Second Husband

Second Husband
Episode 37


__ADS_3

Hari ini berjalan sebagai mana mestinya, Jhon berangkat bekerja setelah selesai sarapan. Elia kembali ke kamar untuk memandikan Ive bersama Yana. Ibu Sofia mulai sibuk merawat bunga-bunga kesayangannya yang semakin hari semakin tumbuh subur, dan dengan indahnya saling bermekaran dengan aroma wangi yang semerbak menyegarkan udara. Jehan yang masih dalam suasana hati yang sebal, memilih untuk kembali ke kamar dan sibuk dengan media sosial nya.


Setelah membersihkan Ive, Elia dan Yana keluar dari kamar lalu berniat menyusul Ibu Sofia yang sudah Elia ketahui keberadaanya.


" Ibu? " Panggil Elia sembari berjalan mendekati ibu Sofia yamg tengah memotong daun-daun bunga yang termakan oleh ulat.


" Hei, cucu Nenek sudah wangi ya? " Ibu Sofia mengajak Ive berbicara tanpa menyentuh karena tangannya tengah kotor.


" Dia kan bukan cucu Ibu? " Sela Jehan yang baru saja tiba dan gak sengaja mendengar ucapan Ibunya.


Ibu menatap Jehan dengan tatapan marah. Sedangkan Elia tertunduk karena apa yang dibicarakan oleh Jehan adalah sebuah kebenaran. Yana ya g tidak mengetahui apa-apa hanya bisa diam tanpa ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Baginya sudah cukup memiliki majikan seperti Elia dan Ibu Sofia yamg begitu perduli dan tidak merendahkannya sebagai salah satu pekerja.


" Jehan! sejak kapan mulut mu begitu tidak sopan? " Ibu masih menatap kesal Jehan meski tak ia sampaikan secara langsung.


Jehan terdiam lalu menatap sebal ke arah Elia yang tertunduk. Jujur dia memang merasa kesal dan tidak menyetujui pernikahan ini sama sekali. Awalnya dia mengira bahwa Kakaknya hanya ingin menolongnya. Tapi tidak hadirnya Jhon saat menjemputnya di bandara, itu semua cukup membuktikan bahwa kakaknya memang memiliki perasaan yang spesial kepada Elia. Jehan membuang wajahnya untuk membelakangi tatapannya dari Elia. Jujur dia heran dengan kakak laki-lakinya. Pasti banyak wanita cantik yang seperti Elia dan single. Tapi kenapa harus menikahi Elia yang hamil, apalagi Elia adalah mantan istrinya Hendrick. Laki-laki dari keluarga Dargo yang sombong dan sok kaya itu.


" Aku kan mengatakan yang sebenarnya. " Ujar Jehan cuek dan terkesan tak perduli bagaimana perasaan Elia saat ini.


" Elia adalah istrinya Jhon. Sudah pasti Elia menjadi menantu Ibu dan Ive adalah cucu Ibu. "


" Kenapa Ibu begitu baik? Ibu lupa? wanita ini adalah bekasnya Hendrick Dargo! apa Ibu lupa? bagaimana Dargo sialan itu menghancurkan kita? Dargo itu, "


" Jehan cukup! " Bentak Ibu yang tidak mau lagi mengingat luka masa lalu yang sudah susah payah ia relakan sebagai kenangan.


" Ibu, sudah Ibu. Lebih baik Ibu istirahat. Biarkan saja pelayan yang membereskannya. " Elia mengusap lengan Ibu mertuanya dan meminta Yana untuk menggendong Ive.


Setelah Ibu Sofia dan Yana pergi, hanya tinggal Jehan dan Elia di sana.

__ADS_1


" Jehan, bisa kita bicara? " Ajak Elia dengan nada yang begitu lembut.


Jehan memang sempat menghela nafas seolah dia kesal. Tapi anehnya dia malah duduk di kursi taman seolah dia mengiyakan. Elia tersenyum lalu mengambil posisi untuk duduk di samping Jehan.


" Jehan, aku tahu kau sulit untuk menerima kenyataan yang aneh ini. Tapi, aku sendiri tidak bisa memilih takdir ku. Begitu juga dengan Jhon, Ibu, kau, bahkan putriku Ive. Jika aku boleh memilih takdir, maka aku hanya ingin memilih Jhon sebagai satu-satunya pria di hidup ku. Tapi mau bagaimana lagi? nyatanya takdir mempertemukan aku dan Jhon melalui Hendrick. "


" Apa tujuan mu yang sebenarnya? "


Elia tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Jehan.


" Hidup bahagia bersama Jhon dan kalian semua. Jehan, entah kau akan mempercayaiku atau tidak, tapi aku benar-benar tidak memiliki maksud buruk. Aku hanya ingin bersama Jhon sampai akhir hidup ku. "


Jehan mengeryit lalu menatap manik mata Elia. Cukup lama Jehan menatap manik mata mencari kebenaran dari semua ucapan Elia. Jehan langsung memalingkan wajah saat mengetahui jika apa yang dikatakan Elia itu benar adanya.


" Kenapa kau dan Hendrick berpisah? "


" Hendrick berselingkuh dengan anak dari orang yang sudah mengadopsi ku."


Jehan terperangah tidak percaya. Dia benar-benar heran dengan cara berpikir keluarga Dargo yang masih belum berubah dari waktu ke waktu.


" Bagaimana rasanya menjadi menantu di keluarga Dargo? "


Deg....


Entah mengapa, mendengar pertanyaan Jehan kali ini benar-benar membuat dadanya berdenyut nyeri. Rasanya semua luka yang di berikan Dargo kembali terasa di sekujur tubuhnya. Mulai dari tatapan tajam mereka, makian dan dan direndahkan setiap hari, penghianatan, tuduhan dan keraguan atas identitas Ive. Semua seolah menyusup masuk ke otaknya dan mentransfer luka di hatinya. Mungkin inilah alasan Jhon dan Ibu Sofia masih enggan untuk membeberkan tentang masa lalunya, terutama tentang kehidupan saat bersama Dargo. Tak terasa tangan serta tubuh Elia gemetar karena ingatan-ingatan masa lalu itu kembali menyayat bekas lukanya.


Jehan yang menyadari jika Elia gemetar saat mendengar pertanyaannya, Jehan menjadi merasa bersalah. Dia kini tahu bahwa kehidupannya di dalam keluarga Dargo pastilah sangat menyakitkan. Dia tahu benar bagaimana cara Dargo berbicara dan menyelesaikan masalah. Dia kan memaki dan mengolok-olok kekurangan dari orang lain. Jehan meraih tangan Elia dan menggenggamnya.

__ADS_1


" Maaf, lupakan saja dan jangan mengingat itu lagi. "


Elia menatap Jehan yang kini tersenyum menatapnya. Jujur dia masih merasa tida percaya. Elia kembali melihat tangan Jehan yang masih menggenggam tangannya dengan senyuman yang terlihat begitu tulus.


" Terimakasih, Jehan. " Ucap Elia yang kini mulai menyangga air mata harunya.


" Kenapa kau menangis? kan aku sudah bilang, jangan mengingatnya. "


Elia menggeleng lalu memeluk Jehan erat. Dia begitu bahagia karena setidaknya Jehan tidaklah seperti Siska. Adik kandung Hendrick yang selalu saja memusuhinya dimanapun dia berada. Siska juga tak segan-segan mempermalukan dirinya di depan sahabat-sahabat sosialitanya.


" Terimakasih karena kau mau mengerti ku. "


Jehan menghela nafas tapi juga tak berniat menjauhkan tubuhnya dari Elia.


" Apa kau tidak bosan? kita hanya mengobrol tapi kau sudah berterimakasih sebanyak dua kali. Apa saat bersama kakak ku kau juga terus mengucapkan terimakasih? "


Elia terkekeh laku mengurai pelukannya.


" Dia sama seperti mu, Jehan. Dia akan terlihat sebal saat aku mengucapkan terimakasih. Dia juga selalu mengatakan kalimat yang sama seperti mu. "


Jehan tersenyum lalu menggeleng heran.


Pantas saja kakak ku menyukai mu dan menikahi mu. Kau begitu baik dan polos sekali rupanya. Aku benar-benar heran dengan keluarga Dargo. Kenapa dia menyia-nyiakan menantu seperti Elia? atau yang berselingkuh dengan Hendrick itu orang kaya? aku rasa memang begitu.


" Jehan, bagaimana kalau kita masuk kedalam? sepertinya langit mulai mendung. " Jehan dan Elia kompak menatap ke langit yang memang sangat mendung. Jehan dan Elia berjalan masuk kedalam rumah sembari mengobrol akrab. Tetu saja Ibu Sofia melihat semua itu dan tersenyum bahagia.


TBC

__ADS_1


__ADS_2