
Pagi yang cerah, secerah hati para penghuni rumah. Setelah mendengar kabar kehamilan Elia, Ibu Sofia, Jehan, Yana dan para pekerja rumah juga mengucap syukur dengan perasaan bahagia. Apalagi Ibu Sofia, ini adalah cucu kedua yang akan segera lahir. Apalagi, ini adalah anak kandung dari putranya, tentulah dia merasa sangat bahagia.
Setelah sarapan pagi, ada sedikit drama yang membuat Jhon harus mengulur waktu untuk ke kantor. Ive entah mengapa tib-tiba menjadi sangat cengeng dan tidak mau pisah dari Ayahnya. Padahal, sebelumnya Ive adalah anak yang penurut, saat Jhon meminta izin untuk bekerja, gadis kecil itu akan mengangguk setelah menerima kecupan dari Jhon. Sayang, hari ini dia benar-benar tida mau berpisah barang sebentar. Bahkan, semalam Jhon terus memeluk Ive karena dia sama sekali tidak mengizinkan Jhon kemana pun.
" Ive, princess nya Ayah, pagi ini Ayah harus metting sayang. Bisa izinkan Ayah pergi bekerja? "
" Tidak mau! " Ive kembali menjerit histeris dan memeluk erat leher Jhon. Entahlah, gadis itu seperti merasa akan ditinggalkan oleh Jhon jauh.
" Sayang, ayo kita bermain. " Ajak Elia sembari merentangkan tangan ingin mengambil Ive dari gendongan Jhon. Tapi dengan sigap, Jhon menahan tangan Elia dan menggeleng. Tentu saja Elia sudah paham apa maksudnya.
" Bagaimana kalau main bersama Nenek, Bibi dan siter Yana? kita main petak umpet saja ya? "
" Tidak mau! " Ive kini malah semakin erat memeluk Jhon.
" Selamat pagi, semuanya. " Sapa Ken yang terpaksa harus masuk kedalam rumah. Sedari tadi dia menunggu di di depan sembari menghubungi ponsel Tuannya tapi tidak mendapat jawaban.
" Pagi Ken. " Jawab Jhon sembari mengusap punggung Ive agar berhenti menangis. Sementara Jehan yang berada di dekat Ken tiba-tiba menjadi kaget dengan pipi yang merona.
" Ken, bisa handle meeting pagi ini? "
" Maaf, Tuan. Sebenarnya saya ingin membantu, tapi sepertinya tidak bisa. Mereka adalah investor terbesar proyek kita yang sedang kita jalankan. Saya takut mereka berpikir, kalau mereka tidak penting, Tuan. "
Jhon menghela nafas kasarnya. Sungguh dia tidak tega meninggalkan Ive dalam keadaan seperti ini. Tapi jika tidak hadir pada meeting penting pagi ini juga tidak akan baik untuk kelangsungan proyeknya.
" Ajak saja Nona kecil, Tuan. Saya akan membantu menjaga nya. "
Jhon mengeryitkan dahinya.
" Kau tahu kalau dunia bisnis itu gila kan? akan berbahaya jika orang tahu Ibe adalah putriku. "
Ken tersenyum menatap Jhon.
" Tuan, apa anda meragukan kemampuan saya? "
Jhon terdiam sesaat. Benar, kenapa dia harus takut? Ken adalah orang yang bisa dipercaya dalam hal apapun. Apalagi mengenai keamanan keluarga Damien yang sudah ia perketat semenjak kejadian Hendrick dahulu.
" Baiklah. " Ujar Jhon.
__ADS_1
" Kau yakin? " Tanya Elia yang tentu saja merasa aneh. Ini adalah meeting penting, dan Jhon akan datang membawa anak? oh, apakah itu pernah terjadi pada Presdir perusahaan lain?
" Tentu saja. Lagi pula meeting nya di kantor. Ive pasti akan baik-baik saja. " Ucap Jhon yang merasa jika Elia mengkhawatirkan putrinya saja.
" Bukan itu masalahnya, tapi coba saja kau pikir, kau adalah presdir, dan kau datang bekerja sembari menggendong putri mu? apa yang akan dibicarakan pegawai mu nanti? "
Jhon tersenyum lalu mengacak rambut Elia. Sungguh dia sangat gemas dengan mulut istrinya yang semakin hari semakin cerewet itu.
" Kenapa harus memikirkan pendapat orang lain? "
Sudahlah, ini sudah pertanda kalau Jhon tidak akan bisa dicegah. Biarlah saja, suka-suka dia mau membawa Ive kemana. Batin Elia yang tidak mau pusing lagi memikirkan itu.
Jhon dan Ken akhirnya pamit karena waktu juga sudah semakin sempit. Gak sengaja tatapan Jehan dan Ken bertemu. Sungguh, Jehan tidak bisa menahannya dan berpura-pura membuang muka. Padahal, Ken baru saja ingin tersenyum.
Nona Jehan kenapa? bukanya Tuan Jhon bilang kalau Nona Jehan setuju? apa dia berubah pikiran?
Elia yang melihat tingkah Jehan malu-malu begitu jadi tidak bisa menahan tawanya. Sungguh, itu mengingatkannya kepada Jhon saat baru-baru menikah.
" Kenapa kakak ipar tertawa? " Tanya Jehan yang terlihat sebal karena ditertawakan.
***
" Tuan, sepertinya anda akan kedatangan tamu tidak diundang nanti. "
" Siapa? "
" Dargo. "
Jhon tersenyum miring.
" Entah sampai kapan dia akan banyak bertingkah, tapi bagus juga di datang kepadaku. Apa semuanya sudah siap? "
" Sudah, Tuan. Rendra juga sudah siap seratus persen. "
" Baiklah, tuntaskan besok malam. "
" Baik, Tuan. "
__ADS_1
" Jhon. Panggil aku Jhon mulai sekarang. Aku sudah muak mendengar mu memanggil ku Tuan terus menerus. "
" Tapi, itu tidak sopan, Tuan. "
" Baiklah, panggil saja kakak ipar. "
Entah mengapa, jantung Ken kini berdebar. Sungguh, dia tidak tahu alasannya.
" Tapi, "
" Kau banyak membantah ya Ken. " Ujar Jhon yang tentu saja sudah mulai malas berdebat untuk hal sepele begini.
" Baik, kakak ipar. "
Itupun kalau Nona Jehan tidak berubah pikiran ya, Tuan.
" Bagus. "
Sesampainya di perusahaan, Jhon turun sembari menggendong Ive yang terlihat begitu bahagia melihat banyak orang. Jhon jadi tidak bisa menahan senyumnya saat Ive tersenyum bahagia. Maklum saja, Jhon memang jarang sekali membolehkan Elia dan Ive keluar dari rumah jika tidak bersamanya. Sedangkan dia lebih sering sibuk di kantor dari pada mengajak Ive dan Elia keluar.
" Ive, kau senang? " Tanya Jhon lalu mengecup pipi Ive.
" Iya, Ayah. " Senyum manis Ive benar-benar tidak luntur dari bibirnya. Jhon begitu bahagia melihat putrinya bisa tersenyum seperti itu hingga tidak memperdulikan tatapan penuh tanya para pegawai yang melihatnya menggendong seorang anak perempuan yang sangat cantik.
" Ayah janji, Ayah akan sering mengajak mu dan Ibu bermain di luar ya? " Ive hanya mengangguk dengan bibir yang masih saja tersenyum.
Memang iya, tatapan para pegawai begitu heran karena Presdir mereka mengendong anak. Apalagi saat beberapa dari mereka mendengar percakapan Ive dan Jhon yang sudah pasti adalah hubungan Ayah dan anak. Mereka benar-benar tidak percaya dengan apa yang mereka lihat hari ini. Padahal tidak diketahui kapan Presdirnya menikah. Tapi dibanding memikirkan itu, tatapan mereka juga begitu kagum melihat wajah Ive yang begitu cantik hingga mereka langsung berbisik mengagumi wajah nya.
Setelah sampai di ruangannya, Tamu penting yang sudah memiliki jadwal temu akhirnya datang. Selayaknya hubungan kerja sama, tentulah mereka hanya membicarakan tentang perkembangan proyek dan apa saja yang harus di bicarakan. Selain merasa beruntung bisa bekerja sama dengan perusahaan Damien, hari ini mereka melihat sosok lain di balik wajah angkuh nan arogan yang tak lain adalah Jhon. Mereka benar-benar merasa kagum dengan sikap Jhon yang begitu lembut kepada Putrinya. Dan tak ketinggalan, Ive selalu mendapat pujian dimana pun dia berada.
" Nona kecil, anda beruntung sekali memiliki wajah yang begitu cantik ya? semua orang selalu kagum dengan wajah ini. " Ken mengusap pipi Ive pelan.
" Kira-kira, dengan siapa Nona kecil akan menikah nantinya? "
" Ken, jangan gila! Ive baru dua tahun, dan kau sudah memikirkan pernikahannya? "
TBC
__ADS_1