
Sesuai dengan janji yang kemarin Jhon ucapkan kepada Ive, hari ini Jhon, Ive dan Elia tengah mengunjungi sebuah tempat wisata untuk bermain disana. Dari jarak yang lumayan jauh Jhon terus tersenyum mengawasi Elia dan Ive. Memang benar dia selalu membawa beberapa orang untuk menjaga Elia dan Ive, tapi tentulah mereka tidak bisa menonjolkan diri karena tidak baik juga bagi Elia dan Ive kalau terus diawasi secara terang-terangan.
Jujur, ini memang bukan kali pertama dia mendatangi tempat semacam ini. Dulu, dia dan Lusiana sangat menyukaiukan tempat bermain seperti ini. Lusiana adalah sosok gadis yang begitu kekanak-kanakan dan menyukai hal-hal yang kadang seperti anak-anak sepuluh tahun. Mulai dari meminta lollipop, meminta kembang gula, memakai Bando kepala yang menyala-nyala. Memang tidak semudah itu melupakan masa lalu, tapi Jhon paham jika masa depan jauh lebih penting untuk dipikirkan. Elia memang bukan wanita pertama baginya, begitu juga Jhon yang bukan laki-laki pertama di dalam hidup Elia. Tapi hanya satu yang harus dijaga dengan baik saat ini dan esok. Yaitu selalu bersama dengan Elia dalam keadaan apapun.
Bagaimana wanita secantik dirimu bisa hadir di dalam hidupku yang kacau ini? bagaimana cara mu memperlakukan ku sehingga aku begitu terjerat oleh mu? Elia, entah apa jadinya kalau kau menghilang dari hidupku.
Mata Jhon terus menatap Elia dan Ive yang tengah menaiki bianglala. Senyum manis nan cantik begitu jelas di wajah Elia dan Ive. Awalnya memang dia merasa agak kaget dengan cara Elia memperlakukannya. Mulai dari menyiapkan baju, makanan, dan keperluan yang lainya. Dulu saat bersama Lusiana, Jhon bahkan tidak pernah membiarkan Lusiana melakukan apapun karena saat menyiapkan baju Jhon sering merasa tidak cocok. Lama kelamaan Lusiana mulai merasa sebal dan tidak lagi menyiapkan baju untuk Jhon. Mungkin saat itu cinta yang Jhon miliki begitu besar hingga tidak merasa keberatan dengan hak itu, atau mungkin karena tidak ada hubungan pernikahan yang membuat Jhon begitu cuek?
Setelah beberapa saat, Elia dan Ive kembali ke kursi dimana Jhon tengah duduk disana. Sebuah bangku yang lumayan panjang di bawah pohon. Hawa memang masih terasa panas, tapi berada di bawah pohon lumayan menetralkan panas yang seolah mendidih di kepalanya.
" Sayang, kita pulang saja ya? Ive sudah rewel. " Baru saja Elia selesai berucap, Ive sudah mulai menangis karena merasa begitu panas dan terik. Maklum saja, Ive hampir tidak pernah keluar dari rumah sehingga ia begitu kaget dengan cuaca panas yang melanda saat siang hari.
Melihat Ive yang mulai kencang menangis, Jhon langsung mengambil Ive dari gendongan Elia lalu menepuk punggungnya pelan.
" Tidak apa-apa, sayang. Kita pulang saja ya? Ayah akan membawa bianglala itu ke rumah untukmu bermain sepuasnya ya? "
" Ayah..... " Panggil Ive sembari menggaruk lengannya karena keringat yang menimbulkan rasa gatal akhirnya tidak tertahankan lagi.
" jangan, sayang. " Jhon menahan tangan Ive dan mulai mengusap lengan Ive perlahan.
" Jangan menggaruknya terlalu kuat, apalagi menggunakan kuku. Kita pulang sekarang ya? " Ive mengangguk.
Elia, Jhon dan Ive akhirnya kembali ke mobil sebelum tubuh Ive memerah karena dia terus mencoba menggaruknya.
__ADS_1
Ditempat yang yang tak jauh dari mereka tadi berada, rupanya ada sepasang mata yang memperhatikannya dengan tatapan sendu. Awalnya saat melihat Jhon berada di sana, dia seperti sedang bermimpi. Perlahan dia mencoba untuk mendekati tapi Elia dan Ive datang dan membuat langkahnya terhenti. Dia hanya bisa menetap kepergian mereka dengan perasaan sedih dan kecewa begitu dalam.
Jhon, apa sudah secepat itu rasa di hatimu menghilang?
Sesampainya dirumah, Jhon dengan telaten mengoleskan cream di kulit Ive agar tidak iritasi karena memang sudah mulai me merah.
" Sayang? " Panggil Elia sembari berjalan ke arah Jhon dan Ive. Jhon langsung menoleh ke arah Elia dengan tatapan bertanya.
" Ada panggilan telepon. " Elia menyerahkan ponsel Jhon kepadanya.
" Bisa tolong jawab? " Jhon mengangkat tangannya untuk memberi tahu kepada Elia bahwa tangannya tengah memegang krim dan sebelah lagi juga ia gunakan untuk membalur tubuh Ive dengan krim itu. Elia mengangguk dan menerim panggilan telepon itu.
" Hallo? " Elia mengeryit bingung sembari menjauhkan ponsel dari telinga dan melihat nomor yang menghubunginya.
" Maaf, kalau anda ingin bicara dengan suami saya, anda bisa mengatakan sekarang. Aku akan segera memberikan ponsel ini. " Seba karena masih tak ada jawaban, Elia akhirnya memberikan ponsel itu kepada Jhon dan langsung menempelkan di telinga Jhon.
" Sayang, orang ini tidak mau bicara. Mungkin dia hanya ingin bicara dengan mu. " Ucap Elia setelah menempelkan ponsel ditelinga Jhon.
" Apa ada nama kontaknya? " Jhon malah menatap Elia agar mendapatkan jawaban. Padahal bisa langsung bertanya siapa disana kan?
" Tidak ada. " Jawab Elia singkat.
" Matikan saja. Di ponsel ku hanya menerima panggilan dari Ken, Ibu, Jehan, dan kau. " Meskipun masih bingung, Elia mengikuti saja apa yang dikatakan oleh Jhon.
__ADS_1
" Sayang, apa tidak apa-apa mematikan sambungan telepon itu begitu saja? aku rasa, dia pasti hanya ingin berbicara dengan mu. " Ujar Elia yang entah mengapa merasa aneh dengan orang yang menghubungi Jhon tapi tidak mau mengatakan apapun saat ia terus bertanya.
" Tidak apa-apa. Aku tidak ingin meladeni orang yang penting. " Jawab Jhon tapi dia masih begitu fokus mengurus Ive.
" Jadi aku termasuk penting ya? " Goda Elia lalu tersenyum manis saat mata Jhon terarah padanya sesaat. Karena Jhon tidak menjawab, Elia akhirnya menoel dagu Jhon lalu kabur begitu saja.
" Benar-benar menguji kesabaran. " Gumam Jhon lalu segera memakaikan kembali baju Ive karena memang sudah selesai.
" Sayang, ikutlah sebentar dengan bibi Yana ya? Ayah harus segera menyelesaikan sesuatu yang penting. " Ive mengangguk cepat. Jhon akhirnya membuka pintu kamarnya dan memanggil Yana untuk membawa Ive pergi bermain. Sesuai perintah, Yana membawa Ive pergi ke taman belakang, dan sekarang waktunya untuk mengurus induknya Ive yang berani-berani menggodanya.
" Elia! " Panggil Jhon sembari mengetuk pintu kamar mandi karena tahu kalau Elia berada di dalam.
" Tunggu! " Jawab Elia seru karena memang belum selesai acara mandinya.
" Buka sekarang, aku sudah tidak tahan ingin membuang air kecil. " Ucap lagi Jhon.
Elia menghela nafas lalu meraih handuk yang tergantung di dalam kamar mandi lalu melilitkan ke tubuhnya. Dengan rambut yang masih dipenuhi busa, tubuh yang terus saja meneteskan air, Elia membuka pintu dan menatap sebal Jhon yang begitu tidak sabaran.
" Jhon, kau kan bisa ke kamar mandi sebelah. " Ujar Elia.
" Kenapa aku harus ke sebelah kalau kau ada disini? "
" Eh? " Elia menatap bingung. Tali saat melihat senyum miring dari bibir Jhon, Elia hanya bisa terperangah heran.
__ADS_1
TBC