Second Husband

Second Husband
Episode 52


__ADS_3

Satu bulan terlewati dengan begitu damai. Tidak ada Dargo yang menyalahkan Jhon seperti beberapa saat lalu ketika mereka baru saja terperosot dan kehilangan sumber mata uang terbesarnya. Sekarang Dargo juga sudah mulai kembali merintis usahanya dari nol. Dari kabar yang Jhon dapatkan dari Ken, Hendrick dan Ayahnya menjual beberapa aset atas nama mereka sebagai modalnya.


Pagi ini seperti biasa, Jhon akan terus mendekap tubuh Elia sampai dia benar-benar ingin bangun. Ive juga sudah dipindahkan ke kamarnya sendiri atas saran dari Ibu Sofia. Tentulah saran itu dengan cepat di setujui oleh Jhon. Bukanya tidak ingin tidur dengan Ive lagi, hanya saja akan lebih leluasa saat melakukan hubungan suami istri tanpa harus menahan lagi suara desahannya kan? terkadang Jhon juga mulai merasa kesulitan saat harus benar-benar menahan diri karena takut akan mengganggu tidur Ive jika ia mengeluarkan suara.


" Jhon,.. " Panggil Elia.


" Sayang. Kau sudah berjanji memanggil ku seperti itu, tapi kau sering lupa. " Ucap Jhon tanpa membuka matanya.


Elia menghela nafas lalu mengubah posisinya agar berhadapan dengan Jhon. Benar, dia memang sudah berjanji dan juga sering mengingkari janji itu. Karena saat merasa sebal, dia akan langsung memanggil Jhon dengan namanya. Tapi saat sedang dalam situasi hati yang baik, dia akan memanggil Jhon dengan panggilan sayang.


" Ini sudah pukul tujuh. Mau sampai kapan kau mengukung ku begini? kau tidak mau bekerja? "


Jhon membuka matanya dan langsung menatap manik mata Elia yang tengah menatapnya juga. Mungkin, hal sederhana ini adalah hal biasa bagi sebagian orang. Tapi bagi Jhon, bisa terus melihat mata indah Elia terbuka dan bibirnya yang selau mengomel seperti kebanyakan Ibu rumah tangga lainya adalah hal yang paling ia syukuri setiap saat. Perasaan cinta yang semakin tumbuh setiap harinya menjadikan Jhon selalu protektif dengan Elia. Mulai dari tidak boleh ikut memasak atau terlalu lama menjaga Ive, melarang Elia membawa benda yang terlihat berat. Entahlah, itu semua seperti sudah menjadi tradisi yang wajib dipatuhi selama beberapa pekan terakhir.


" Syukurlah kau masih cerewet. " Ucap Jhon tanpa ekspresi dan malah kembali memeluk tubuh Elia lebih erat dari sebelumnya.


" Jhon! "


" Jangan memanggilku begitu. "


" Jhon Jhon Jhon Jhon Jhon Jhon Jhon. " Ledek Elia yang merasa kesal. Iya tentu saja kesal. Karena Ibu Mertuanya pasti akan menggodanya habis-habisan setia Elia dan Jhon kesiangan.


Merasa terprovokasi, Jhon akhirnya bangkit dan langsung merengkuh tubuh Elia. Tentu saja Elia kaget. Hanya dengan satu gerakan, sekarang tubuhnya sudah ada dibawah kungkungan suaminya itu.


" Jhon! apa yang mau kau lakukan? " Tanya Elia dengan tatapan sebal.


Seperti biasa, Jhon hanya akan sedikit tersenyum lalu mengatakan sesuatu di telinga Elia.


" Melakukan apa yang sedang kau pikirkan. " Jawab Jhon.

__ADS_1


Pipi Elia seketika merona dibuatnya. Bagaimana tidak, bibir Jhon saat berucap meninggalkan hembusan hangat yang membuat darah ditubuhnya berdesir, hawa sebal yang beberapa detik lalu Elia rasakan juga perlahan menghilang entah kemana. Mata Jhon dan Elia kini juga berada di satu garis lurus yang membuat mereka saling menatap penuh cinta. Iya, cinta di mata Jhon bisa Elia lihat dengan jelas meskipun Jhon sama sekali tidak pernah mengungkapkan nya.


Perlahan Jhon mulai melakukan aksinya dengan lembut. Meskipun kelembutan itu hanya berlaku pada sebuah ciuman, karena setelahnya, Jhon akan menjadi Jhon yang agresif dan sangat buas.


Beberapa saat kemudian.


Elia bangkit perlahan dari posisinya. Dia menoleh mencari kemana suaminya pergi. Degan langkah hati-hati karena kedua kakinya bergetar hebat, Elia menuju kamar mandi.


" Apa dia sudah berangkat ke kantor? " Gumam Elia setelah mendapati suaminya yang tidak ada di dalam. Elia kembali melajukan langkah untuk membersihkan diri sebelum waktu makan siang terlewat.


***


" Tuan, ini beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tangan anda. Saya sudah memeriksanya beberapa kali. Semuanya baik-baik saja. Tapi untuk lebih memastikan, anda lebih baik memeriksanya kembali, Tuan. " Ucap Ken setelah menyerahkan beberapa dokumen kepada Jhon.


Jhon mengangguk lalu membaca singkat beberapa dokumen sebelum di tanda tangani. Bukanya tidak mempercayai Ken. Hanya saja ketelitian adalah prioritas utama Jhon dalam mengerjakan sesuatu termasuk menyetujui dokumen.


" Ini. " Jhon menyerahkan dokumen itu kembali kepada Ken.


" Tunggu! " Cegah Jhon.


" Iya, Tuan. "


" Kau memiliki kekasih? " Tanya Jhon yang sukses membuat Ken mengeryit bingung.


" Kenapa kau diam? " Tanya lagi Jhon karena tidak mendapatkan jawaban dari Ken.


" Saya takut salah dengar, Tuan. "


Jhon menghela nafasnya.

__ADS_1


" Apa kau memiliki kekasih? "


" Tidak, Tuan. Saya tidak tertarik dengan hubungan asmara. " Jawab Ken. Memang dari awal Ken sama sekali tidak tertarik dalam hubungan asmara. Dia hanya fokus membalas dendam kepada Dargo dan tidak pernah memikirkan apapun selain itu.


" Kenapa? bukankah usiamu juga sudah cukup untuk menikah? "


Ken terdiam sesaat. Benar, memang usianya juga sudah cukup untuk menikah. Karena usianya dan Jhon hanya berbeda beberapa bulan saja. Tai entahlah, dia hanya tidak pernah memikirkan hal semacam itu sedikitpun.


" Saya tahu, Tuan. Tapi saya tidak perduli dengan hal itu. Lagi pula, saya hanya punya satu tujuan dalam hidup. Dan untungnya, menikah bukanlah hak yang diharuskan. " Ujar Ken dengan mimik wajah yang meyakinkan.


Jhon kini intens menatap Ken. Bukanya ingin memaksa, tapi Ken adalah orang yang sangat baik dan kompeten. Dibalik wajah yang arogannya itu, tersimpan hati yang lembut dan penyayang. Ken sama sekali tidak pernah arogan dengan uang yang ia miliki. Dia selalu memberikan delapan puluh persen gaji dari Jhon kepada beberapa panti asuhan. Itu lah alasannya Jhon diam-diam menyisihkan beberapa aset untuk Ken. Mulai dari rumah, investasi, saham, dan juga tabungan.


" Ken, jika aku meminta mu untuk menikah, apa kau akan menyetujuinya? "


Ken sontak menatap manik mata Jhon dengan alis yang mengeryit bingung. Ini adalah hal yang paling membuatnya dilema hingga tidak tahu harus menjawab apa. Dia sendiri benar-benar tidak memikirkan tentang pernikahan, tapi kalau sudah Jhon yang memintanya, bagaimana caranya untuk menolak?


" Tuan, saya tidak memiliki wanita untuk saya nikahi. Jadi tolong, jangan- "


" Menikahlah dengan Jehan. "


Ken semakin terkejut mendengar ucapan Jhon yang begitu penuh keyakinan. Jehan memang memiliki paras yang menawan serta tubuh yang begitu proporsional. Tapi bagaimana bisa dia menikahi adik dari Tuannya sendiri?


" Tuan, Nona Jehan kan adik anda. Kenapa anda ingin saya menikahi adik anda? "


Jhon bangkit dari duduk nya dan berjalan tepat dihadapan Ken. Dia meraih pundak Ken dan menatapnya tegas.


" Justru karena dia adalah adikku, aku merasa adikku akan aman saat bersama mu. Kau tahu kan? adikku sangat cerewet, ceroboh dan sangat malas. Tidak ada pria yang bisa menerima dan melindungi gadis menyebalkan itu selain kau. "


Ken terdiam dengan pertimbangan yang begitu membingungkan di hati nya. Ken menatap manik mata Jhon yang begitu mengahrapkan persetujuan darinya.

__ADS_1


" Baiklah, Tuan. "


TBC


__ADS_2