghubungi Ken akhirnya teralihkan saat ada panggilan masuk dari Rendra.
" Bagaimana? " Tanya Jhon saat panggilan teleponnya sudah terhubung.
Sesuai dugaan, Hendrick mulai menyadari ada ya g tidak beres.
" Lalu, apa tindakan yang akan dia ambil selanjutnya? "
" Bagus. Pantau terus, dan lindungi para peretas kita. "
Sudah kulakukan bersama Ken.
" Jangan lengah dan jangan sampai dia memiliki kecurigaan terhadap ku. Kau tahu apa resikonya kan? "
Tentu saja aku tahu. Kalau sampai kau kena, aku akan kehilangan segalanya.
" Baiklah, bersihkan ponsel mu sebelum rapat dewan direksi di mulai. "
Baik. Akan aku lakukan. Ken sudah bersiap di titik. Aku akan mengambil peranan ku sebentar lagi. Tunggu saja kabar selanjutnya dariku.
" Ok. "
Jhon tersenyum setelah mematikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
" Rupanya pria bodoh itu tidak sebodoh yang aku kira. Cepat juga dia sudah mengendus adanya yang tidak beres. Tidak masalah, walaupun terbongkar hari ini, Sembilan puluh persen lebih saham dari Dargo sudah berpindah tangan. Selamat menikmati permainan ini, Hendrick dan Dargoku tercinta. "
Elia yang mendengar ucapan Jhon merasa sedikit gak senang. Entah bagaimana bisa dia menjelaskan betapa anehnya situasi hatinya saat ini. Rasanya melihat Jhon benar-benar melakukan itu membuat hatinya bergetar kelu. Benar, dia sudah diberi tahu tentang rencana ini. Tapi saat hari itu tiba, perasaanya tiba-tiba menjadi kacau dan tidak jelas apa mau nya. Ada rasa takut, iba, dan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan hanya dengan kata-kata.
Jhon, apakah saat aku melakukan kesalahan kau juga akan menghukum ku seperti ini? entah mengapa aku tiba-tiba merasa takut.
Setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku, Jhon mengeryit bingung saat manik matanya tak sengaja melihat Elia yang terlihat murung.
" Ada apa? " Tanya Jhon.
Elia tersentak dan langsung tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari Jhon.
" Tidak. Aku tidak apa-apa. "
" Apa kau sedang mengkhawatirkan Hendrick? " Tanya Jhon dengan tatapan menyelidik.
" Apa aku terlihat seperti mengkhawatirkan Hendrick? "
Jhon menghela nafas. Kini wajahnya terlihat sedikit kesal entah apa alasannya.
" Aku tidak tahu, maka dari itu aku bertanya padamu, Elia. "
Elia menatap Jhon tapi tak berniat untuk menjawab lagi ucapan Jhon. Melihat dari wajah nya, pria itu terlihat kesal dan entah apa alasannya.
" Aku ke kamar dulu. Aku akan menyiapkan pakaian dan perlengkapan mu dulu. " Elia bangkit dan langsung menuju kamar mereka tanpa menghiraukan lagi wajah Jhon yang terlihat kesal.
Jhon menghela nafas kasarnya menatap nanar punggung Elia yang semakin menjauh darinya.
" Elia, aku benar-benar membutuhkan jawaban mu. Kalau sampai kau mengkhawatirkan Hendrick, aku benar-benar akan menginjaknya saat dia terperosok dan jatuh nanti. "
Sudah hampir sepuluh menit Jhon berada di meja makan sembari menunggu Elia keluar dari kamar. Tapi nyatanya Elia tidak juga kunjung datang. Karena tidak mau membuang waktu untuk menunggu, Jhon akhirnya memutuskan untuk menyusul Elia ke kamar.
Baju dan perlengkapan lainya sudah berada di atas ranjang. Tapi Jhon tidak mendapati Elia disana.
" Elia? " Panggil Jhon. Beberapa kali Jhon memanggil, akhirnya Jhon bisa tahu kalau Elia berada di dalam kamar mandi.
" Elia? " Jhon langsung mendekati Elia saat dia sudah keluar dari kamar mandi.
" Ada apa? " Tanya Elia bingung meski sebenarnya dia merasa sedikit lebih canggung.
__ADS_1
" Beri tahu aku. Apa yang sedang kau pikirkan? "
TBC